Fatwa Mati Ancam Nyawa Salman Rushdie Selama Tiga Dekade

Salman Rushdie. AP/Grant Pollard/Invision.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 14 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Eskalasinya meningkat sejak Ayatullah Khomeini memfatwa mati Salman Rushdie pada perayaan Valentine 1989. Sempat selamat dari teror bom jihadis, semangat menulis Rushdie tak surut.
tirto.id - “Saya tidak ingin lagi hidup secara sembunyi-sembunyi,” kata Salman Rushdie, saat mengunjungi Paris, sebagaimana dikutip AFP, Minggu (11/2/2019) waktu setempat.

Nama sang novelis pernah jadi perbincangan publik setelah pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatullah Khomeini menjatuhkan fatwa hukuman mati kepadanya. Selama tiga dekade ia perlu memakai nama palsu, meninggalkan tanah kelahiran, dan membutuhkan penjagaan aparat saat menghadiri acara di luar rumah.

“Saat itu usiaku 41 tahun. Sekarang 71. Kondisinya kini sudah baik-baik saja. Kita hidup di dunia di mana topik perbincangan berubah dengan sangat cepat. Dan ini (fatwa mati) adalah topik yang sangat lampau. Ada banyak hal yang lebih patut dikhawatirkan—dan orang lain untuk dibunuh.”

Ahmed Salman Rushdie lahir pada 19 Juni di Mumbai, saat kota tersebut masih bernama British India. Keluarganya muslim asal Kashmir, wilayah yang gejolak politiknya belum benar-benar padam hingga hari ini.

Ayahnya Rushdie pengacara dan pebisnis. Wajar jika Rushdie bisa mendapatkan pendidikan yang bagus. Usai menamatkan sekolah menengah atas, ia belajar ilmu sejarah di King’s College, University of Cambridge, Inggris. Studi ini amat mempengaruhi karya-karya fiksinya setelah lulus.

Novel kedua, Midnight’s Children (1981), yang mengorbitkan nama Rushdie ke jajaran penulis kenamaan karena di tahun penerbitan pertamanya diganjar Booker Prize. Pada 1993 dan 2008 novel tersebut dianugerahi Best of the Bookers, bersamaan dengan perayaan Booker Prize ke-25 dan ke-40.

Karya fiksi Rushdie rata-rata berlatar belakang di kawasan anak benua India. Ia mengangkat realisme magis ke dalam tema-tema yang kerap mengangkat persinggungan peradaban antara Timur dan Barat. Ia juga banyak memasukkan elemen-elemen fiksi sejarah, yang secara tak langsung menimbulkan kontroversi.

Misalnya Shame (1983), novel ketiganya, menggambarkan kekacauan politik di Pakistan dengan mendasarkan karakternya pada Zulfikar Ali Bhutto dan Jenderal Muhammad Zia ul-Haq. Atau Midnight’s Children sendiri yang memancing kemarahan Indira Gandhi yang menafsirkan novel itu sebagai penggambaran tanggung jawab Gandhi terhadap kematian suaminya.


Fatwa kematian untuknya datang dari novel keempatnya, The Satanic Verses, yang terbit pada September 1988.

Myriam Renaud, dalam kolomnya untuk The Conversation, mencatat pangkal persoalannya dari kepercayaan dalam Islam bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril selama 22 tahun. Jibril menyampaikan ayat-ayat dari Allah lalu Muhammad bertugas menyampaikannya ke umat.

Satanic Verses mengambilnya sebagai referensi fiksi sejarah. Salah satu karakter utamanya, Gibreel Farishta, mengalami beberapa kali mimpi di mana ia menjadi malaikat Gibreel (terbaca Jibril). Di dalam mimpi ia bertemu dengan karakter sental lain yang bagi umat Islam dengan mudah ditafsirkan sebagai personifikasi Muhammad.

Rushdie pun memilih nama karakter Mahound, yang hampir terdengar seperti “Muhammad”. Sejarah mencatat “Mahound” adalah nama panggilan alternatif yang kadang digunakan sejumlah orang Kristen pada Abad Pertengahan. Orang-orang Kristen ini menganggap Muhammad sebagai perwujudan setan.

Ada banyak bagian lain dalam novel yang dengan mudah ditafsirkan sebagai potongan sejarah Muhammad. Judul novel, misalnya, merujuk pada legenda di mana Muhammad mengucap beberapa ayat yang seharusnya jadi bagian dalam Al Quran, tapi kemudian ditarik dengan alasan sumber ayat ternyata bukan dari Allah, tapi dari setan.

Buku itu segera memancing reaksi kemarahan dari komunitas Muslim di berbagai negara. Rushdie melalui Satanic Verses dianggap telah menghina Muhammad dengan dalih kebebasan berbicara.

Viking Penguin, penerbit pertama buku ini, diminta untuk menghentikan proses distribusi novel. Impor buku dilarang di India sebulan setelah Satanic Verses terbit. Pelarangan buku kemudian menyebar ke berbagai negara, terutama yang mayoritas muslim seperti Bangladesh, Sudan, Sri Lanka, hingga ke Indonesia.

Demonstrasi anti-Rushdie merebak di mana-mana. Beberapa ada yang berakhir ricuh dan menimbulkan rusaknya fasilitas umum. Muncul insiden penyerangan terhadap orang-orang yang menerjemahkan buku, juga ke rumah-rumah penerbit, sampai timbul korban jiwa.


Kondisi ini memaksa Rushdie untuk bersembunyi dan mendapat perlindungan dari pemerintahan Inggris. Kehidupannya berubah drastis. Ia mendapat pengawalan khusus tiap kali berada di luar rumah. Rushdie pun lebih banyak memakai nama samaran.

Eskalasi ancaman makin tinggi kala Khomeini memfatwa mati Rushdie pada 14 Februari 1989. Khomeini memproklamirkannya melalui Radio Tehran. Sejak saat itu terkumpul uang dalam jumlah besar bagi siapa saja yang bisa mengeksekusi Rushdie.

Rushdie selalu menyangkal segala tuduhan telah menistakan Islam atau Nabi Muhammad. Alih-alih anti-agama, imbuhnya, ia justru menekankan bahwa Satanic Verses bertema utamakan migrasi dan transformasi yang dialami oleh para karakternya.

“Aku sangat sedih bahwa (fatwa mati dan ancaman) itu mesti terjadi. Tidak benar bahwa buku ini adalah penistaan terhadap Islam,” katanya kepada BBC Radio 4, sebagaimana dikutip Guardian.

Saya sangat ragu kalau Khomeini atau orang lain di Iran benar-benar membaca novel saya, atau barangkali mereka hanya memilih beberapa bagian yang di luar konteks,” imbuhnya.

Melalui kolom di The Observer ia bahkan pernah menyebut Muhammad sebagai salah satu jenius terbesar dalam sejarah dunia. Meski demikian Rushdie menolak untuk menempatkan Muhammad sebagai satu entitas sempurna. Baginya, doktrin Islam pun menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia.

Melalui beberapa wawancara, termasuk dalam otobiografi singkat yang Rushdie tulis untuk New Yorker, ia hanya menyayangkan kemunculan pendapat bahwa Islam tidak bisa dikritik. Ia tidak pernah menyesal telah menulis Satanic Verses. Ia bahkan berharap dulu bisa menulis buku yang lebih kritis.

“Sebuah agama yang pemimpin-pemimpinnya bersikap seperti itu (gampang marah atau memfatwa mati) barangkali memang memerlukan sedikit kritik.”


Para penentang Rushdie bak menutup kuping atas konfirmasi-konfirmasi itu. Fatwa mati yang diangkat Khomeini juga bukan satu-satunya. Pada Maret 2013, misalnya, organisasi teroris Al Qaeda menerbitkan most-wanted list berisi nama orang-orang yang dianggap telah menistakan Islam. Nama Rushdie tercantum di dalamnya.

Rushdie selalu disejajarkan dengan para seniman yang dianggap telah menghina Nabi Muhammad, mulai dari Denmark, Norwegia, hingga Perancis. Ancaman paling nyata kepada Rushdie terjadi pada 3 Agustus 1989, dari seorang pria bernama Mustafa Mahmod Mazeh.



Mengutip arsip Times Online, Mazeh bersenjatakan buku yang di dalamnya mengandung bahan peledak jenis RDX. Ia menginap di sebuah hotel di Paddington, London. Namun, bom meledak secara prematur sebelum sempat dibawa ke dekat Rushdie.

Ledakan bom menghancurkan dua lantai hotel sekaligus membunuh Mazeh sendiri. Organisasi Mujahidin Islam yang berasal dari Lebanon menyatakan Mazeh saat itu sedang menjalankan serangan “terhadap Rushdie yang murtad”.

Ada sebuah kuil di Behesht-e-Zahra, pemakaman terbesar di Iran, yang dibangun untuk menghormati Mazeh. Di salah satu bagian kuil terdapat tulisan “Martir di London, 3 Agustus 1989. Martir pertama yang mati dalam misi membunuh Salman Rushdie.”


Tiga dekade berlalu sejak Satanic Verses pertama terbit dan memicu kontroversi. Pada 1998 mantan presiden Iran Mohammad Khatami menyatakan fatwa mati Rushdie sudah tak berlaku. Tapi kenyataannya Ali Khameini dan ulama Iran lain masih menggaungkannya di atas mimbar, hingga hari ini.

Dua tahun lalu Guardian pernah melaporkan bahwa 40 media pemerintah di Iran mengumpulkan uang sebanyak $600.000 untuk menambah hadiah bagi orang yang berhasil mengeksekusi Rushdie. Kini diperkirakan totalnya sudah di kisaran $3 juta.

Hidup bak seorang pelarian tentu tidak mengenakkan. Tapi kontroversi seputar Satanic Verses tidak menghentikan proses kreatif Rushdie. Ia tetap menulis novel-novel yang menarik perhatian kritikus maupun pembaca, menerbitkan kumpulan cerpen, menulis esai di berbagai media kenamaan, hingga menjajaki dunia kepenulisan non-fiksi.

Dengan atau tanpa Satanic Verses, Rushdie adalah novelis dengan segudang penghargaan. The Times menempatkannya ke dalam daftar 50 penulis Inggris terbaik sejak 1945. Pada bulan Juni 2007 Ratu Elizabeth II memberinya gelar kebangsawanan karena jasanya dalam bidang literatur.

Sejak tahun 2000 Rushdie tinggal di Amerika Serikat. Ia sempat mengajar di Emory University, sambil sesekali membagikan pemikiran serta pengalamannya di berbagai forum diskusi buku. Pada 2012 ia mempublikasikan Joseph Anton: A Memoir—otobiografi tentang kehidupannya yang sembunyi-sembunyi.

Baca juga artikel terkait KASUS PENODAAN AGAMA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight