Fitur Bisnis di Instagram: Pengguna Belum Aman dari Penipuan?

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 8 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Media sosial seperti Instagram mampu mendorong maksimalnya potensi ekonomi usaha kecil dan menengah (UKM). Namun, tak semuanya terlihat indah bak pelangi.
tirto.id - Anak muda mana yang tak mengenal Instagram? Platform media sosial ini tumbuh besar khususnya karena generasi muda. Belakangan Instagram tak hanya berkembang sebagai media sosial biasa, tapi juga wahana bisnis.

Menurut data yang dirilis Instagram, salah satu tren tanda tagar yang paling tinggi perkembangannya di Indonesia pada 2018 adalah #bisnisanakmuda. Ini setidaknya menandakan bahwa Instagram populer di kalangan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia terutama generasi muda.

“Indonesia ini adalah negara Instagram ... karena kita ini salah satu negara yang user base-nya Instagramnya itu paling besar,” sebut Country Director Facebook Indonesia Sri Widowati kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/3). Faktor yang paling menentukan mengapa Instagram menarik buat orang Indonesia, klaim Widowati, adalah fitur media sosial ini yang sangat menonjolkan interaksi visual.

Dalam survei pada 2018 oleh Ipsos berdasarkan penugasan dari Instagram, sebesar 82 persen entrepreneur muda berumur 35 tahun ke bawah di Indonesia sangat setuju Instagram telah membantu mencapai target bisnis mereka.

Sebanyak 74 persen pebisnis muda juga sangat setuju bahwa bisnis mereka telah berkembang pesat berkat akun Instagram dan sebesar 63 persen menyatakan bahwa Pengusaha muda sangat setuju bahwa Instagram membantu peluncuran dan kesuksesan usaha baru.

Studi Ipsos dilakukan dengan proses wawancara online dari 21 Agustus hingga 6 September 2018. Sampelnya berupa 3.012 pengguna Instagram berusia 13 tahun ke atas serta 502 pengguna profil bisnis Instagram dari sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia. Di dalam sampel UKM, Ipsos mewawancarai 102 pendiri/pemilik UKM.

Mengingat sebanyak 81 persen akun pengguna asal Indonesia mengikuti akun-akun bisnis di Instagram, perusahaan pun tak tinggal diam. Dalam dua tahun terakhir, media sosial milik Facebook ini sangat gencar mengembangkan sejumlah fitur yang mempermudah orang untuk mengembangkan bisnis mereka.

Widowati mengatakan terdapat sejumlah fitur baru bagi para pengelola bisnis di Instagram di Indonesia, salah satunya adalah Shopping. Shopping ini akan memberikan kemampuan untuk bisa tahu berapa sih harga dari produk,” jelasnya kepada para wartawan di Jakarta.


Fitur Shopping sudah diluncurkan secara luas sejak Febuari 2017 dan mulai dikembangkan pada laman Explore dan Stories secara global pada September 2018. Selain itu, Instagram juga akan meluncurkan sistem pesan langsung (Direct Message) yang baru kepada para pengguna akun bisnis, termasuk sistem quick reply.

Terakhir, akan tersedia juga fitur reservasi yang akan muncul pada halaman utama akun bisnis. “Bisa book sesuatu atau bisa order sesuatu dan itu bisa langsung, jadi ada action button yang bisa membantu para pengguna Instagram untuk bisa langsung melakukan transaksi atau memulai transaksi di platform tersebut,” jelas Widowati.

Sayangnya, belum semua para pengguna akun bisnis dapat merasakan fitur ini. Peluncurannya di Indonesia akan dilakukan secara bertahap. Widowati mengklaim semua fitur itu akan bisa diakses tahun ini. “Cuma tinggal tunggu harinya aja supaya kita bisa roll out ke seluruh pengguna di Indonesia,” sebut Widowati.

Potensi yang Menjanjikan

Tokopedia dan Wardah adalah beberapa perusahaan yang merasakan manfaat sejumlah fitur yang ditawarkan Instagram.

Dalam kesempatan yang sama kepala divisi media sosial Tokopedia Maritsen Darvita mengatakan program promosi “KEBUT” yang dicanangkan Tokopedia merupakan salah satu contoh manfaat Instagram dalam membantu meningkatkan angka penjualan.

Dengan memanfaatkan seluruh fitur di Instagram, termasuk fitur Shopping, Live, dan Explore secara bersamaan, Maritsen mengklaim bahwa melalui program “KEBUT” Tokopedia berhasil meningkatkan views dan engagement pada akun mereka, yang kemudian berujung pada peningkatan penjualan. “Sales juga meningkat,” jelasnya kendati tidak menyebut persis angkanya.

Manajer media sosial Wardah Dobita Amanda mengungkapkan hal senada. Ia mengatakan melalui program kampanye yang tepat, perusahannya mampu membantu penjualan, khususnya produk baru Wardah, InstaPerfect. Amanda mengklaim produk InstaPerfect langsung terjual habis pada hari pertama peluncuran.

“Ini karena dahsyatnya Instagram juga sih sebenarnya, karena kan kita selalu post di Instagram ... Kita memang tidak ada platform lain selain Instagram,” jelasnya.


Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) berjudul “Rich-Interactive-Applications (RIA) in Indonesia” (2018), penggunaan Instagram berkorelasi positif dengan perkembangan industri pariwisata di Indonesia.

Salah satu contoh yang diangkat dari laporan tersebut adalah CV Persada Nusantara Utama atau “Piknik Nusantara”, perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan travel yang kini melakukan lebih dari 20 perjalanan tiap bulannya. Ketika laporan itu ditulis, akun tersebut memiliki 48.000 pengikut di Instagram. Namun perlu dicatat, perusahaan ini juga menggunakan sejumlah media sosial lainnya, seperti WhatsApp, Facebook Messenger, dan Line.

Satu yang menjadi catatan, konten yang diunggah haruslah kreatif dan tidak melulu menggunakan metode direct selling. Dilansir Tech in Asia, Senior Marketing Communication and PR Manager Blibli Lani Rahayu mengatakan bahwa semakin banyak konten yang menarik minat pelanggan, semakin positif reaksi pelanggan.

Keamanan yang Mengancam

Sayangnya, di balik besarnya potensi pemanfaatan Instagram keamanan transaksi bagi konsumen masih jadi kendala. Konsumen tak jarang kena tipu.

Dimmas Cahya Tri Nagari (30 tahun) adalah salah satu yang merasakannya. Ia dan istrinya baru-baru ini menjadi korban penipuan sebuah akun penjual bed cover bernama @butik.sprei_mylove.

Karena alogaritma Instagram mendeteksi istrinya sedang mencari sprei, Instagram pun merekomendasikan akun tersebut. Pasangan yang tinggal di Bali ini tertarik pada diskon yang ditawarkan oleh akun tersebut.

Setelah melakukan tawar menawar di WhatsApp, pembicaraan berujung pada transaksi pembelian. Dimmas dan istrinya membeli sejumlah spresi seharga Rp1.180.000. Namun, begitu uang tersebut sudah ditransfer, akun tersebut berhenti merespons. Akun Instagram dan WhatsApp Dimmas dan istrinya juga diblok. “Ditelpon tidak bisa, di WA menggunakan nomer baru juga tidak bisa,” katanya kepada Tirto.

Menurut Dimmas, akun itu sudah berganti nama beberapa kali. Kolom komentarnya pun dimatikan. Salah satunya karena istrinya sempat memberikan komentar pada akun tersebut terkait penipuan sebelum akun mereka diblok. “Ada yang hampir tertipu namun melihat komentar istri [calon pembeli itu] tidak jadi beli,” jelasnya.

Ia mengaku pada saat itu tidak tahu cara melaporkan akun pada Instagram. Pun ketika sudah diketahui, ia tidak dapat lapor karena akun Instagram mereka telah diblok oleh akun si penipu.



Infografik Bisnis di Instagram
Infografik Bisnis di Instagram



Menanggapi kasus penipuan, Widowati mengatakan Instagram dan Facebook telah melakukan sejumlah langkah penyaringan. “Kalau mesin kita menemukan hal yang tidak sesuai atau palsu itu biasanya secara langsung diturunkan dan kita juga punya cara mendeteksi barang-barang apa yang palsu dan yang tidak,” jelasnya.

Namun, ia juga meminta para pengguna Instagram untuk turut aktif melaporkan “hal-hal palsu” yang beredar dalam platform mereka.

“Kalau kita tidak bisa menjaga pengalaman dari pengguna itu dengan aman dan baik, orang-orang bakal lari dari platform kita,” sebut Widowati. “Jadi merupakan kewajiban kita untuk menjaga agar, misalnya, mereka melakukan pembelian, pembelian tersebut bukan pembelian palsu.”

Instagram Communciations Manager Asia Pacific, Putri Silalahi, menambahkan bahwa itulah sebab mengapa Instagram meluncurkan fitur-fitur baru yang menunjang bisnis secara bertahap. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengalaman para pengguna yang memiliki “integritas”.

Meski demikian, Putri tidak menampik bahwa pihaknya tidak 100 persen yakin terhadap langkah pengamanan yang mereka miliki saat ini sehingga Instagram juga memerlukan bantuan pengguna.

“Pada akhirnya Instagram itu adalah media sosial, user generated content, dan tiap menit ada milyaran yang di-post ke Instagram,” sebutnya. “Tidak mungkin kita taruh milyaran orang untuk lihat konten satu persatu. Itu bukan esensinya Instagram sebagai media sosial.”

Ia menambahkan, selain teknologi machine learning, Instagram juga memiliki sejumlah tim review untuk melihat konten yang ada. Hingga kini, lanjut Putri, Instagram juga melibatkan pihak ketiga seperti universitas hingga asosiasi untuk mengatasi permasalahan ini.

Menurut laporan The Verge pada 2018 lalu, Instagram saat ini tengah mengembangkan aplikasi khusus untuk kegiatan belanja. Namun, belum dapat dipastikan kapan aplikasi itu akan diluncurkan.

Baca juga artikel terkait INSTAGRAM atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf