Felix Gallardo: Godfather Para Kartel Narkoba Meksiko

Oleh: Eddward S Kennedy - 24 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Siapakah Felix Gallardo dalam Narcos: Mexico? Bagaimana sepak terjangnya?
tirto.id -
PERINGATAN: TULISAN DI BAWAH MENGANDUNG SPOILER EPISODE KELIMA SEASON EMPAT SERIAL NARCOS: MEXICO

Di episode kelima dalam season empat serial Narcos: Mexico yang berjudul "The Colombian Connection”, ada sebuah adegan menarik ketika Felix Gallardo bertemu dengan Pablo Escobar.

Mulanya pemimpin kartel Guadalajara itu datang ke Kolombia dari Meksiko bersama rekannya, Isabella Bautista, untuk bertemu para bos dari kartel Cali: Miguel Orejuela—adik dari Gilberto Orejuela yang juga jadi pimpinan utama, José Santacruz Londoño atau "Chepe", dan Hélmer Herrera alias “Pacho”.

Di hadapan para “gentlemen of Cali” tersebut, Gallardo menawarkan kerjasama bisnis: kartel Guadalajara dapat membantu mengirimkan berton-ton paket kokain milik kartel Cali melewati rute Karibia yang banyak dijaga oleh aparat Amerika dengan cara yang jauh lebih aman.

Perlu diketahui bahwa ketika itu bisnis narkotika di Amerika Latin—bahkan nyaris di dunia—dimonopoli oleh dua kartel raksasa dari Kolombia. Selain kartel Cali, ada pula kartel Medellin yang dipimpin Pablo Escobar.

Kedua kartel ini, selain bersaing ketat satu sama lain, juga memiliki karakter yang bertolak belakang. Kartel Cali cenderung menempuh sistem yang aman: bernegosiasi, menyogok, bekerja sama. Sementara itu, kartel Medellin sepenuhnya beringas, kejam, menerabas aturan.

Adapun di Meksiko, kartel Guadalajara terhitung baru memulai bisnis narkotika. Itu pun “hanya” di sektor komoditi ganja. Sebab kendati bernilai lebih murah, ganja terhitung lebih aman secara bisnis, dan karenanya cocok untuk permulaan bagi para pemain amatir.

Melihat konteks kala itu, cukup wajar jika kartel Cali—yang sebetulnya secara karakter organisasi cukup mirip dengan kartel Guadalajara—meremehkan tawaran Gallardo. Mereka menganggap ada risiko bisnis besar yang belum dipahami betul oleh Gallardo sebagai pemula. Namun, toh, pada akhirnya Gallardo tetap dapat meyakinkan para “gentlemen of Cali” tadi.

Terutama ketika ia mengatakan bahwa jika kerjasama ini berhasil, kartel Medellin pimpinan Escobar, yang ketika itu jauh lebih mapan dibanding kartel Cali, dapat segera bangkrut. Miguel, Chepe, dan Pacho akhirnya sepakat nama dengan satu syarat: semua biaya pengiriman, termasuk jika ada kerusakan dan hal buruk lainnya, akan ditanggung kartel Guadalajara.

Gallardo dan Isabella pun pulang dengan wajah semringah. Sebagai amatir di bisnis kokain yang nilainya berpuluh kali lipat dibanding ganja, kerja sama dengan kartel Cali jelas merupakan kesempatan emas. Namun, persis ketika Gallardo dan Isabella hendak menaiki jet pribadi di bandara, datang dua orang suruhan Escobar, Poison dan Blackie—para sicarios alias tukang jagal kepercayaan Escobar—lalu segera menculik mereka.

“Nikmati perjalanan panjang ini,” ujar Blackie. Setelah tiba di kediaman Don Pablo, Gallardo diajak Blackie ke sebuah gazebo kecil yang berada di pinggir danau. Sementara Isabella diminta untuk menunggu di bar.

Ada kejadian menarik ketika Gallardo menunggu Escobar datang: ia dikejutkan oleh kemunculan kuda nil dari dalam danau yang masih termasuk area rumah sang juragan. Semasa hidupnya, Escobar memang betul-betul pernah memelihara beragam hewan liar, termasuk kuda nil yang didatangkan langsung dari Afrika.

Tak lama kemudian, datanglah bos kartel Medellin yang ditakuti seantero Kolombia itu. Setelah basa basi sejenak membicarakan kuda nil tadi, keduanya terlibat perbincangan serius. Gallardo secara terus terang mengaku kepada Escobar bahwa kedatangannya ke Kolombia untuk berbisnis dengan kartel Cali. Bahkan ia juga mengatakan: “Sejujurnya, jika bisnis ini berjalan, anda akan segera bangkrut.”

Escobar membalas ucapan tersebut dengan gaya khasnya yang intimidatif: “Kalau saya juga boleh jujur, saya dapat menjadikan Anda santapan kuda nil. Saya tidak suka orang Meksiko."

Namun, Gallardo tidak terpengaruh ancaman itu dan justru menimpali balik. “Anak buah Anda bisa saja membunuh saya di perjalanan tadi jika memang Anda ingin saya mati," katanya.

Escobar pun bertanya kembali kepada Gallardo kenapa tidak mendatangi dirinya terlebih dahulu sebelum menemui kartel Cali. Gallardo menjawab, lagi-lagi dengan terus terang: “Saya diberitahu bahwa Anda orang yang temperamental.”

Gallardo paham bahwa ia diculik ke sana memang bukan untuk dibunuh, melainkan karena Escobar meminta semacam "jatah preman". Benar saja, Escobar meminta Gallardo untuk juga mengantarkan kokain milik kartel Medellin bersamaan dengan pengiriman kartel Cali, porsinya 50-50. Gallardo segera menyanggupinya.

Sebelum Escobar pergi meninggalkannya, Gallardo sempat bertanya dengan maksud mencairkan suasana: “Anda tidak akan benar-benar melemparkan saya ke kudanil itu, kan?” Namun, Escobar tetap memasang tampang sengit: “Kuda nil itu juga tidak suka orang Meksiko.”

Persetan dengan kuda nil, sebab Escobar tidak pernah tahu bahwa sesungguhnya Gallardo justru memang menginginkan hal ini terjadi.

Dimulai dari Negosiasi ke Negosiasi

Sebetulnya tidak begitu jelas apakah dalam kehidupan nyata Escobar betul-betul pernah menculik Gallardo. Dalam wawancaranya dengan Vulture, (16/11/2018), Diego Luna, pemeran Gallardo di Narcos: Mexico, juga tidak mengonfirmasi hal tersebut.

“Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat saya jawab. Anda harus menyelidikinya sendiri. Jika saya beritahu itu memang benar terjadi, maka selanjutnya adalah hal tersebut tidak sesungguhnya terjadi dengan demikian. Jadi, sebetulnya ada intensi dari para penulis cerita untuk menggunakan info yang sebenarnya.”

Terlepas dari kesimpangsiuran tersebut, pria yang lahir di Culiacán, Sinaloa, Meksiko, pada 8 Januari 1946, dan memiliki nama lengkap Miguel Ángel Félix Gallardo itu memang sudah merancang dengan amat detil skema kerja kartel Guadalajara dari nol. Dan nyaris seluruhnya ia kerjakan seorang diri.

Gallardo adalah seorang sarjana bisnis yang kemudian lama berprofesi sebagai polisi lokal. Ia sempat menjadi bagian dari regu pengawal Gubernur Sinaloa, Leopoldo Sánchez Celis. Kelak, Gallardo turut memanfaatkan koneksi dari lingkaran dalam Celiz Gallardo untuk memulai bisnisnya.

Sebagai langkah awal, Gallardo menemui Rafael Caro Quintero dan Ernesto Fonseca Carrillo (Don Neto), dua pengedar ganja yang pernah bekerja untuk Pedro Avilés Pérez atau "El León de la Sierra". Dialah “Mexican drug lord” generasi pertama yang berbisnis narkotika. Namun, sejak Perez tewas usai baku tembak dengan polisi pada September 1978, kerajaan bisnisnya perlahan ikut ambruk. Gallardo pun menyadari ada peluang bisnis yang menggiurkan.

Ketika itu, nyaris segala institusi pemerintah di Sinaloa terlibat praktik korupsi gila-gilaan. Gallardo sadar bahwa itu adalah celah besar yang dapat memuluskan bisnisnya, selain, tentu saja, ia juga seorang polisi. Rafa dan Carillo pun bersedia untuk memulai bisnis baru bersama Gallardo.

Keputusan ketiga orang itu tak salah. Dengan kepastian perlindungan yang didapat Gallardo dari DFS kala itu (Dirección Federal de Seguridad, Badan Intelijen Meksiko) di bawah pimpinan Miguel Nazar Haro (yang juga peliharaan CIA), kartel Guadalajara perlahan mulai menyatukan berbagai sindikat narkotika yang banyak beredar di Sinaloa atau juga dikenal dengan istilah “plaza system”.

Ketika bisnis kartel Guadalajara terus melesat, Gallardo tergiur untuk melebarkan sayap ke komoditas lain yang bernilai jauh lebih besar: kokain. Dan untuk ini, tiada lagi yang harus ia lakukan selain pergi ke Kolombia. Gallardo pun meminta tolong kepada Juan Matta-Ballesteros, seseorang yang kerap menjadi informan CIA, agar dikenalkan dengan para petinggi kartel Cali.

Matta-Ballesteros sebelumnya sudah lebih dulu mengenalkan Alberto Sicilia-Falcon kepada Santiago Ocampo, kepala penyelundupan kartel Cali ke pasar AS. Falcon adalah seorang penjahat asal Kuba yang kabur ke Meksiko karena menentang pemerintahan Fidel Castro. Di Meksiko, ia berhasil menjadi “drug lord” dan menjadi kompetitor utama Gallardo.

Infografik El Padrino


Dari pertemuan dengan kartel Cali, kartel Guadalajara mendapat keuntungan $5 miliar per tahunnya. Nominal ini merupakan pembagian 50 persen dari setiap pengiriman kokain kartel Cali yang melewati jalur Meksiko. Dan untuk mempermudah kinerjanya, Gallardo pun memecah kartel Guadalajara ke empat teritori: Sinaloa, Tijuana, Juarez, dan Pacifica Sur.

Sejak ini, Gallardo praktis menjadi “Godfather” para kartel di Meksiko, terutama setelah ia menghabisi Falcon dan Haro sekaligus.

Namun, pada 8 April 1989, Gallardo akhirnya dibekuk aparat gabungan Meksiko dan AS melalui “Operacion Leyenda” dan dihukum 37 tahun penjara. Salah satu dakwaannya: membunuh Enrique Camarena, agen DEA yang membongkar sepak terjang kartel Guadalajara.

Kerajaan kartelnya pun runtuh secara perlahan. Kini Gallardo telah berusia 72 tahun dan masih mendekam di penjara Jalisco. Sebelumnya ia ditempatkan di Altiplano, penjara dengan penjagaan maksimum di Meksiko.


Para kartel di Meksiko patut berterima kasih kepada Gallardo. Sebab berkat dirinyalah bisnis narkotika di negara tersebut masih dapat bertahan. Hingga detik ini.

Baca juga artikel terkait NARKOBA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Maulida Sri Handayani