Extreme Job: Polisi Ayam Goreng dari Korea

Film Extreme Job. Youtube/CJ Entertaiment
Oleh: Aulia Adam - 10 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit

Lima orang polisi menyamar jadi tukang ayam goreng demi meringkus gembong narkoba. Bisnisnya malah untung besar, seperti film yang masuk daftar film terlaris di Korea Selatan ini.

tirto.id - “Film komedi baru sutradara Lee Byeong-hun telah mengambil alih box office lokal. Film dengan bujet rendah ini terus mengejutkan pasar film,” tulis Korea Times.

Ia berhasil mengukuhkan diri sebagai film komedi terlaris sepanjang masa dengan 14,5 juta penonton per 18 Februari 2019 (hanya dalam 26 hari penayangan), melampaui film komedi Korea Selatan terlaris sepanjang masa Miracle in Cell No. 7 (2012).

Para kritikus menuding ranjau humor dalam Extreme Job sebagai penyebab utamanya.

“Film ini menanamkan humor di mana-mana,” ujar Yoon Sung-eun. “Sehingga pemirsa tertawa terbahak-bahak setiap satu atau dua menit. Ini cocok untuk generasi muda yang terbiasa menonton video klip pendek di YouTube, yang dibuat untuk agar penonton tertawa secara instan.”

Humor itu memang mustahil terlewatkan. Sutradara Lee Byeong-hun benar-benar menyisipkannya padat merayap, nyaris di tiap dialog. Anehnya, rahang kita tak akan kebas tertawa sebab Byeong-hun memang terkenal jago bikin film komedi. Ia tercatat pernah menyutradarai film-film komedi populer macam: Twenty (2015), Love Forcast (2015), What a Man Wants (2018), dan Sunny (2011)—salah satu film yang akan diadaptasi Miles, rumah produksi Mira Lesmana.


Extreme Job bercerita tentang Kapten Go (Ryu Seung-ryong), kepala polisi unit narkotika Seoul, seorang polisi lurus yang hidupnya selalu sial dilindas nasib buruk. Semua rekan Go sudah dapat promosi, bahkan junior-juniornya. Di Korea Selatan sana, berpangkat rendah dari rekan kerja yang usianya lebih muda adalah perkara memalukan.

Go juga polisi miskin yang selalu kena diomeli istri karena harus hidup dengan uang belanja pas-pasan. Ia juga sering disindir putrinya yang harus menghemat uang jajan dan uang sekolah.



Di usianya yang makin senja, semangat kerja Go juga tak seberapi-api empat rekan lainnya yang masih idealis jadi polisi kelas bawah. Ia tak lagi gengsi untuk tunduk hormat pada junior yang sudah jadi bosnya. Go juga tak merepet panjang ketika tahu bujet penyamaran mereka tak mulus pencairannya dari kantor. Politik kantor sudah perkara basi buatnya. Go lebih sering terpikir masa pensiunnya, atau nasib istri yang ingin sekali punya tas Gucci.

Di saat yang sama, ia dan kelima rekannya harus menyamar jadi tukang ayam goreng demi meringkus gembong narkoba bernama Mubae (Shin Ha-kyun). Go akhirnya terpaksa menggunakan simpanan pensiunannya untuk membeli toko ayam goreng di depan gedung yang jadi markas Mubae.

“Kalau aku kehilangan pekerjaanku, aku mungkin bisa pakai tempat ini untuk buka bisnis,” kata Go, terpaksa.

Alur film berubah drastis. Nasib buruk yang lengket pada Go berubah mujur sejak toko ayam itu dibuka. Setidaknya begitu buat keuangannya. Ayam goreng dengan bumbu spesial buatan Detektif Ma (Jin Seon-kyu) bikin toko mereka punya banyak pelanggan. Tak cuma jadi perbincangan nasional, toko itu bahkan didapuk pariwisata Korsel sebagai salah satu tempat makan wajib buat pelancong internasional.

Ia akhirnya bisa beli tas Gucci buat istri dan bisa tersenyum pulen setelah sepanjang film wajahnya diperlihatkan terus-terusan berkerut.

Go untuk pertama kalinya tak lagi khawatir dengan masa tuanya. Usaha ayam yang laris berhasil bikin dia berasa hidup lagi. Tapi, tugas utamanya sebagai polisi makin keteteran. Ia dan anak buahnya kelelahan melayani tamu, masak ayam, cuci piring, mengantar pesanan, sampai mengelap meja. Benarkah, toko ayam itu membawa nasib baik? Atau cuma distraksi yang bikin karier Go makin terperosok?


Kisah polisi konyol ala Police Academy atau Chips berhasil disusun Byeong-hun dengan humor tradisional Korea, yang hebatnya tetap bisa bikin perut kita terkocok. Saya menonton film ini dua kali di dua teater yang berbeda. Hasilnya? Humor Byeong-hun tak pernah gagal mengocok perut saya.

Kisah hidup Go yang ironis berhasil dilapisinya dengan komedi-komedi observasi yang tajam. Ia juga menyelipkan putaran plot di ujung cerita yang efek kejut dan efek kocaknya berhasil membuat film ini makin menarik.

Kepada Korea Times, kritikus Kang Yoo-jung mengatakan, “Sutradaranya adalah ahli dalam menciptakan lelucon dan mampu berurusan dengan berbagai tema dan topik. Extreme Job memiliki permainan kata-kata yang kaya, serta plot twist dan dialog yang dinamis antar karakternya.”

Kalau Byeong-hun tertarik bikin sekuel, ia mungkin bisa pakai judul Extreme Job: KFC—Korean Fried Cops.

Baca juga artikel terkait RESENSI FILM atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight