Menuju konten utama
12 April 1945

F.D. Roosevelt: Biang Perang atau Juru Damai?

Lagak paman Sam.
Berseru anti perang
lewat senapan.

F.D. Roosevelt: Biang Perang atau Juru Damai?
Ilustrasi Roosevelt. tirto.id/Gery

tirto.id - Franklin Delano Roosevelt mengalami kelumpuhan menjelang usia kepala empat saat karier politiknya mulai cerah. Pada 1921, ia divonis telah terserang penyakit poliomyelitis (polio) yang kala itu belum ditemukan obatnya.

Seperti dicatat James Tertius de Kay dalam Roosevelt's Navy: The Education of a Warrior President 1882-1920 (2013), Roosevelt waktu itu sebenarnya baru saja menuntaskan tugas sebagai Asisten Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat yang diembannya sejak 1913 hingga 1920. Namun, kelumpuhan memaksa Roosevelt harus menepi, kariernya pun terancam tamat lebih dini.

Putra daerah New York kelahiran 30 Januari 1882 ini tak lantas menyerah. Roosevelt bertekad mengalahkan penyakitnya itu, sabar menjalani pengobatan dan terapi, serta memperkuat jiwanya dengan memperdalam berbagai wawasan dan ilmu pengetahuan selama terbaring tanpa daya.

Kesabarannya berbuah baik. Tahun 1924, Roosevelt dinyatakan pulih dan mulai beraktivitas kembali, termasuk di kancah politik. Sebelum ditugaskan di Angkatan Laut AS, ia pernah menjadi anggota New York State Senat pada 1911-1913. Setelah sembuh dari lumpuh, Roosevelt siap berlari lebih jauh.

Terpilih sebagai Gubernur New York pada 1 Januari 1929 membuka peluang Roosevelt untuk menggapai mimpi menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam. Itulah yang kemudian terjadi. Ia memenangkan pemilihan umum 1932 dan dilantik sebagai Presiden AS ke-32 pada 4 Maret 1933.

Jabatan tertinggi ini terus didekapnya selama empat periode ke depan secara berturut-turut. Hingga akhirnya, Roosevelt wafat pada 12 April 1945, ketika masih menjabat sebagai Presiden AS. Nyawanya tak tertolong setelah terkena stroke saat menikmati liburan dalam fase-fase genting dalam masa Perang Dunia II itu.

Membangkitkan Paman Sam

Pada pemilihan umum 1932, Franklin Delano Roosevelt maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Hasilnya, ia menang dengan 57,4% suara, mengalahkan rivalnya dari Partai Republik sekaligus presiden petahana, Herbert Hoover, yang hanya meraih 39,7% suara.

Sepupu jauh Franklin, Theodore Roosevelt, juga pernah menjabat sebagai Presiden AS pada 1901 hingga 1909. James MacGregor Burns dalam Roosevelt: The Lion and the Fox (1956) menuliskan bahwa gaya kepemimpinan Theodore yang kuat dan semangat reformasi yang digaungkannya menjadi panutan bagi Franklin dalam memimpin Amerika (hlm. 24).

Tantangan yang amat berat sudah menanti Roosevelt sebagai presiden baru. Kala itu, AS mengalami krisis ekonomi terburuk yang terkenal dengan istilah “The Great Depression”. Dikutip dari The American Economy (2003), lebih dari 13 juta orang di AS menganggur dan sistem keuangan serta industri negara itu lumpuh (hlm. 200).

Berbagai terobosan dilakukan dalam program 100 hari pertama Roosevelt, termasuk menerapkan undang-undang federal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia meluncurkan program bantuan bagi pengangguran, petani, hingga perusahaan-perusahaan lokal, sembari mencari solusi pemulihan ekonomi. Pamornya pun meningkat berkat program-program yang diklaim bersifat lebih sosial dan demokratis.

Serangkaian program ambisius Roosevelt dikenal sebagai “New Deal”. Paket program pemulihan ekonomi ini, seperti diungkap Kevin Hillstrom dalam The Great Depression and the New Deal (2009), meliputi Civilian Conservation Corps (CCC), Civil Works Administration (CWA), Farm Security Administration, (FSA), National Industrial Recovery Act of 1933 (NIRA), Social Security Administration (SSA), dan lainnya.

Hasilnya signifikan. Masa-masa awal rezim Roosevelt ditandai dengan mulai pulihnya perekonomian negara, kendati belum sepenuhnya stabil. Keberhasilan inilah yang membuatnya terpilih lagi sebagai Presiden AS dalam pemilihan umum tahun 1936. Roosevelt meraih kemenangan telak dengan 60,8% suara atas penantangnya dari Partai Republik, Alf Landon.

Dua pemilihan umum berikutnya, 1940 dan 1944, Roosevelt belum tergoyahkan, dengan mengantongi kemenangan masing-masing 54,7 serta 53,4 persen suara. Dengan demikian, Roosevelt tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang terpilih empat kali secara beruntun.

Berperang Demi Perdamaian?

Roosevelt ditunggu persoalan yang lebih pelik. Tak hanya urusan dalam negeri, ia juga harus bersikap dalam menghadapi situasi global yang kian memanas sejak Jerman menyerang Polandia pada September 1939. Perang Dunia jilid kedua sudah di depan mata yang melibatkan negara-negara Sekutu, kelompok fasis macam Jerman era Nazi, Italia, atau Jepang, juga blok Komunis yang dimotori Uni Soviet.

Awalnya, Roosevelt berusaha menghindari peperangan kendati tetap siap membantu negara-negara yang terancam diserang. Pada 29 Desember 1940, sebagaimana dicatat Frank McDonough dalam The Origins of the Second World War (2011), Roosevelt menyebut AS sebagai Arsenal of Democracy atau "Gudang Demokrasi", dengan, misalnya, akan memberikan bantuan militer kepada Inggris (hlm. 463).

Namun, AS tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok keperluan perang setelah Jepang menyerbu pangkalan militernya, Pearl Harbor, di Hawaii, pada 7 Desember 1941. Roosevelt kini menjadikan AS sebagai salah satu aktor utama Perang Dunia II, meskipun yel-yel “perdamaian” dan “demokrasi” tetap menjadi slogan yang terus digaungkan.

Sebelumnya, Roosevelt bersikukuh bahwa AS berada di pihak yang netral dan menjalankan apa yang ia sebut sebagai “upaya untuk perdamaian dan demokrasi”. Salah satunya adalah disepakatinya Piagam Atlantik bersama Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, pada 14 Agustus 1941. Di sinilah Roosevelt mencetuskan istilah “United Nations” yang nantinya diresmikan menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah ia wafat.

Pada 7 Desember 1941, Jerman dan Italia—menyusul serangan Jepang ke Pearl Harbor—menyatakan perang terhadap AS. Roosevelt pun semakin aktif dalam urusan gempur-menggempur ini. Sebelumnya, Jerman, Italia, dan Jepang, ditambah Hungaria, Slovakia, serta Rumania, seperti ditulis William L. Hosch dalam World War II: People, Politics, and Power (2009) telah membentuk Blok Poros atau Axis Powers (hlm. 61).

Setelah pernyataan perang Blok Poros itu, Roosevelt mengerahkan daya dan upaya yang dimiliki AS untuk menjalankan pertempuran total. Kemenangan AS yang kini bernaung di kubu Sekutu mulai terlihat pada 1943, terbantu dengan kalapnya Adolf Hitler yang juga memusuhi Uni Soviet, serta melemahnya Italia di bawah Benito Mussolini, hingga rentetan kekalahan Jepang.

Infografik Mozaik Franklin delano Roosevelt

Mati dalam Masa Rehat

Dalam Power and Culture: The Japanese-American War 1941-1945 (1981), Akira Iriye mencatat, pada November 1943, Roosevelt bersama Churchill bertemu dengan pemimpin Republik Rakyat Cina (RRC) Chiang Kai-shek di Kairo (Mesir) dan pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin di Teheran (Iran). Dua pertemuan ini membahas penuntasan masalah dengan Jerman dan Jepang serta rencana pascaperang (hlm. 154).

AS meraih kemenangan telak dalam Pertempuran Laut Filipina pada Juni 1944 dan membuat Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo meletakkan jabatannya. Jepang nantinya benar-benar lumat setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Sementara di Eropa, kekuatan Jerman semakin tergerus, juga Italia yang kian lemah dan terpecah-belah.

Tanggal 4 hingga 11 Februari 1945, Roosevelt, Churchill, dan Stalin bertemu di Yalta, kota pesisir di Semenanjung Krimea yang terletak di ujung timur Eropa, untuk membahas rencana selanjutnya jika kemenangan sudah tercapai. Selepas pertemuan melelahkan itu, Roosevelt mengeluh sakit dan memutuskan berlibur sejenak ke Warm Springs, Georgia, AS.

Di tengah masa rehatnya itulah Roosevelt ternyata harus beristirahat selamanya. Pada 12 April 1945, tepat hari ini 73 tahun silam, ia terserang stroke lalu meninggal dunia dalam usia 63. Jabatan presiden kemudian diteruskan oleh wakilnya, Harry S. Truman.

F.D. Roosevelt, salah satu tokoh sentral dalam Perang Dunia II, tidak sempat melihat kemenangan resmi AS di peperangan terbesar itu. Ia juga tak pernah menyaksikan tewasnya Mussolini pada 28 April 1945, kematian Hitler yang bunuh diri dua hari kemudian, juga luluh-lantaknya Jepang akibat bom atom AS.

Baca juga artikel terkait PRESIDEN AMERIKA SERIKAT atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Politik
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan