Al-Ilmu Nuurun

Fazlur Rahman: Ijtihad Sang Pemikir Modernis Pakistan dari Chicago

Fazlur Rahman. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 27 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Modernisme Fazlur Rahman memang kontroversial. Tapi sumbangannya begitu besar bagi khazanah intelektual Islam kontemporer.
Nama yang tak asing di telinga aktivis dan pengkaji Islam di Indonesia, Fazlur Rahman Malik atau biasa dikenal dengan Fazlur Rahman, memiliki dua dimensi yang saling melengkapi. Pertama, ia dianggap sebagai pembelajar terbaik pada abad lalu soal sejarah intelektual Islam. Kedua, ia pemikir reformis-modernis yang harus menghadapi implikasi pahit dari apa yang ia lontarkan. Rahman menyukai sejarah apa adanya, namun ia sendiri bergulat dengan "sejarah" reaktif yang dilontarkan sebagian kalangan konservatif.

Sebelum ia mengasingkan diri pada 1968 ke Amerika dan mengajar di California lalu berpindah permanen ke Chicago, Rahman ialah sejarawan intelektual dan pemikir yang dihormati banyak kalangan di Pakistan. Silsilah intelektualnya lengkap. Ayahnya seorang alim dengan pengetahuan luas dan mengajarinya di rumah. Rahman, hafal Al-Qur'an pada umur 10, dikirim ke sebuah dar al-ulum yang kita sebut di sini sebagai ‘pesantren’.

Latar belakang itu mengingatkan kita kepada pendidikan awal Nurcholish Madjid, salah satu murid terkemuka Rahman. Setelah lulus kuliah di Punjab, Rahman lalu belajar filsafat Islam dan filsafat Yunani di Oxford dan pada 1949 menyelesaikan disertasi tentang psikologi Ibnu Sina di bawah bimbingan S. van den Bergh dan H.A.R. Gibb. Dari sini, ia mempunyai segudang penguasaan bahasa klasik termasuk Yunani dan Latin.


Perdana Menteri Ayyub Khan meminta Rahman memimpin lembaga penelitian prestisius bernama Institute of Islamic Research, padahal sejak lulus dari Oxford ia sudah berkarier satu dekade di Barat. Justru Rahman merasa panggilan pulang itulah kesempatan emas untuk mengembangkan pemikiran Islamnya. Pada periode ini ia banyak menulis di jurnal di negerinya dan menerbitkan buku yang tak mudah diterima kalangan tradisional. Beberapa di antaranya adalah Metodologi Islam dalam Sejarah (pertama kali diterbitkan pada 1965) dan Islam (1979)—dua buku yang sebetulnya membuka mata tentang kekayaan tradisi intelektual Islam dari berbagai sisi.

Tapi Rahman sudah sadar. Dalam kata pengantarnya di Metodologi Islam dalam Sejarah, ia memprediksi bahwa kalangan tradisionalis tak mungkin menerima penemuannya dengan mudah. Ia mengajak pada keterbukaan historis dan objektivitas. “Saya yakin sebagai seorang Muslim,” ungkap Rahman, “bahwa baik Islam maupun kaum Muslim tidak akan menderita dalam menghadapi fakta sejarah yang tersingkap; justru sebaliknya, kebenaran historis, sebagaimana kebenaran lainnya, akan menghidupkan Islam.”

Sikap hormat atas kecendekiaan Rahman muncul dari mana-mana. Ia sendiri seorang yang menghormati Abul A’la Maududi, pemikir berpengaruh dan pendiri gerakan Jamaat-e-Islami yang memperjuangkan konsep syariah Islam yang ketat. Buku Islam dan Modernitas: Transformasi sebuah Tradisi Intelektual yang diterbitkan pada 1982 memuat sikap pribadi Rahman yang, kita percaya, amat tulus. Ia menyebut dalam kata pengantar bukunya bahwa dua intelektual Pakistan berpulang: Abul A’la Maududi dan sejarawan Istihaq Husein Qureshi. Jauh dari Amerika di zaman pra-internet, ia mengenang dua lawan sekaligus kawan itu. “Wafatnya mereka,” tulis Rahman, “ialah kehilangan bagi Islam, terlepas dari kritik keras saya yang, saya yakini, sangat benar atas mereka.”

Akademisi & Transformator Perubahan Sosial

Pemikiran Rahman selama periode Chicago ditopang proyek yang didanai Ford Foundation. Proyek itu, bernama Islam and Social Change yang ia pimpin sendiri bersama dengan ilmuwan politik Leonard Binder, tentu tak bisa dilepaskan dari iklim demokratisasi dan geliat modernisasi serta dampaknya bagi berbagai aspek kehidupan, termasuk agama. Banyak ilmuwan muda terlibat dalam proyek ini, salah satunya Nurcholish Madjid, yang diundang beberapa kali ke Chicago sebelum memulai doktoralnya, untuk menulis monograf tentang negeri-negeri muslim. Sementara Rahman menelisik sistem pendidikan Islam klasik yang mewakili "intelektualisme Islam" yang menjadi ruh dari kelembagaan pendidikan tinggi Islam. Rahman membidik jiwa di dalam raga.


Dari sini, seperti ditunjukkan dalam Islam dan Modernitas, ia menelisik kegagalan sistem pendidikan Islam serta upaya reformasi berdasarkan apa yang ia sebut sebagai a unitary vision of the Qur’anic weltanschauung. Rahman mampu menyatukan berbagai cakrawala dalam tradisi Islam dalam rangka kontekstualisasi untuk zaman modern. Peran Rahman sebagai filsuf modernis Islam di sini unik karena menggabungkan fungsinya sebagai akademikus dan "reformator" pada periode sebelum ilmuwan pengkaji Islam lebih banyak didorong iklim Islamic studies pasca-Hagarisme Patricia Crone dan Michael Cook (1977) untuk memproduksi pengetahuan secara objektif tanpa ikut berkecimpung sebagai pembaharu dalam tradisi agama.



Posisi Rahman, karena itu, unik dan dalam konteks Indonesia menjadi inspirasi bagaimana seorang akademikus bisa menerapkan keterbukaan dan objektivitas tapi untuk tujuan organis sebagai intelektual, yakni perubahan sosial. Baru-baru ini, Megan Brinkley dari Princeton menulis apik dalam disertasinya bahwa selama dekade 1970-an hingga 1980-an Rahman mendayagunakan posisinya sebagai profesor tidak hanya untuk berbicara kepada sesama akademikus melainkan juga memberi saran pada banyak pemerintah muslim. Pada tahun-tahun terakhirnya, ia banyak menarik perhatian mahasiswa muslim untuk belajar ke Chicago dan menjadikan kelasnya di Hyde Park serupa "a modernist madrasa".

Megan menyebut peran Rahman ini sebagai fusionisme yang menyatukan universalitas tradisi Barat dan Islam, sebagaimana pernah dicontohkan Muhammad Iqbal yang mengombinasikan relativitas Einstein dan interpretasi Quranik dalam Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam. Rahman, karena itu, sangat rentan mendapat kritik dari lawannya di Pakistan yang bahkan menudingnya dengan emosi, sebagaimana kemarahan reaksioner atas geliat pemikiran Islam di Indonesia.

Pemikir pascakolonial di kampus Barat juga mengecam fusionisme-nya sebagai sebuah kapitulasi pada sekularisasi epistemologi Barat. Pemikir poskolonialisme menuding Rahman menyerah, atau setidaknya mengelak, pada proyek imperial Barat yang ingin melakukan dominasi di negeri muslim.

Kegigihan Rahman untuk mempertanyakan yang sudah baku seperti soal riba dan hukum potong tangan mendapat reaksi positif sekaligus negatif. Ia juga banyak menafsir ulang konsep-konsep mapan yang diterima umum. Misalnya soal apakah sunah itu sama dengan hadis. Rahman berargumen bahwa generasi muslim awal menganggap sunah merupakan ajaran teladan Rasul yang lalu ia sebut sebagai ‘the living Sunnah’. Sunah hidup ini, menurutnya, mendorong muslim untuk menggunakan pemikiran akalnya (ra’y), penalaran analogis (qiyas), dan penalaran hukum (ijtihad) dalam rangka menafsirkan ulang teladan Nabi sesuai dengan situasi sosial yang baru.

Pendekatan tersebut ia gabungkan dengan metodenya sendiri untuk mengaplikasikan hermeneutika Al-Qur'an yang ia bangun di Chicago. Menurut salah seorang muridnya yang berasal dari Turki, Alparslan Açıkgenç, Rahman melakukannya tanpa mengunakan tafsir tradisional. Jejak pemikiran modernis ini jelas terlihat dalam dinamika muslim Indonesia.

Bagi kalangan yang tak menyetujui atau bahkan tak menyukai kiprah kontroversial Rahman, mereka tetap tak bisa berkelit dari sumbangan Rahman dalam membaca sejarah intelektual Islam. Penelaahannya atas berbagai aspek intelek dari masa Yunani hingga masa Mulla Sadra di Persia abad ke-17 masih merupakan karya klasik yang terus dirujuk. Penafsiran historis dan filosofisnya atas Ibn Sina dan khususnya Mulla Sadra adalah pembuka bagi sarjana lain untuk menelaah suatu tradisi filsafat yang dinamis, orisinal, dan bergairah. Di Indonesia, kita ketahui hal ini dalam karya dan autobiografi salah satu murid Rahman yang paling bontot, Mulyadhi Kartanegara.

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight