Faktor, Pola, dan Kekuatan yang Pengaruhi Interaksi Desa-Kota

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 28 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sebuah wilayah memerlukan kehadiran wilayah lain untuk tetap menjaga eksistensinya. Termasuk antara kota dan desa.
tirto.id - Interaksi wilayah diperlukan untuk saling melengkapi berbagai macam kebutuhan yang mungkin tidak bisa dicukupi oleh sebuah wilayah.

Sebuah wilayah memerlukan kehadiran wilayah lain untuk tetap menjaga eksistensinya. Termasuk antara kota dan desa, keduanya saling berhubungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan kepentingan. Kota dan desa melakukan interaksi wilayah.

Mengutip laman Sumber Belajar Kemendikbud, interaksi wilayah diartikan sebagai hubungan timbal balik yang saling memengaruhi dua wilayah atau lebih. Pola interaksi itu bisa menimbulkan gejala, kenampakan, dan permasalahan baru, yang bisa muncul secara langsung atau tidak langsung.

Dalam interaksi wilayah, hal-hal yang akan terpengaruh sangat beragam karena merupakan sebuah hubungan timbal balik. Beberapa hal yang dapat muncul adalah pergerakan manusia, pergerakan informasi atau gagasan, dan pergerakan benda atau materi.

Pergerakan manusia, misalnya, bergeraknya orang dari desa ke kota, dan sebaliknya. Pergerakan informasi, contohnya, informasi keadaan suatu wilayah. Lalu, pergerakan benda seperti distribusi barang dari kota ke desa, atau sebaliknya.

Sementara itu, interaksi wilayah juga dapat menimbulkan gejala, kenampakan dan permasalahan baru. Hal ini dapat bermakna positif, tetapi bisa pula bersifat negatif.

Contoh kenampakan positif yaitu terjadi perkawinan antar-suku yang punya budaya berbeda. Dan, contoh permasalahan baru seperti urbanisasi yang tidak terkendali yang menimbulkan kekurangan sumber daya manusia di suatu wilayah.


Edward Ullman, pakar geografi dari Amerika Serikat menemukan, interaksi wilayah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Potensi berbeda yang dimiliki tiap wilayah membuat berbagai wilayah menciptakan hubungan timbal balik untuk tujuan saling melengkapi (regional complementarity).

2. Muncul kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity). Kedua wilayah mempunyai hubungan timbal balik dan tidak ada pihak ketiga yang membatasi kesempatan itu. Kehadiran pihak ketiga dapat menghambat atau melemahkan interaksi wilayah.

3. Terdapat kemudahan pada urusan pemindahan atau transfer dalam ruang. Artinya, perpindahan baik manusia, informasi, hingga barang dapat dilakukan dengan mudah. Biasanya hal-hal itu berpengaruh pada biaya transportasi, jarak, dan sebagainya. Transfer lancar maka lebih besar lagi arus komoditas.

Kekuatan Interaksi Wilayah

Interaksi wilayah antara kota dan desa sangat penting agar masing-masing mampu mencukupi kebutuhannya. Kekuatan interaksi kedua pun dapat diukur secara matematis. Mengutip dari Modul Geografi Kelas XII Tema 13: Interaksi Desa-Kota (Kemendikbud, 2020), setidaknya ada tiga rumus yang digunakan untuk menghitungnya.

1. Rumus Carrothers

Dalam rumus Carrothers, kekuatan hubungan ekonomis dua wilayah berbanding lurus dengan jumlah penduduk, dan berbanding terbalik dengan jaraknya. Jika dibuat dalam rumus matematika, pernyataannya sebagai berikut:

I = P1 x P2 / J

Keterangan:
I: Interaksi wilayah A-B
P1: Jumlah penduduk salah satu dari dua kota
P2: Jumlah penduduk dari kota yang lain
J: Jarak antara dua kota

2. Hukum Gravitasi

Hukum gravitasi dari Newton dapat pula diterapkan untuk menghitung kekuatan interaksi wilayah. Hukum tersebut menyatakan dua buah benda memiliki gerak tarik-menarik yang kekuatannya berbanding lurus dengan hasil kali kedua massa benda itu, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak benda tersebut. Rumus yang dipakai seperti berikut:

I AB = PA x PB / (DAB)²

Keterangan:
I AB: Interaksi wilayah A – B
PA: Jumlah penduduk wilayah A
PB: Jumlah penduduk wilayah B
DAB: Jarak wilayah A – B

3. Rumus Titik Henti

Dalam rumus ini, kekuatan interaksi dua wilayah ditentukan dengan rumus titik henti yang ditemukan William J. Reilly. Rumusnya sebagai berikut:

TH AB = J AB / 1+ √ PA / PB

Keterangan:
TH AB: jarak lokasi titik henti yang dikur dari pertumbuhan dengan jumlah penduduk lebih kecil.
J AB: jarak antara pusat pertumbuhan A dan B
PA: jumlah penduduk pusat pertumbuhan A yang lebih besar
PAB: jumlah penduduk pusat pertumbuhan B yang lebih kecil


Baca juga artikel terkait INTERAKSI DESA KOTA atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Ibnu Azis
DarkLight