Fashion Show Pertama Kali Dalam Sejarah Arab Saudi

Oleh: Joan Aurelia - 25 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Arab Fashion Week menampilkan busana selain abaya. Pria dan fotografer dilarang hadir dalam acara.
tirto.id - Seorang model wanita berdiri di panggung peragaan busana dengan mengenakan terusan merah panjang tanpa lengan yang memperlihatkan sebagian besar kulit punggungnya. Baju itu boleh panjang, tetapi bahannya ialah kain transparan yang memperlihatkan seluruh bagian kaki. Model itu berjalan di pagelaran Arab Fashion Week 2018 yang diselenggarakan di Riyadh pada 10-14 April. Sang model mengenakan rancangan Rana Yousry, pemilik label fesyen Asory.

Pada Arab News, Yousry berkata ia ingin mencerminkan wanita yang berani, kuat, dan punya kekuasaan. “Mengenakan Asory tidak sekadar memakai baju melainkan juga kisah-kisah yang ada di baliknya,” kata desainer asal Mesir ini. Akun Instagram Arab Fasion Council turut menampilkan foto karya Yousry dengan menyebut bahwa desainer wanita itu telah membuat sejarah dengan memilih untuk menampilkan koleksi terbaru di Arab Fashion Week Riyadh yang baru diadakan untuk pertama kalinya.

Pekan mode pertama ini tidak berjalan mulus. Terjadi pengunduran waktu penyelenggaraan acara. Seharusnya, pekan mode diselenggarakan pada akhir Maret. Kedua, ada perubahan tempat. Tadinya peragaan busana akan diadakan di Apex Convention Center Riyadh. Akhirnya acara diadakan di The Ritz-Carlton Hotel Riyadh. Panitia berkata, waktu harus diubah agar seluruh tamu yang diharapkan bisa hadir.

Jacob Brian ialah inisiator pekan mode ini. Pria kelahiran 1992 ini pernah menjadi model merek-merek fesyen terkenal seperti Roberto Cavalli. Ia disebut sebagai model internasional pertama yang berdarah Arab. Di usia 22, ia mendirikan Arab Fashion Council.

“Selama ini Arab Saudi dikenal memiliki tim pembeli yang bagus. Yang dilakukan hanya impor barang-barang premium dari luar negeri. Arab Saudi belum bisa memberikan sesuatu bagi dunia luar. Saya pikir ini tidak sehat. Pekan mode ini adalah salah satu momen yang bertujuan untuk mengajak desainer asal negara Arab untuk kembali berkarya di sini,” katanya dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi lokal .


Pekan mode Arab mengundang sejumlah desainer dari Mesir, Lebanon, dan Arab Saudi; serta beberapa label busana premium asal Eropa seperti Jean-Paul Gaultier, Roberto Cavalli, dan Ralph & Russo. Nada suara Jacob dalam wawancara menyiratkan keyakinan bahwa Arab Saudi mampu jadi kota fesyen kelima setelah Paris, Milan, New York, dan London. Oleh karena itu ia tak ragu mengundang label internasional untuk memperagakan koleksinya di Riyadh. Di mata Jacob, masyarakat Saudi punya ambisi untuk berkarya bagi masa depan.

Keyakinan Jacob cukup masuk akal. Dari sisi perekonomian, sektor mode di Arab Saudi tumbuh sekitar 73% dalam setahun. Lembaga riset Euromonitor menyebut Arab Saudi masih dikenal dengan budaya belanja. Berbelanja masih jadi salah satu kegiatan mewah dan hiburan populer masyarakat yang disebut konglomerat retail-tainment. Forbes menyebut bahwa Arab Saudi akan menjadi pasar menjanjikan bagi industri mode. Pada tahun 2015, keuntungan penjualan modest wear mencapai 44 miliar dolar. Jumlah itu diprediksikan akan meningkat pada tahun 2018.

Infografik arab fashion week


Selain dari data, kata-kata Pangeran Mohammed Bin Salman Al Saud membuat praktisi ranah mode di Arab Saudi serius dalam mengeksplorasi mode. New York Times menulis perkataan Sang Pangeran yang menyatakan wanita tidak harus mengenakan hijab atau abaya hitam. Yang penting penampilan tetap terkesan sopan dan terhormat. Perkataan ini menjadi patokan baru di negara yang tadinya dikenal sebagai tempat paling konservatif di antara negara-negara Arab.

Pangeran seolah tidak ingin menutup mata terhadap fakta bahwa daerah Arab Saudi sebagian besar terdiri dari wanita milenial yang gayanya terinspirasi dari tren di Eropa dan Amerika Serikat. Label-label busana newah sesungguhnya telah masuk ke Arab Saudi sejak tahun 1980an melalui Rubaiyat, pusat perbelanjaan barang premium. Rubaiyat masih menghasilkan keuntungan sampai hari ini lewat beberapa label seperti Balenciaga, Dolce & Gabbana, Giorgio Armani, Lanvin, Ermenegildo Zegna, dan Burberry.




Artikel Fashion Marketing in Arab World : Brand Identity vs Adaptation (PDF) menyebut bahwa konsumer di negara tersebut cukup loyal terhadap lini mode yang mereka sukai. Mereka punya kecenderungan untuk membeli benda-benda premium yang dilansir oleh rumah mode internasional. Kualitas dan sejarah dari label busana jadi dua faktor penentu pembelian. Selain itu, konsumer gemar membeli barang yang membuat mereka merasa muda, berkharisma, dan terkesan internasional.

Puteri Noura binti Faisal Al Saud, presiden Arab Fashion Council, lembaga yang menaungi Arab Fashion Week berkata kebiasaan berlibur membuat wanita Arab Saudi menemukan gaya baru dalam mode. “Mereka lebih percaya diri dan berani dalam menentukan gaya busana. Hal itu memberi mereka gaya personal yang sangat Saudi. Saya menyukainya. Wanita bisa tampil cantik dan kuat lewat gayanya.”

Dalam artikel As Saudi Arabian Society Opens, a Fashion Reporter Looks Past the Runway, The NewYork Times turut memuat pendapat Hala al-Harithy, influencer dan stylist yang menyatakan Arab Saudi telah melihat sisi positif dari perubahan yang terjadi. Banyak perempuan yang telah menunggu acara seperti Fashion Week di kota tersebut.

Jacob punya keinginan yang lebih besar dari sekadar menyelenggarakan peragaan busana. Ia ingin membentuk sistem mode baru. Caranya ialah membagi negara arab jadi beberapa bagian. Kawasan Mesir akan difokuskan jadi tempat untuk mendapatkan tekstil dan material. Pakistan akan jadi tempat untuk memberi sentuhan akhir atau finishing pada produk. Dubai, Abu Dhabi, dan Saudi Arabia akan jadi tempat berdagang yang mampu menarik pembeli dari berbagai negara.

“Pekan mode adalah cara pemasaran untuk berkata ‘Ini adalah Arab Saudi. Kami menerima segala jenis lini busana mulai dari couture sampai ready to wear. Lokal atau internasional. Anda dipersilakan untuk datang,” kata Puteri Noura .

Baca juga artikel terkait MODE atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono