Menuju konten utama

Faisal Basri Sebut Penguatan Rupiah & IHSG karena Faktor Eksternal

Ekonom Faisal Basri menilai tren positif penguatan rupiah dan IHSG lebih disebabkan karena kelebihan modal investor akibat kebijakan ekonomi negara tetangga.

Faisal Basri Sebut Penguatan Rupiah & IHSG karena Faktor Eksternal
Ekonom senior Faisal Basri. Antara Foto/Audy Alwi.

tirto.id - Ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri menyangsikan penguatan rupiah dan indeks harga saham gabungan terjadi belakangan ini. Faisal menilai tren positif kedua indikator itu lebih disebabkan karena kelebihan modal investor akibat kebijakan ekonomi negara tetangga.

Dengan demikian, ia menilai kabar baik itu hampir tidak terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia.

“Jadi harus diingat bahwa rupiah menguat adalah refleksi dari pasokan dolar yang meningkat luar biasa masuk ke Indonesia melalui utang global bonds. Jadi tidak ada hubunganya dengan penanganan (COVID-19) buruk atau tidak,” ucap Faisal dalam diskusi virtual, Rabu (10/6/2020).

Faisal menjelaskan saat ini negara-negara asing banyak menggelontorkan kebijakan moneter dan insentif. Misalnya stimulus sampai quantitave easing yang menyebabkan investor mengalami kelebihan likuiditas.

Di tengah kelebihan likuiditas itu mereka memilih memutar uangnya dengan membeli surat utang pemerintah. Pasalnya rata-rata bunga surat utang pemerintah sendiri mencapai 7-8 persen dan menarik bagi investor asing yang sebagian besar suku bunganya rendah bahkan mendekati nol persen.

“Mereka masuk ke Indonesia membeli surat utang karena bunganya, tapi bukan untuk tujuan jangka panjang,” ucap Faisal.

Melihat cara rupiah menguat seperti itu, Faisal tak yakin rupiah bisa terus perkasa.

Jika aliran modal asing itu ditarik kembali baik entah karena alasan pemburukan kasus COVID-19 di Indonesia maupun situasi perekonomian global, maka surat utang itu dengan mudah ditarik sehingga BI harus turun tangan dan menambalnya dengan cadangan devisa.

Permasalahannya, Faisal yakin ada banyak global bond baru-baru ini yang 100 persen dimiliki asing termasuk yang berdenominasi valas. Belum lagi hingga Desemebr 2019 saja, kepemilikan asing atas surat utang denominasi rupiah atau lokal masih cukup tinggi setara 38,7 persen atau hampir tertinggi di dunia.

Di samping itu, pola serupa juga menurutnya terjadi pada pasar saham. Masuknya aliran modal asing ke pasar saham Indonesia memang disebabkan karena adanya potensi keuntungan, tetapi menurutnya itu hanya sementara.

Pasar saham pun belum tentu aman dari outflow lantaran 40 persen porsinya masih dikuasai investor asing, kata Faisal.

Pergerakan pasar modal saat ini juga tidak biasa. Ia mencontohkan biasanya pasar modal bereaksi atas lonjakan angka pengangguran, tetapi tidak saat ini seperti yang terjadi di AS dan sekitarnya.

“Ekonom di berbagai negara meyakini semakin tidak ada hubunganya antara kinerja pasar modal dan pasar uang dengan kinerja ekonomi. Sekarang asing banyak beli karena akhir-akhir ini ada potensi keuntungan,” ucap Faisal.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz