Menuju konten utama

Faisal: Sektor Jasa Potensial Sumbang Pendapatan daripada Ekspor

Presiden Joko Widodo kerap berulang kali mengemukakan soal kunci pertumbuhan ekonomi yaitu sektor ekspor dan investasi. Namun kenyataannya strategi tersebut sudah usang.

Faisal: Sektor Jasa Potensial Sumbang Pendapatan daripada Ekspor
Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Senin (18/3/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

tirto.id - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri

menilai, pendapatan negara di sektor jasa jauh lebih potensial daripada sektor ekspor dan investasi.

"Itu salah (ekspor dan investasi). Penyumbang devisa terbesar itu jasa dan dua terbesar itu ada di tourism, industri mamin (makanan dan minuman) kalah lah. Kemudan tenaga kerja yang menghasilkan pendapatan miliaran dolar. Jadi negara ini memang negara jasa," ungkap dia dalam diskusi 'Ekonomi Dunia Melambat Bagaimana Nasib Ekspor', di Hotel Milenium, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).

Menurut Faisal, Presiden Joko Widodo kerap berulang kali mengemukakan soal kunci pertumbuhan ekonomi yaitu sektor ekspor dan investasi. Namun kenyataannya, kata dia, strategi tersebut sudah usang.

Pendapatan negara di sektor pariwisata, kata dia, mencapai 14 miliar dolar AS. Kemudian, sektor penyaluran tenaga kerja ke luar negeri mendapat devisa 25 miliar dolar AS.

Faisal juga mengatakan, jika pemerintah masih fokus sektor ekspor dan investasi, maka perkembangan Indonesia akan tertinggal jauh dengan negara lain.

Belum lagi, kata dia, para pesaing di beberapa negara tetangga sudah begitu kuat seperti Vietnam, Thailand Laos sampai Kamboja.

"Ibarat usaha, kemudian pemerintah memberikan insentif itu mah jaman dulu balik badan itu kalau malah berkembangnya ke padat karya lagi. Jangan sampai kemudinya ke arah yang salah, tapi kan itu kasarnya, tapi sadarilah in negara sudah jadi negara jasa," papar dia.

Diketahui, penurunan ekspor industri pengolahan selama 2 bulan pertama 2019 dipicu oleh penurunan permintaan global.

Berdasarkan data BPS, ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-Februari 2019 tercatat senilai 19,61 miliar dolar AS atau turun 5,96 persen secara tahunan.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, awal tahun ini, beberapa produk industri pengolahan mengalami penurunan ekspor, seperti produk elektronik dan kendaraan bermotor.

Penurunan ekspor ini dipengaruhi oleh permintaan global yang juga berkurang, terutama dari Tiongkok dan Amerika Serikat seiring perlambatan ekonomi global.

Baca juga artikel terkait EKSPOR atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Bisnis
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Zakki Amali