Misbar

Final Destination 1-5 adalah Koran Lampu Hijau Berbahasa Inggris

Poster film Final Destination. FOTO/IMDB
Oleh: Irma Garnesia - 21 September 2020
Dibaca Normal 5 menit
Kok bisa Final Destination 1-5 memperlakukan tubuh manusia kayak semangka yang gampang benyek ketika ketiban benda tumpul?
Sebelum kita kembali membahas film-film berkategori so-bad-it's good dari awal milenium, ada baiknya mengingat satu pepatah bijak dari seorang kawan yang luar biasa berguna untuk bertahan hidup pada 2020 ini:

"Irma, saudariku, hidup itu berputar seperti roda. Kadang di bawah. Kadang di bawah banget."

Tapi rupanya pepatah itu tak hanya berlaku untuk 2020--tahun penuh bencana, penyakit, kerusuhan, kekerasan politik, resesi dan tanda-tanda kiamat lainnya--tapi juga untuk keseluruhan film Final Destination. Satu sampai lima.

Setelah melahap habis Final Destination, saya jadi lebih awas dalam kehidupan sehari-hari sejak bangun tidur. Saya bisa mati sia-sia karena kabel charger laptop. Kalaupun selamat, masih ada lotion anti-nyamuk, bunga telang, minyak tawon, mesin tenun, kartu gaple, buku-buku terlarang, kaset ngak-ngik-ngok, atau biji karambol yang akan berkonspirasi membunuh saya. Oh Tuhan, bahkan saya juga bisa mati karena depresi berat membayangkan saya akan mati.

Seri horor pertama Final Destination rilis pada tahun 2000 dan dibuka dengan sekuens tentang sekelompok murid SMA asal Amerika Serikat yang akan berangkat ke Paris untuk berdarmawisata. Namun, sebelum lepas landas, salah satu murid bernama Alex Browning (Devon Sawa) terlelap dan menerima wangsit (atau "vision" dalam bahasa Jakselnya) bahwa pesawat itu akan meledak dan menewaskan seluruh penumpang termasuk teman-temannya.

Awalnya Alex mengira itu cuma mimpi biasa. Namun, ia mulai panik ketika hal-hal kecil dalam wangsit jadi kenyataan hanya beberapa menit setelah ia terjaga. Misalnya, ia didatangi dua cewek yang ingin bertukar tukar tempat duduk. Meja lipat di kursinya tiba-tiba rusak, seperti dalam mimpi. Ia sontak tantrum tak karuan. “Pesawat ini akan meledak!” teriaknya.

Kawan-kawan Alex marah dan menudingnya macam-macam. Para pramugari pun mengusir Alex dan beberapa temannya dari pesawat karena telah membuat keributan.

Namun, tak perlu waktu lama untuk membuktikan kecemasan sang cowok berambut Tintin--sebuah tren akhir 1990-an. Pesawat Volée Airlines Flight 180 meledak tak lama setelah lepas landas.

Alex dan beberapa temannya selamat. Tapi, teror justru baru dimulai. Seperti yang disampaikan William Bludworth--petugas jenazah misterius yang selalu muncul di tiap Final Destination tapi tak jelas asal-muasalnya--para penyintas kecelakaan ini mustahil menghindari kematian. Menurut Bludworth, mereka seharusnya mati dalam kecelakaan pesawat. Namun, karena mereka selamat, maut mencari cara lain untuk menjemput. Jadilah satu per satu dari mereka mati dengan gaya gantung diri bathub, tertusuk belasan pisau dapur, kepala putus karena lempengan logam yang nyasar terinjak kereta api, tertabrak truk, dan kerubuhan plang toko.

Spoiler: tentu saja ini film Amerika. Jangan harap ABG-ABG bau matahari ini mati karena busung lapar, dipersekusi ormas, dianiaya aparat, atau karena ketololan menteri kesehatan.

Formula menyuguhkan kematian yang ganjil dan berdarah-darah terus diulang di Final Destination 2 hingga Final Destination 5 yang rilis pada 2011. Ada remaja yang kualat akibat selamat dari kecelakaan di jalan tol (Final Destination 2), roller coaster rusak dan mencelakai rombongan ABG (Final Destination 3), kecelakaan di arena balap mobil (Final Destination 4), hingga jembatan layang yang tiba-tiba putus (Final Destination 5).

Film ini juga terus menyuguhkan sosok yang percaya pada si penerima wangsit yang terlanjur dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya. Di film pertama, sosok semacam itu bisa kita temukan pada mbak-mbak artsy bernama Clear Rivers (yang suka saya sebut "Mbak Kali Bening", literally dan figuratively). Lalu ada mas-mas polisi (Thomas Burke) yang terlalu ganteng untuk ukuran polisi di film kedua, teman sekolahan (Ryan Merriman) di film ketiga, college sweet heart (Mbak Lori Milligan) di film keempat, dan Blake Lively KW II (Molly Harper) di seri kelima.

Tapi ada pula mereka yang cuek terhadap peringatan yang diberikan si penerima wangsit, sehingga kematian langsung menjemput. Hal seperti ini lebih wajar ketimbang pakem film-film horor remaja Paman Sam: barang siapa tak disiplin ketika menghadapi situasi teror, dan malah mojok supaya bisa ena-ena, niscaya akan mati duluan.

William Bludworth--legenda hidup Candyman--selalu memperingatkan remaja-remaja itu bahwa maut tak bisa dibodohi. Ia kembali hadir di Final Destination 2 dan Final Destination 5 untuk memberi petuah seperti “kematian hanya dapat ditukar dengan kehidupan baru” atau “kematian dapat ditukar dengan nyawa orang lain”.

Ya Allah, kata-kata bijak orang ini betul-betul mirip akun @mariorapuh versi offline.

Tapi "Wit and Wisdom of William Bludworth" ternyata lebih rumit dari kedengarannya--dan terbukti benar. Maut senantiasa mencari celah sehingga kamu mustahil selamat--sebuah alasan untuk plot twist dan sekuel-sekuel baru.

Dalam Final Destination 2, misalnya, ibu-ibu hamil tua yang dikira bakal mati rupanya bukan bagian dari serombongan korban selamat kecelakaan di tol--padahal geng penyintas maut pimpinan Mbak Kali Bening sudah berusaha keras menyelamatkannya. Lalu, pekerja pabrik yang tewas di Final Destination 5 rupanya juga tak memberi kehidupan baru kepada Nathan yang tak sengaja membunuhnya.

Final Destination 1 merencanakan kematian tiap karakternya dengan luar biasa detail. Orang bisa mati karena kopi panas, gunting, peralatan dapur, kail pancing, dan benda-benda goblok lainnya. Anda bisa lolos? Tenang, malaikat maut sudah ditakdirkan untuk terus kejar setoran.


Sayang, detail-detail yang dirancang dalam empat sekuel berikutnya malah membikin seri Final Destination seperti lelucon tentang dirinya sendiri. Adegan tewas umumnya dibuka dengan jendela yang tiba-tiba tertutup, angin yang membuat benda-benda bergerak dan membahayakan, air yang tumpah dan mengalirkan aliran listrik, dan berbagai keanehan lainnya. Klise, tapi mungkin begitulah maut mengetuk pintu rumah para remaja Amerika sejak tahun 2000 hingga 2011.

Coba bayangkan, betapa ngerinya tumbuh dewasa di Amerika dan dikejar-kejar maut setiap saat. Well, setidaknya inilah rumus paling umum dari genre "Dead Teenager Movies" alias "ABG Mokat". Contohnya banyak: Scream 1-4, Friday The 13th, Halloween, dan I Know What You Did Last Summer, I Still Know What You Did Last Summer, serta I'll Always Know What You Did Last Summer.

Adakah AMDAL di Amerika?

Karena tiap malaikat maut di Final Destination adalah mahluk ambi yang harus memenuhi kuota per hari, tak heran orang bisa mati kapan saja, di mana saja, dengan gaya bombastis.

Tapi kok ya bisa-bisanya Final Destination 1-5 memperlakukan tubuh manusia bak semangka yang gampang benyek ketika ketiban benda tumpul? Orang yang kepalanya putus di samping rel kereta di film pertama, misalnya, atau bocah yang tertimpa kaca hingga tubuhnya terlihat seperti diblender di film kedua, nampaknya adalah pengingkaran atas hukum-hukum fisika. Tapi, Final Destination sepertinya lebih berutang besar kepada koran Lampu Hijau ketimbang hukum-hukum fisika. Percaya atau tidak, adegan-adegan mautnya cocok belaka dengan headline koran yang dulu bernama Lampu Merah ini:

Final Destination 1: "Bocah Tantrum Batal Naik Pesawat. Pesawatnya Jatuh. Penumpang Ga Jadi KZL"

Final Destination 2: "Kabur dari RSJ, ABG Lokal Buru Izroil. Ya Mati Lah"

Final Destination 3: "Bule Rasis Kepingin Bales Dendam ke Satpam Stadion. Keseret Mobil Derek, Badannya Basah Gegara Bensin Bocor. Kebakar, Angus Luuur"

Final Destination 4: "Abis Mantap-Mantap, Terong-Terongan Cabul Nekat Ngambil Koin di Dasar Kolam Renang. Pantat Keisep Pompa, Isi Jeroan Terkuras Habis. Innalillahi Brou"

Final Destination 5: "Gelantungan 15 Tahun di Tiang, Atlet Gimnastik Akhirnya Jatuh dan Tewas. Inilah Bukti Negara Tidak Hadir"

Tapi, justru itulah yang dicari penonton dari seperti Final Destination. Film-film ini memang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tak perlu berpikir keras mengapa ABG-ABG labil Amerika gampang betul tewas. Final Destination 5 mendapat rating tertinggi di Rotten Tomatoes (63%) dibanding seri lainnya, terlepas dari adegan-adegan mautnya tak masuk akal. Seri pertama, yang menurut saya tak terlalu dibuat-buat, justru mendapat rating jelek, hanya 35%. Kedua film ini juga meraup keuntungan paling besar hingga lebih dari USD110 juta.

Namun, Final Destination mendulang puja-puji para warganet Rotten Tomatoes lantaran membawa konsep abstrak tentang maut yang menjadi pembunuh itu sendiri--berbeda dari kebanyakan horor/thriller yang menjual cerita pembunuhan ugal-ugalan yang dilakukan psikopat, mulai dari Psycho, Texas Chainsaw Massacre, Disturbia, hingga House of Wax.

Aha, mungkin Final Destination tak sepenuhnya bercerai dari kenyataan. Menurut CDC, kecelakaan adalah penyebab kematian terbanyak keempat di negara Paman Sam setelah penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, dan penyakit saluran pernapasan pada tahun 2000 hingga 2010-an. Dan tentu, dalam semesta Final Destination, kematian bisa datang di mana saja: ruang publik, taman hiburan, pasar malam, salon kecantikan, hingga tempat fitnes.



Saya menduga, sebagai negara kapitalis brutal, Amerika jangan-jangan tak punya kebijakan AMDAL untuk tiap bangunan yang didirikan sehingga gampang mencelakakan orang lewat. Bayangkan jika wacana Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) akhir 2019 lalu di Indonesia untuk menghapus IMB dan AMDAL demi meningkatkan investasi jadi diketok. Yang ada, Indonesia akan jadi lokasi Final Destination 6 yang sedang digarap. Coba bayangkan Devon Sawa yang berminat menggarap reboot seri ini tiba-tiba naik Adam Air ke Paris.

Mungkinkah Final Destination adalah kritik Marxis terselubung terhadap neoliberalisme ugal-ugalan Paman Sam, sebuah negara terbelakang yang terus dirundung konflik etnis, berjiwa anti-sains, dipimpin presiden fasis, dan masa bodoh dengan kesehatan warganya yang mayoritas hanya menguasai satu bahasa itu?

Satu-satunya yang membuat Final Destination tak ngeri-ngeri amat barangkali adalah mas-mas ganteng dan mbak-mbak cantik yang pikiran, ucapan, dan tindakannya sangat vanilla. Saking vanilla-nya, mereka semua membuat para pemeran film-film Nicholas Sparks terlihat seperti aktor watak di film-film Bertolucci.


Jenis karakter ini tak berubah dari seri pertama pada awal 2000-an hingga satu dekade kemudian. Coba perhatikan, Alex Browning dan Clear Rivers akan terasa seperti boy/girl next door dengan kesan mirip Jamie dan Landon dalam A Walk to Remember (2002). Ada pula aktris seperti Mary Elizabeth Winstead yang berpenampilan seperti mbak-mbak vanilla era 2000-an awal, Miles Fisher alias Tom Cruise KW II (spoiler: beliau pernah memparodikan Tom Cruise di dunia nyata), atau Emma Bell yang penampilannya seperti Blake Lively edisi replika.

Final Destination 1-5 adalah tayangan yang cocok untuk 2020: saking suramnya dunia hari ini, yang biasa-biasa saja alias tawar alias vanilla jadi cukup menggembirakan.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight