Al-Ilmu Nuurun

Filsafat Ahmad Milad Karimi Melawan Gerakan Anti-Islam di Jerman

Ahmad Milad Karimi. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 26 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Ahmad Milad Karimi mendorong integrasi kaum muslim di Eropa. Menerjemahkan Al-Qur'an secara puitis dalam bahasa Jerman.
Keberuntungan tak datang dengan mulus. Manusia melewati berbagai rangkaian peristiwa, ada malapetaka yang mustahil dihindari. Sementara malaikat sejarah awas, matanya menatap, mulutnya menganga, sayapnya mengepak terbuka. Wajahnya mengarah ke masa lalu, menyaksikan rentetan sejarah manusia. Ingin ia memulihkan apa yang hancur. Tapi tatkala badai berhembus dari Firdaus, sayapnya terperangkap dengan kekerasan hingga ia tak bisa menutupnya. Badai mendorongnya ke masa depan. Badai ini dinamakan kemajuan.

Melalui pengandaian itu, Walter Benjamin ingin menyebut bahwa malapetaka merupakan rangkaian sejarah. Malapetaka ialah kemajuan dan kemajuan ialah malapetaka. Sebab itu, konsep kemajuan harus didasarkan pada ide malapetaka.

Pemikir muslim Jerman, Ahmad Milad Karimi, menggunakan tamsil Benjamin untuk mengungkapkan para pengungsi seperti dirinya yang tertimpa musibah lalu harus mencari suaka. Baginya, tidak ada Eropa kecuali para pengungsi. Eropa seolah-olah tak terhindarkan dari rangkaian malapetaka, justru untuk kemajuan.

Lahir di Kabul pada 1979, Karimi beserta keluarganya lari dari perang Afganistan pada 1992. Lebih dari setahun mereka ada di tangan penyelundup hingga berhasil menuju New Delhi dan Moskow, lalu tiba di Jerman.

Autobiografinya, Osama bin Laden schläft bei den Fischen (Osama bin Laden Tidur bersama Ikannya, 2015), merangkum perjalanan hidupnya yang seakan-akan terperangkap dalam dua kutub yang tak pernah akur: budaya populer Barat dan sejarah intelektual Islam, penerjemahan Al-Qur'an dan penulisan Hegel, kegemaran menonton film mafia dan mistisisme Persia, masa kecil di kalangan atas Afganistan dan pengungsi ilegal, pencari suaka di sebuah kota di Jerman dan profesor di salah satu kampus keren. Karimi menggenggam keduanya.

Kontradiksi itu barangkali mengingatkannya pada malapetaka dan rangkaian sejarah menuju kemajuan. Tak banyak warga Jerman dengan latar belakang pengungsi yang jatuh cinta pada filsafat Jerman. Karimi belajar filsafat, matematika, dan studi Islam di Universitas Albert Ludwig di Freiburg dan Universitas Delhi. Ia memperoleh doktor di Freiburg dengan disertasi tentang Hegel dan Heidegger. Sejak 2012 ia menjadi profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat Islam, dan sufisme di Zentrum für Islamische Theologie (ZITh) di Universitas Münster.

Karimi beruntung. Ia menjadi salah satu tulang punggung dan masa depan ZITh yang dibentuk sejak 2000-an awal di seluruh Jerman sebagai inisiatif untuk mendirikan sejenis Institut Agama Islam Negeri versi Jerman. Berbeda dari Islamwissenschaft (kajian Islam) yang dulu masuk ke dalam wilayah Orientalistik (kajian ketimuran) dan lebih menekankan sejarah dan filologi, ZITh bertujuan sebagai lembaga pendidikan teologi dan keagamaan khusus untuk mengkader pemimpin muslim di negeri itu.


Karimi disebut sebagai salah satu prägenden Köpfe des Islam in Deutschland (pikiran formatif Islam di Jerman). Pemerintah Jerman memang ingin agar integrasi budaya Jerman ini berjalan baik. Sebagaimana filsuf dengan latar belakang Yahudi dan Kristen muncul pada abad lalu, bayangkan jika satu hingga dua generasi mendatang filsuf muslim khas Jerman pun bermekaran. ZITh menjadi candradimuka bagi Karimi untuk terus aktif, menulis, dan bersuara lantang, ketimbang berkarier melalui departemen filsafat umum.

Media online Qantara menyebut Karimi sebagai salah filsuf agama paling aktif di Jerman. Deretan sebutan lainnya banyak. Selain memperoleh Rumi Prize for Islamic Studies pada 2015, Universitas Potsdam juga memberikan Voltaire Prize for Tolerance, International Understanding and Respect for Differences kepadanya pada tahun lalu.

Al-Qur'an yang Sastrawi

Dalam usia muda, produktivitasnya mengalir deras. Ia memiliki bakat di atas rata-rata dalam menggabungkan antara keahlian sastra dan kemampuan prosa, juga sebagai pengajar di kampus dan intelektual publik. Ketika menulis disertasi mengenai filsafat Jerman, ia sudah memulai terjemahan puitis Al-Qur’an yang terbit sebagai Die Blumen des Koran; oder: Gottes Poesie. Ein Lesebuch.

Ia setia untuk mendekati makna asli dari kitab suci dengan menekankan aspek puitis. Baginya, “Selain setia pada keakuratan filologis, atmosfir estetik dari lagu Al-Qur’an juga menjadi fokus utama.” Ia menjelaskan bahwa pengalaman puitis-estetis menentukan religiusitas umat muslim secara mendasar.

Karya terjemahannya bisa dilantunkan secara ritmis dan melodis mengikuti irama napas: Al-Qur'an adalah puisi Tuhan. Ia ingin menyampaikan kepada pembaca gagasan Al-Qur’an sebagai karya seni yang terbuka, estetis, dan puitis untuk mengimbangi penerimaan teologis Al-Qur’an yang sering dilepaskan dari fungsi keindahannya. Sehingga pembaca Jerman memperoleh pengalaman emosional, menyentuh hati, dan mencerap makna terdalam.

Karimi terpanggil oleh Johann Wolfgang von Goethe yang menyukai Al-Qu’ran karena kefasihan sastrawi yang kuat yang menyusun tatanan kualitas puitis dari teks suci. Tulisan Goethe, Westösliche Divan, delapan belas kali dikutip Karimi dalam terjemahan puitisnya. Bagi Karimi, Al-Qur’an tak sesederhana sebuah puisi, tapi, mengutip sastrawan dan filsuf abad ke-19, Friedrich Schlegel, eine progressive Universalpoesie (sebuah puisi universal yang progresif).


Kecintaannya pada aspek puitis mendorongnya menulis puisi serta menerjemahkan lantunan puisi penyair Persia Jalaluddin Rumi dan Hafez. Sebagai pencinta puisi dan filsafat, Karimi ingin menghidupkan kembali spirit Muhammad Iqbal. Dalam perayaan seratus tahun penerbitan puisi Iqbal Asrar-i khudi (Rahasia Diri), 13 Februari 2017, ia mendirikan The Muhammad Iqbal Research Center dengan tujuan ganda: mengkaji filsafat Iqbal dan mendorong inovasi dalam pemikiran Islam terkini.

Karimi memiliki kemiripan dengan Iqbal: hidup dalam tradisi metafisika dan puitika Persia dan mendalami filsafat Jerman. Dengan daya dentum filsafat Iqbal yang membuka zaman baru dan dibaca berbagai pemikir lintas generasi selama abad ke-20, Karimi ingin menjadikan sang filsuf-penyair itu sebagai suri teladan untuk menyongsong kemajuan di ranah Eropa.

Jembatan Muslim dan Jerman

Selama lima tahun belakangan ini, langgam berfilsafatnya berusaha untuk menjembatani antara publik Jerman dan masyarakat muslim. Berbeda dari pengkaji Islam atau orientalis, posisinya sebagai "orang dalam"—sebagai muslim sekaligus warga Jerman—mampu mengaum lebih keras menyuarakan versi Islam yang menghargai aspek spiritualitas, intelektualitas, dan estetika. Di tengah iklim kemarahan neo-Nazi ala partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) dan Pegida, sebuah gerakan sosial neo-fasis yang anti-Islam dan pengungsi, Karimi melawan pandangan negatif atas Islam.

Ia aktif dalam jurnalisme berbagai bentuk: koran, radio, dan televisi. Aktivisme publiknya seiring dengan gairah akademiknya untuk menjadi referensi tentang suara Islam kontemporer tidak bisa dibayangkan para pencinta supremasi kulit putih.

Saya membayangkan, jika AfD punya filsuf politik Marc Jongen, bekas murid Peter Sloterdijk; pakar Al-Qur’an dan usul fikih Hans-Thomas Tillschneider; diperkuat oleh ideolog Pegida yang sering mengkader politikus dan aktivis muda, Götz Kubitschek; maka sosok Karimi bisa menjadi suara pembanding akan visi multikultural di Jerman yang sering berhenti pada slogan saja. Mungkin dari seteru intelektual ini akan membentuk masyarakat muslim yang lain di Barat yang, berbeda dari iklim sekularisme Perancis, menjadikan Jerman ramah terhadap Islam dan sebaliknya.



Tidak heran, Karimi pun membentuk aliansi intelektual dengan filsuf Kristen untuk suatu titik temu kreatif. Bukunya, Im Herzen der Spiritualität, Wie sich Muslime und Christen begegnen können (2019), bervisi untuk titik temu itu dalam ruang ‘jantung spiritualitas’. Bersama Anselm Grün, tokoh Kristen Jerman ternama yang hampir dua kali lipat lebih tua dari Karimi, ia mempermasalahkan mengapa warga muslim dan Kristen di Jerman tidak hidup berdampingan secara erat. Mereka mencari kebenaran terdalam dari sebuah agama dengan meneroka keilahian dan aspek teologis lainnya serta praktik religius dan toleransi yang praktis.

Ruang dialog keterbukaan itu bertujuan supaya berbagai umat berbeda hidup bersama, bukan membentuk ghetto yang berseberangan. Karimi yakin bahwa agama seharusnya menjadi ruang di mana umatnya dapat bernapas bebas, sebuah ruang koeksistensi dari berbagai jenis kebanggan berlebihan atas kelompoknya masing-masing.

Dengan gaya bicara ala Gus Dur ‘Tuhan tak perlu dibela’, Karimi berkata bahwa “Bukan Muslim yang melindungi Tuhan dan menyelamatkan Islam; tapi Tuhanlah yang melindungi mereka, dan Islam menganugerahkan mereka kebebasan serta perdamaian.”

Imperatif intelektualnya menjadi salah satu contoh bagi generasi muda muslim di Jerman. Filsafatnya bisa melangit dan membumi. Mereka perlu memahami Islam dengan nalar yang tepat. Karimi yang pernah disebut Der Spiegel pada 2009 sebagai Wunderknabe alias anak ajaib paham betul bagaimana menyusun fondasi intelektual Islam yang klop dengan Jerman.

Karimi dan generasi muda muslim di Jerman bisa menjadi lokomotif transformasi masyarakat negeri itu untuk lebih menyatu dan tidak tersekat dan bisa "melupakan" tanah lahir moyang mereka. Dalam bahasa film dokumenter buatan sutradara Jerman keturunan Turki, Fatih Akin, Denk ich an Deutschland – Wir haben vergessen zurückzukehren (2001): “Saya memikirkan Jerman, kami lupa untuk kembali.”

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight