Fela Kuti: Musisi Legendaris Nigeria, Mimpi Buruk Junta Militer

Oleh: Faisal Irfani - 25 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Lupakan sejenak eksotisme Afrika. Karena bersama Fela Kuti, lagu adalah peluru perlawanan.
tirto.id - Saya bisa memastikan, jika Fela Kuti masih hidup, ia akan tetap bermusik, bergoyang di atas panggung, vokal mengkritik negara, dan sesekali mengisap ganja. Usia yang tak lagi muda kiranya bukan penghalang baginya untuk terus aktif bergerak, seperti halnya yang ia lakukan beberapa dekade silam.

Tentu saja itu sebatas angan-angan. Pasalnya, pada 1998, Fela Kuti sudah meninggalkan kehidupan dunia karena AIDS, imbas dari gaya hidupnya yang begitu liar. Ia, misalnya, menolak memakai kondom saat berhubungan seks sebab kondom dinilai "sangat tidak Afrika."

Kendati begitu, pengaruh Kuti masih terasa sampai sekarang. Namanya dielu-elukan, karyanya tetap didengarkan, dan makamnya diziarahi saban waktu. Di Nigeria—dan seluruh Afrika—nama Fela Kuti sepadan dengan “kebesaran”. Ia serupa dewa dan mitos, musisi dan aktivis, yang menggunakan musik untuk menerobos sekat-sekat yang sebelumnya mustahil dilabrak.

Pencipta Afro-Beat

Fela Kuti terlahir dengan nama Olufela Olusegun Oludotun Ransome-Kuti. Ia tumbuh di lingkungan keluarga terpandang. Ayahnya, Oludotun Ransome-Kuti, adalah seorang pendeta Anglikan. Sementara ibunya, Funmilayo Ransome-Kuti, adalah aktivis feminis yang sering memimpin protes terhadap kolonialisme Inggris.

Memasuki usia remaja, Kuti dikirim ke Inggris untuk belajar ilmu kedokteran. Alih-alih menuruti kehendak orang tuanya, Kuti malah memilih untuk mendaftar di Trinity College of Music. Alasannya sederhana: ia lebih menyukai musik.

Di Trinity, Kuti belajar alat tiup, tepatnya terompet. Pemilihan terompet didasari faktor bahwa Kuti ingin menjadi seperti Rex Jim Lawson dan Victor Olaiya, dua pemain terompet terkenal di Nigeria. Selain itu, ia juga terinspirasi oleh album-album awal Miles Davis dan Charlie Parker.

Rutinitas Kuti di London tak selalu diisi dengan kuliah. Di waktu sela, Kuti sering tampil di tempat-tempat yang dikunjungi banyak mahasiswa dan pekerja asal Afrika. Di sana, Kuti, bersama rekan-rekannya, memainkan musik jazz, rock, sampai Afro-cuban.

Pertengahan 1960an, seperti dicatat The Wire dalam “Fela Kuti: Chronicle of A Life Foretold,” Kuti pulang ke Nigeria dan membentuk band pertamanya, The Koala Lobitos. Bersama Koala Lobitos, Kuti menggabungkan warna musik blues, jazz, dan funk dengan musik tradisi Afrika. Perpaduan musik ini kelak disebut sebagai “Afro-beat.”

Tak butuh waktu lama bagi Kuti untuk tenar. Dari Nigeria, bakat Kuti kemudian melintasi teritori Afrika sebelum akhirnya tiba di Amerika pada 1969.


Usai melangsungkan tur di Abang Sam, visi bermusik Kuti kian meluas. Demi menandai momentum itu, Kuti mengubah nama grupnya menjadi “Africa 70.” Anggota Africa 70 terdiri dari Igo Chico Okwechime, Tony Allen, Fred Lawal, dan Henry ‘Perdido’ Kofi. Kuti sendiri mulai ambil bagian vokal dengan porsi yang besar. Pada 1971, ia benar-benar berhenti bermain terompet dan fokus menyanyi.

Africa 70 punya basecamp bernama “Afro-Spot,” sebuah klub malam yang berlokasi di Yaba, pinggiran Lagos. Afro-Spot adalah tempat di mana Kuti meramu karya, mengadakan jamming, dan bertukar kreasi dengan musisi-musisi Nigeria lainnya. Di akhir pekan, band-band Afro-Spot memamerkan aksinya. Panggung Afro-Spot seketika menarik masyarakat Nigeria untuk larut dalam pesta.

Kuti dan ragam musik Afro-beat yang ia bawa mendatangkan banyak peminat. Komposer Inggris Brian Eno, misalnya, menyebut musik Kuti sebagai "musik masa depan." Sementara Paul McCartney menyanjung band Kuti sebagai “band dengan penampilan langsung terbaik yang pernah ia lihat.”

Pujian yang dilontarkan musisi sekelas Eno dan McCartney sebetulnya beralasan. Musik Afrika yang ditawarkan Kuti begitu seksi, modern, dan kompleks. Semua menyatu padu dalam satu wadah; lengkingan alat tiup yang aduhai, hentakan perkusi yang mengajak bergoyang, hingga melodi-melodi bernas yang terselip di tengah komposisi. Ada pengaruh James Brown, Miles Davis, sampai Muddy Waters. “Musik Afrika itu nendang buat semua orang,” ungkap Kuti suatu ketika.

Tak heran apabila Kuti dilirik banyak perusahaan rekaman. Misalnya, Motown yang menawarkan kontrak dua tahun kepada Kuti pada awal 1980-an. Akan tetapi, mengutip tulisan Peter Culshaw berjudul “Don’t Call Fela Kuti World Music” (2014) yang dipublikasikan Noisey, kontrak itu ditolak dengan alasan “tidak disetujui roh-roh yang bersemayam dalam tubuh Kuti.” Terdengar konyol, memang.

Tawaran terus berdatangan, terutama dari label asal AS. Namun, lagi-lagi tak ada kesepakatan yang terjalin. Kali ini, masalahnya bukan hal yang berbau mistis, melainkan lagu-lagu bikinan Kuti dinilai terlalu panjang dan tak cocok disetel di radio di AS. Hampir semua lagu Ruti berdurasi minimal di atas lima menit. Ada juga yang sampai setengah jam.

“Aku pernah bertanya padanya, ‘Kamu bisa enggak nyanyi dengan durasi tiga menit?’” kenang Rikki Stein, manajer Kuti. “Fela pun hanya menjawab: ‘Aku tidak akan tahu caranya.’”

Menolak Dibungkam

Selain dikenal sebagai musisi jempolan, Fela Kuti juga merupakan aktivis yang vokal. Sikap politik Kuti muncul tak lama usai ia balik dari tur di AS. Penyebabnya: Kuti terinspirasi oleh pemikiran Malcolm X dan kelompok pergerakan kulit hitam, Black Panther Party.

Dekade 1960-an merupakan masa yang bergejolak di Nigeria. Pasalnya, di dalam negeri, terjadi kudeta yang dilakukan oleh sekelompok perwira muda yang idealis dan dilatih oleh Inggris. Kudeta ditempuh untuk mengakhiri korupsi dan konflik etnis.

Namun, yang terjadi usai kudeta adalah malapetaka. Seperti ditulis Max Siollun dalam Oil, Politics and Violence: Nigeria's Military Coup Culture 1966-1976 (2009), militer yang berkuasa justru memerintah dengan otoriter. Mereka yang tak sepaham dan mengkritik kelewat tajam dibabat habis. Tak cuma itu, orang-orang di dalam rezim akhirnya juga korup setelah berhasil menasionalisasikan seluruh sumber daya alam di Nigeria.

Keadaan ini membikin Kuti muak. Ia menyuarakan kekecewaannya lewat lagu-lagu yang sangat politis. Di nomor “Zombie,” contohnya, Kuti mengkritik aparat kepolisian dan militer yang dianggapnya “kaku, tak punya nalar, dan hanya menuruti perintah atasan.” Dengan segala karakter semacam itu, aparat, dalam pikiran Kuti, “tak ubahnya seperti zombie.”

Lalu di nomor “International Thief Thief,” Kuti menyerang perusahaan-perusahaan kapitalis yang gemar mengeksploitasi sumber daya alam di Nigeria dan Afrika. Kemudian di “Beasts of No Nation,” Kuti menunjukkan kemuakannya pada sikap otoriter pemimpin di pelbagai negara di dunia.


Tak sekadar lewat musik, perlawanan Kuti juga termanifestasi melalui aksi-aksi langsung di kehidupan sehari-hari. Ia mendeklarasikan Republik Kalakuta, sebuah komunitas yang bercita-cita untuk hidup bebas dari segala bentuk penindasan. Kalakuta dilengkapi dengan konstitusi bikinan sendiri, klinik kesehatan gratis, sampai tempat tinggal untuk para tunawisma.

Akan tetapi, Kalakuta tak luput dari kontroversi ketika Kuti, sebagai kepala komunitas, turut mempromosikan seks di luar nikah, poligami (Kuti menikahi 28 perempuan dalam satu kesempatan), serta konsumsi mariyuana.


Infografik Fela kuti
Infografik Fela kuti



Apa yang dilakukan Kuti membikin murka penguasa. Klub tempat Kuti bermain kerap disatroni dan dibubarkan acaranya, panggung-panggung pementasannya diserang, dan pendukungnya banyak yang dihajar. Di mana pun Kuti berkicau, di situlah ia dibungkam.

Namun, tak ada yang lebih parah dibanding yang terjadi pada 1977 tatkala aparat menyerang markas Kalakuta. Serangan tersebut merepresentasikan watak lalim penguasa Nigeria. Militer menyiksa Kuti dan anggota band, memperkosa para perempuan, hingga membakar seluruh bangunan. Bahkan, ibu Kuti terlempar dari jendela dan meninggal beberapa saat setelahnya.

Olusegun Obasanjo, penguasa Nigeria saat itu, meyakini bahwa Kalakuta adalah tempat maksiat dan kejahatan. Oleh karenanya, keberadaan Kalakuta haruslah dibasmi. Namun, ada dugaan kuat bahwa seruan penyerangan ke Kalakuta lebih dilandasi faktor keinginan untuk menutup gerak-gerik Kuti dalam memobilisasi massa guna menentang rezim. Serangan ini membuat Kuti harus mengungsi ke Ghana.

Insiden pada 1977 nyatanya hanya secuil contoh kekejaman junta militer Nigeria. Usai serangan itu, Kuti berkali-kali disiksa, ditangkap, dan dijebloskan ke penjara. Alasannya macam-macam, mulai dari tuduhan menculik perempuan, menggelapkan uang, hingga pembunuhan. Tapi, hampir semua tuduhan tak terbukti dan hanya jadi kedok untuk menutup mulut Kuti yang vokal melawan rezim.

Meski terus-terusan diserang, Kuti menolak tunduk pada rezim. Ia tetap melawan dengan musik, ucapan, dan tindakan. Serangan yang ditujukan kepadanya justru membikinnya makin kuat. Kuti membuktikan bahwa musik bisa menjadi senjata yang ampuh sekaligus sumbu keberanian untuk menggoyang tiran.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf