Menuju konten utama

Faisal Basri Kritik Luhut karena Sering Ganggu Kerja Menteri Susi

Menurut Faisal, kinerja Menteri Susi seringkali diganggu oleh Menko Luhut Binsar. 

Faisal Basri Kritik Luhut karena Sering Ganggu Kerja Menteri Susi
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

tirto.id - Ekonom senior, Faisal Basri mengkritik langkah Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan yang kerap menganggu kerja Menteri Kelautan dan Perikanan, Suti Pudjiastuti. Menurut Faisal, selama ini Luhut memiliki visi yang bertentangan dengan kerja Susi yang ia nilai ingin membangun kedaulatan di sektor perikanan.

Faisal mengatakan, saat Menteri Susi berfokus pada memastikan kesejahteraan nelayan, Menko Luhut justru lebih condong membuka kesempatan agar asing bisa masuk ke sektor nelayan.

“Kedaulatan ya Ibu Susi. Menjaga agar kekuatan asing enggak masuk makanya (kapal) ditenggelamkan. Tapi dia paling banyak diganggu Luhut karena ingin mengajak asing ambil ikan di sini dan buat pusat logistik di Natuna,” ucap Faisal dalam diskusi bertajuk “Demokratisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam” di Hotel Le Meridien pada Kamis (28/3).

Menurut Faisal, sejumlah capaian Susi dalam sektor perikanan adalah menjaga keberlangsungan ekositem laut seperti melarang cantrang.

Di sisi lain, kata dia, sektor perikanan menjadi satu-satunya subsektor pertanian yang memiliki sumbangsih terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) yang terus meningkat sebagaimana tercatat dalam data BPS sepanjang 2010-2018.

Selain itu, Faisal juga mengutip data BPS lainnya yang menunjukkan adanya pertumbuhan subsektor perikanan yang rata-rata mencapai 5,20-7,65 persen sepanjang 2011-2018. Menurutnya angka ini lebih tinggi dibanding subsektor pertanian dan kehutanan.

“Laju pertumbuhan sektor perikanan lebih tinggi dari pertanian. Perkebunan di bawahnya,” ucap Faisal.

Berdasarkan data BPS tentang nilai tukar (NT) nelayan, kata dia, juga menunjukkan kondisi yang relatif lebih baik dibanding subsektor lainnya. Per Januari 2019, NT nelayan berada di angka 113,78 atau lebih tinggi dari NT perkebunan rakyat yang saat ini diagung-agungkan pemerintah sebagai penyumbang penurunan kemiskinan terbesar yang berada di angka 94,73.

“Kesejahteraan nelayan naik. Nilai tukar nelayan tangkap paling tinggi. Yang paling bawah petani dan perkebunan rakyat paling susah sekarang,” ucap Faisal.

Baca juga artikel terkait KINERJA KABINET atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Politik
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto