Fenomena Bernie Sanders & Mekarnya Sosialisme di Kalangan Muda AS

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 22 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Alih-alih kemakmuran, kata ‘kapitalisme’ kini lekat dengan krisis finansial yang bikin suram masa depan anak-anak muda Amerika. Mereka mencari alternatif dan menemukan sosialisme.
tirto.id - Bernie Sanders tak pernah ambil pusing terhadap anggapan bahwa ia adalah “orang lama” di lingkaran elite Partai Demokrat. Ia juga tak mempedulikan omongan sebagian orang bahwa dirinya tidak lagi fit untuk memimpin Amerika Serikat pada usia kepala tujuh (tepatnya 77 tahun, per September 2018). Ia memutuskan akan tetap maju di palagan Pilpres Amerika Serikat 2020.

Senator asal negara bagian Vermont itu mesti terlebih dahulu memenangkan kompetisi di internal Partai Demokrat. Tiga tahun silam ia menjajaki proses yang sama, dan sayangnya kalah oleh Hillary Cilnton.

Lauren Gambuni dan Tom McCharty dari Guardian melaporkan kini Sanders berhadapan dengan politisi lain yang lebih muda. Contohnya adalah kawan terdekat Sanders di kongres, Elizabeth Warren, senator negara bagian Massachussets.

Senator-senator lain yang jadi saingannya antara lain Kamala Harris dari California, Cory Booker dari New Jersey, Kirsten Gillibrand dari New York, dan Amy Klobuchar dari Minnesota.

Di luar status senator, yang namanya tidak lebih populer, ada Pete Buttigieg selaku Wali Kota South Bend, Indiana. Ada pula kompetitor dengan reputasi selangit. Dua di antaranya sudah cukup berumur: mantan wakil presiden Joe Bidden dan milyader Michael Bloomberg.

Khusus untuk golongan senator muda, beberapa di antaranya adalah perempuan. Sebagian lain ada yang kulit berwarna. Kriteria-kriteria ini menurut analis lebih menarik perhatian generasi muda liberal-SJW (Social Justice Warrior) kekinian.

Tapi Sanders populer bukan karena politik identitas. Ia dielu-elukan generasi muda di Negeri Paman Sam karena konsisten di spektrum sayap kiri, lebih tepatnya platform sosialis-demokratik.

Kandidat-kandidat muda yang telah disebutkan namanya di atas meraih simpati karena mengampanyekan kebijakan-kebijakan progresif. Sebagian dari mereka terinspirasi model pemerintahan negara-negara Nordik (Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia).

Contohnya Medicare fo All, sistem pelayanan kesehatan universal. Atau menaikkan upah minimum federal menjadi $15 per jam, juga akses gratis ke pendidikan tinggi, melawan pemanasan global secara lebih agresif dengan mengatur kontrak perdagangan global, dan penerapan pajak progresif untuk kaum super-kaya.


Semua itu sebenarnya sudah dipopulerkan oleh Sanders pada 2016. Lebih jauh lagi, Sanders telah membicarakannya di kampus-kampus dan panggung politik publik selama tiga dekade terakhir.

“Tiga tahun lalu, selama kampanye tahun 2016, saat kita membawa empat agenda progresif itu, ide-ide itu dianggap ‘radikal’ dan ‘ekstrem’. Well, tiga tahun telah berlalu. Dan, sebagai hasil dari jutaan rakyat Amerika yang melawan balik, semua kebijakan ini sekarang didukung oleh mayoritas orang Amerika,” katanya.

Sanders pertama kali mengumumkan pencalonan di Pilpres 2020 dalam wawancara bersama Vermont Public Radio. Di kesempatan yang sama ia mengungkap rencana untuk menyerang Donald Trump selama kampanye.

“Kukira yang sekarang sedang duduk di Gedung Putih adalah sosok yang memalukan negara. Aku kira ia adalah tukang bohong. Bagiku ia juga seorang rasis, seksis, pengidap homofobia, xenofobia, dan meraup dukungan politik murahan dengan mempermainkan kaum minoritas, seringnya imigran tanpa dokumen.”

Trump tidak tinggal diam. Kembali mengutip laporan Gambuni dan McCharty, Kayleigh McEnany selaku juru bicara sang politisi Partai Republikan berkata:

“Bernie Sanders telah memenangkan debat di pemilihan internal Demokrat, sebab semua kandidat memakai merek sosialismenya. Tapi rakyat Amerika akan menolak agenda pajak tinggi, pelayanan kesehatan yang dikelola pemerintah, dan sikap memanjakan hati diktator seperti di Venezuela.”


McEnany agaknya keliru dalam dua hal. Pertama, rakyat Amerika yang mana? Dalam kurun waktu 12 jam sejak pengumuman pencalonan, donasi kampanye untuk Sanders sudah mencapai lebih dari $4 juta—jauh lebih banyak dari perolehan donasi kandidat lain.

24 jam berselang, total donasi sudah mencapai lebih dari $6 juta. Tiap jam makin bertambah. Jumlah penyumbang berada di kisaran 230.000 orang dengan rata-rata sumbangan $27. Sanders menarik perhatian orang-orang kelas pekerja—golongan yang dari dulu ia advokasi, bukan didominasi elite berkantong tebal.

Donasi kecil juga mendominasi total sumbangan untuk kampanye Sanders pada 2016, yang totalnya mencapai hampir $230 juta. Sanders menyebutnya “revolusi akar rumput”—sesuatu yang masih ia agendakan selama kampanye menuju pertarungan Pilpres 2020 mendatang.

Sanders akan mendapat hadangan dari elite lain yang posisi politiknya lebih sentris dan pro-kapitalisme neoliberal. Namun kabar baiknya, mengutip riset Gallup yang dirilis Agustus 2018, lebih banyak anggota serta simpatisan Partai Demokrat yang memiliki pandangan positif terhadap sosialisme ketimbang kapitalisme.

Perbandingan pandangan positif terhadap sosialisme dan kapitalisme pada 2018 mencapai 57 persen dibanding 47 persen.

Angka ini tergolong yang paling senjang sebab pada 2016 hanya 58 persen dibanding 56 persen. Pada 2012 bahkan masih terbalik: 53 persen memandang sosialisme negatif, 55 persen memandang kapitalisme positif.


Kekeliruan kedua McEnany mengacu pada pernyataannya yang masih dibumbui propaganda red scare atau ketakutan terhadap sosialisme itu sendiri. Ia barangkali lupa bahwa ini bukan Amerika era pasca-Perang Dunia. Ini adalah era di mana bunga sosialisme justru sedang mekar di dada anak muda.

Dua tahun silam Chris McGreal melaporkan fenomena tersebut untuk Guardian. Tajuknya terang benderang: “’The S-word’: how young Americans fell in love with socialism”. Salah satu yang jadi patokan McGreal adalah pertumbuhan Democratic Sosialist of America (DSA).

DSA adalah organisasi yang menaungi orang-orang seperti Sanders. Pada akhir tahun 2017 jumlah anggotanya mencapai 32.000 atau naik empat kali lipat dari masa sebelumnya. Rata-rata anggota baru berasal dari kalangan muda, yang bereaksi atas naiknya Trump ke tampuk kepresidenan.

Menuju awal September 2018, jumlah anggota DSA mencapai angka 50.000. Jumlah kantor cabangnya pun membludak dari 40 ke 181 buah. DSA kini menjelma menjadi organisasi sosialis terbesar di AS selama 100 tahun terakhir.

Sebagian anggotanya menyukai demokrasi sosial gaya Nordik. Sebagian lainnya condong ke sosialisme klasik. Tapi banyak pula yang meniadakan label.

Infografik Bernie Sanders Nyapres Lagi
Infografik Bernie Sanders Nyapres Lagi


Mereka berasal dari gerakan protes seperti Occupy Wall Street hingga Black Lives Matter yang frustasi dengan ketidakseriusan elite Demokrat dalam isu krisis akibat kapitalisme, kesenjangan pendapatan, rasisme, hingga dominasi korporasi dalam kebijakan yang dihasilkan badan pemerintahan AS.

McGreal kemudian mengutip riset Harvard University pada 2016. Respondennya meliputi anak-anak muda Amerika dalam rentang usia 18 hingga 29 tahun. Hasilnya menyatakan 51 persen mengaku tidak mendukung kapitalisme, sementara 42 persen lainnya menyatakan dukungan.


Meski belum jelas sistem alternatif seperti apa yang diharapkan responden, 33 persen responden menyatakan dukungan terhadap sosialisme. Mereka yang skeptis dengan kapitalisme, menurut riset, selama ini berfokus pada hal-hal negatif yang diciptakan oleh kondisi pasar bebas, lapor Washington Post.

Temuan yang sama hadir dalam riset yang digagas Pew Research Center pada 2011. Di dalamnya menyebut orang-orang dalam rentang usia 18 hingga 29 tahun di Amerika frustasi dengan sistem pasar bebas.

Zatch Lustbander, salah satu penanggung jawab riset Harvard University, menyatakan kata “kapitalisme” kini memang tidak lagi diartikan sepositif dahulu.

Mereka yang besar di era Perang Dingin, katanya, akan mengartikannya sebagai kebebasan dari Uni Soviet dan rezim totalitarian lain. Tapi bagi generasi yang besar di era sekarang, kapitalisme lekat dengan krisis finansial menyapu dunia pada pertengahan dekade 2000-an, yang hingga kini belum benar-benar sembuh.

Krisis finansial bak sebentuk warisan pahit yang diberikan generasi tua kepada generasi muda. Di Amerika Serikat, generasi milenial dan yang lebih muda dipusingkan dengan harga rumah yang makin mencekik hingga utang kuliah yang kian tak manusiawi. Sejumlah analis mengemukakan wajar jika sebagian dari mereka mencari alternatif, termasuk sosialisme.

Mengutip judul kolom Julia Mead di kanal The Nation, setidaknya generasi milenial tidak lagi takut terhadap sosialisme. “Mereka tahu bahwa itu ideologi tua, tapi yang berusaha mewujudkannya adalah orang-orang muda—yang sudah lelah dengan ketimpangan di dunia yang mereka warisi.”

Baca juga artikel terkait SOSIALISME atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf