Facebook Akan Membatasi Jangkauan Grup yang Menyebarkan Hoaks

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 11 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Saat Facebook melakukan pembatasan, konten yang dibagikan grup akan menjangkau lebih sedikit pengguna.
tirto.id - Facebook terus berupaya menerapkan langkah strategis guna mencegah penyebaran hoaks di platformnya. Upaya terkini, perusahaan menyasar grup-grup yang kerap berbagi informasi tersebut.

Facebook pada Rabu (10/4/2019) menyatakan, perusahaan akan melakukan pembaharuan untuk memerangi segala unggahan informasi palsu dan berbahaya, yang bakal diterapkan dalam aktivitas di platform grup.

Grup Facebook, sebuah komunitas online, tempat berkumpul banyak orang, dengan pandangan, ketertarikan, dan hobi yang sama, akan diawasi dengan ketat, sebagaimana diwartakan Associated Press, Kamis (11/4).

Sebagai sebuah komunitas, persebaran informasi seringkali lebih efektif apabila disebarkan melalui grup, lantaran jangkauannya lebih luas.

Pembaharuan tersebut akan membatasi visibilitas konten yang dibagikan grup tertentu, apabila ditemukan aktivitas yang mencurigakan, seperti menyebarkan berita palsu atau menyesatkan.

Jika pembatasan ini terjadi, maka konten yang dibagikan akan menjangkau lebih sedikit pengguna.

Selain itu, Facebook juga memperdalam fitur fact-checking yang melibatkan pihak ketiga terpercaya, termasuk Associated Press (di AS) dan Tirto.id (di Indonesia), untuk meninjau video dan unggahan lainnya.

Pembuat kebijakan dan kelompok hak asasi sebelumnya mengkritik Facebook lantaran tidak mencegah dan bertindak lambat terhadap penyebaran ekstrimisme dan informasi palsu termasuk di Instagram.

Sebelumnya, Facebook juga berupaya memerangi konten-konten supremasi kulit putih. Anggota kongres AS sempat mempertanyakan tanggapan dan langkah perusahaan ini menghadapi hal-hal semacam itu.


CEO Facebook, Mark Zuckeberg, yang sedang berupaya menjaga keamanan privasi pengguna, kini punya dua pekerjaan rumah sekaligus. Selain menuntaskan keamanan privasi, ia harus membersihkan platformnya dari hoaks.

Sementara itu, Guy Rosen, Wakil Presiden Integritas Facebook, beranggapan bahwa privasi seseorang dan keamanan publik adalah sesuatu yang memang menjadi pergumulan bagi masyarakat selama berabad-abad. Perusahaan teknologi ini tengah fokus pada kepastian penyelesaian tersebut lantaran Facebook telah menjadi bagian dari interaksi dan komunikasi manusia.

“Ini adalah apa yang sedang kami kerjakan, menggandeng pihak di luar perusahaan,” katanya. Ia menambahkan bahwa hal tersebut bertujuan untuk terlibat dalam proses dan mengambil langkah yang benar-benar faktual.

Melansir ABC7, Facebook telah merekrut tim untuk memantau materi di grup-grup yang melanggar pedoman penggunaan, seperti informasi yang berisi konten seksual, kekerasan, dan ujaran kebencian.

Karen Courington, staf di divisi operasi produk pendukung Facebook mengatakan bahwa 30 ribu pekerja di perusahaan tersebut bersama-sama turut ambil bagian untuk menjaga keamanan dan keselamatan melalui peninjauan konten.

Moderator dari konten-konten tersebut adalah kolaborasi dari staf Facebook dan kontraktor, namun untuk persentase kerjanya, Courington enggan mengungkapnya.

Para peninjau ini menerima pelatihan selama 80 jam sebelum memulai tugas dan beberapa dukungan tambahan termasuk dukungan psikologis. Mereka juga dibayar lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan lain.

Belum jelas apakah ada perjanjian tertentu yang mengikat para pekerja itu, bahwa mereka dapat berhenti jika ternyata pekerjaan ini mengganggu kesehatan mental ataupun terlampau sulit bagi mereka.


Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Ibnu Azis