Film Korea Persona: Drama 4 Babak Tentang Cinta dan Kematian

Oleh: Salma Mahjatina Zahra - 22 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Film Korea Persona punya alur cerita kuat. Kumpulan film pendek ini berkisah tentang cinta dan kematian.
tirto.id - Persona (2019) adalah sebuah kumpulan film pendek garapan Netflix Korea. Persona terdiri dari 4 judul film yang disutradarai oleh 4 sutradara ternama di Korea Selatan. Semua peran utama pada Persona diperankan oleh aktris sekaligus penyanyi Lee Ji-Eun.

Episode pertama berjudul Love Set dan disutradarai oleh Lee Kyoung-mi. Love Set mengisahkan tentang IU ¬(Lee Ji-Eun ) yang tak mau ayahnya (Kim Tae-hoon) menikah dengan guru bahasa Inggrisnya (Bae Donna).

IU kemudian bertaruh pada gurunya. Jika Ia berhasil mengalahkan gurunya dalam permainan tenis, maka gurunya harus putus dengan ayahnya. IU yang merupakan pemain amatir tentu saja kalah.

Yim Pil-sung menjadi sutradara pada episode kedua berjudul Collector. Kali ini IU berperan sebagai Eun, seorang gadis liberal yang memainkan hati Baek Jeong-u (Park Hae-soo). Tujuannya berpacaran dengan Jeong-U adalah untuk mengambil hatinya, kemudian meninggalkannya begitu saja.

Film ketiga berjudul Kiss Burn yang disutradarai oleh Jeon Go-woon. Film ini mengisahkan Han-na yang mempunyai teman bernama Hye-Bok (Shim Dal-gi). Hey-Bok dikurung didalam rumah karena ayahnya menemukan kiss mark pada tubuhnya.

Untuk melampiaskan stres Han-na mengajak Hye-Bok untuk pergi ke pantai. Mereka tak mengetahui bahwa rumah Hye-Bok terbakar karena putung rokok Han-na.

Film terakhir berjudul Walking at Night yang disutradarai oleh Kim Jong-kwan. Ji-Eun berperan sebagai Ji-Eun, kekasih dari K (Jung Joon-won) yang telah mati. Ia mendatangi K melalui mimpi. Mereka kemudian membicarakan hal-hal yang mereka tak sempat bicarakan ketika masih bersama.

Persona: Walking at Night

Persona: Walking at Night adalah film yang berbeda dari tiga film lainnya. Film ini berfilter hitam putih dan hanya mempunyai dua karakter, Ji Eun dan K.

Mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berjalan dan bercakap-cakap di sebuah malam di musim panas. Dialog mereka diawali oleh kisah kematian kakak Ji Eun dimana mulutnya terbuka saat kematian tiba, dan bagaimana Ji Eun tidak ingin hal itu terjadi padanya.

Seiring berjalannya waktu, penonton akan diperlihatkan bahwa Ji Eun adalah mendiang kekasih K dan semua percakapan dan kegiatan yang terjadi hanyalah bagian dari mimpi K.

Dialog mereka diiringi oleh suara serangga musim panas, deru angin yang menggesek dedaunan, suara klakson mobil di kejauhan, dan background music biola yang menyayat.

Klimaks muncul pada saat Ji Eun menceritakan tentang kenapa dan bagaimana ia memutskan untuk mengakhiri hidupnya, serta kemarahan K pada dirinya sendiri karena tak mampu memahami Ji Eun.

Walking at Night diakhiri dengan scene Ji Eun yang berada di pelukan K, diantara orang-orang yang mematung di sebuah malam di musim panas.

Topik yang dianggap berat seperti depresi, kesendirian, kehilangan, dan kematian sukses tersampaikan dengan lembut oleh arahan Kim Jong Kwan.Narasi sederhana tentang kematian dan kesendirian yang dialami Ji Eun terasa nyata dan tidak dilebih-lebihkan.

Ia sukses menampilkan IU sebagai sosok yang tersiksa akan kesepian meskipun banyak orang-orang di sekelilingnya. Kesepian itu pula yang mendasari Ji Eun untuk mengakhiri hidupnya, karena ia melihat kesepian yang tak berujung.

Isu sosial tentang bunuh diri memang masih cukup tinggi kasusnya di Korea, hal ini mungkin terjadi karena asumsi bahwa kematian adalah cara terbaik untuk mengakhiri sesuatu.

Namun seperti yang dilanturkan oleh Ji Eun, bahkan ketika ia sudah matipun, ia tak tahu kemana harus pergi dan ia tetap merasa dirinya hilang perlahan-lahan.

Agaknya penggambaran kesepian pada film ini cukup relatable dengan keadaan banyak orang saat ini. Kesepian bukan hanya saat kita sendiri, namun juga saat kita dikelilingi oleh orang lain yang tidak mampu memahami kita.

Penggambaran tentang kehilangan seseorang terefleksikan lewat akting meyakinkan Jung Joon Won. Memerankan sebagai K, ia mampu menghayati peran sebagai kekasih yang kehilangan orang yang dicintainya.

Ia merasa bersalah dan kerap menyalahkan dirinya sendiri, dan bahkan kerap bertanya apakah ia yang menjadi penybab kematian Ji Eun.

Walking at Night bukan hanya tetang narasinya saja yang epik, namun juga tentang sinematografinya.

Tema yang diusung pada film pendek ini dipertegas oleh penggunaan filter hitam putih. Hal ini mampu membuat suasana yang dibangun menjadi lebih tajam, gloomy, dan menimbulkan emosi.

Meskipun terkesan minimalis pada segi setting tempat, camera movement, dan editing, hal ini justru mampu membuat kualitas narasi yang ingin disampaikan kepada penonton lebih terasa.

Walking at Night bukan hanya tentang kematian dan mimpi, tapi juga tentang dua hal yang mampu mempertemukan mereka kembali.


Baca juga artikel terkait FILM PERSONA atau tulisan menarik lainnya Salma Mahjatina Zahra
(tirto.id - Film)

Kontributor: Salma Mahjatina Zahra
Penulis: Salma Mahjatina Zahra
Editor: Agung DH
DarkLight