Film Perjuangan Perempuan untuk Rayakan Hari Kartini 21 April 2021

Oleh: Maria Ulfa - 20 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Berikut ini adalah rekomendasi film tentang perjuangan perempuan dalam menegakkan dan merebut hak-haknya untuk memperingati Hari Kartini.
tirto.id - Kartini menjadi salah satu sosok penting dalam emansipasi wanita di Indonesia.

Oleh karena itu lah, tanggal 21 April yang juga merupakan hari lahir perempuan asal Jepara, Jawa Timur, tersebut diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasanya dalam kesetaraan gender.

Peringatan Hari Kartini tersebut dirayakan setelah 2 Mei 1964, usai Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964.

Dalam keputusan tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Berikut ini adalah rekomendasi film tentang perjuangan perempuan dalam menegakkan dan merebut hak-haknya untuk memperingati Hari Kartini yang dapat Anda tonton di sejumlah platform streaming seperti Netflix dan VIU.

1. Kartini: Princess of Java

Film Kartini: Princess of Java mengikuti kisah pahlawan wanita Indonesia bernama Kartini.

Film ini bercerita tentang Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang tumbuh dengan melihat langsung ibunya yang bernama Ngasirah (Christine Hakim) menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri.

Hal ini terjadi dikarenakan tidak memiliki darah ningrat dan menjadi seorang pembantu. Sang ayah bernama Raden Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang sangat mencintai Kartini tidak berdaya melawan tradisi yang sudah turun temurun.

Sepanjang perjalanan hidupnya, Kartini berjuang untuk menyetarakan hak bagi semua orang baik ningrat ataupun bukan, terutama hak pendidikan untuk perempua.

Bersama kedua saudarinya yang bernama Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), Kartini berjuang mendirikan sekolah untuk kaum miskin dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi semua masyarakat Jepara.

Film Kartini: Princess of Java bisa ditonton lewat platform streaming Netflix.

2. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak atau Marlina the Murderer in Four Acts menceritakan tentang janda Marlina (Marsha Timothy) yang tinggal dengan tenang di Sumba.

Suatu hari, sekawanan tujuh perampok mendatangi rumah Marlina. Mereka mengancam nyawa, harta dan juga kehormatan Marlina dihadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam.

Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus kembali. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak juga bisa ditonton lewat platform streaming Netflix.

3. Kim Ji-Young Born 1982

Film Kim Ji-young: Born 1982 adalah adaptasi dari novel dengan judul sama yang terbit pada Oktober 2016.

Film ini mengungkap tentang bagaimana menjadi perempuan dalam masyarakat patriarkal yang konservatif.

Film garapan sutradara Kim Do Young ini secara keseluruhan menceritakan Kim Ji-Young (Jung Yu Mi), seorang perempuan biasa yang mulanya bekerja di agensi kehumasan. Kim Ji-Young kemudian menikah dan memiliki seorang anak.

Beberapa dekade yang lalu, perempuan tidak diberi kesempatan untuk belajar dan harus membantu mendapatkan uang untuk keluarga.

Perempuan juga perlu bekerja lebih keras untuk dikenali di tempat kerja. Sedangkan Kim Ji-young adalah seorang perempuan Korea dengan usia 30-an, sering kali merasa berat dengan kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Saat diketahui sedang hamil, Kim Ji-young dipaksa berhenti dari pekerjaan yang selama ini dia gandrungi dan harus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Hal tersebut membuat Ji-young perlahan mengalami banyak hal hingga dia kehilangan jati dirinya lantaran 'terperangkap' dalam rutinitas sehari-hari.

Lambat laun, Ji-young mulai berbicara atau berperan menjadi orang lain, dia kadang berbicara seperti ibunya, atau seperti kakak perempuannya dan banyak lainnya.

Film Kim Ji-young: Born 1982 bisa ditonton dengan subtitle bahasa Indonesia lewat platform VIU.

4. Little Women

Little Women mengisahkan tentang empat bersaudara yang hidup dengan mimpinya masing-masing.

Meg March (Emma Watson) menikah dan membangun keluarga dengan guru sekolah, John (James Norton).

Jo March (Saoirse Ronan) merantau dan merintis karirnya sebagai penulis di New York. Amy March (Florence Pugh) belajar menjadi seniman di Paris, dan Beth March (Eliza Scanlen) yang suka bermain piano.

Pada suatu pesta, Jo bertemu dengan Laurie (Timothée Chalamet) yang merupakan bangsawan keluarga Laurence yang tinggal berseberangan dengannya.

Laurie tahu bahwa ia mencintai Jo sejak pertama kali mereka bertemu, namun enggan mengatakannya. Kendati demikian, hubungan keluarga March dan Laurence sangat baik.

Sang kakek, Mr. Laurence, bahkan menghadiahkan piano milik mendiang putrinya kepada Beth.

Sementara itu, Beth yang polos dan baik menderita sakit demam berdarah hingga akhirnya meninggal. Ini membuat duka yang mendalam bagi semua anggota keluarga.

Kisah cinta yang rumit akhirnya muncul. Jo menolak cinta Laurie, lalu memutuskan untuk pergi ke New York dan menjadi penulis.

Laurie yang putus asa kemudian berlibur di Paris dan bertemu dengan Amy. Tak berselang lama, mereka pun menikah.

Pada akhirnya, Jo yang patah hati menemukan cintanya, yaitu Friedrich (Louis Garel), seorang profesor yang tinggal di kos yang sama saat mereka berada di New York.

Little Women bisa ditonton dengan subtitle bahasa Indonesia di platform Netflix.

5. Wadjda

Wadjda adalah sebuah film Arab Saudi-Jerman tahun 2012 yang ditulis dan disutradarai oleh Haifaa al-Mansour.

Film tersebut merupakan film fitur pertama yang mengambil gambar di Arab Saudi dan film berjangka fitur pertama yang dibuat oleh seorang sutradara Saudi perempuan.

Film ini menceritakan, pada tahun 2000-an, Wadjda, seorang gadis Saudi berusia 10 tahun yang ceria tinggal di ibu kota Riyadh.

Wadjda bermimpi memiliki sepeda hijau yang dia lewati di sebuah toko setiap hari dalam perjalanan ke sekolah.

Dia ingin berpacu dengan temannya Abdullah, seorang anak laki-laki dari lingkungannya, tetapi mengendarai sepeda tidak disukai untuk anak perempuan dan ibu Wadjda menolak untuk membelikannya.

Selain itu, sepeda itu mahal, sehingga Wadjda mulai mencari uang sendiri dengan menjual mixtape, gelang kepang tangan untuk teman sekelas, dan bertindak sebagai perantara bagi siswa yang lebih tua.

Film ini bisa ditonton dengan terjemahan bahasa Indonesia di Netflix.



Baca juga artikel terkait HARI KARTINI atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight