Evolusi Bandana: Aksesori, Identitas, dan Simbol Pergerakan

Kontributor: Eyi Puspita, tirto.id - 31 Agu 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Selembar kain bujur sangkar yang sederhana ternyata memiliki banyak makna.
tirto.id - Dalam fashion show Versace Spring Summer 2022, bandana sutra kembali menjadi bintang utama. Tidak hanya dikenakan sebagai penutup atau ikat kepala, tapi juga dililit di pergelangan tangan, leher, pegangan tas atau sebagai pengganti ikat pinggang. Semua itu disajikan dalam warna-warni kue dan motif barok khas Versace yang ikonis.

Musim panas memang tidak memberikan keleluasaan untuk gaya atau aksesori yang terlalu heboh dan berlapis-lapis. Dalam cuaca panas, bandana sutra bisa menjadi pilihan aksesori utama yang tidak membuat pemakainya semakin gerah. Selain itu, sifatnya yang multifungsi membuat bandana menjadi benda fesyen yang esensial. Tak heran, bandana sering sekali tampil di runway. Selain Versace, rumah mode lain seperti Dior, Alexander Wang, dan Tommy Hilfiger juga pernah menjadikan bandana sebagai bagian penting dari pagelaran mereka.

Selembar kain –awalnya berbahan katun— berukuran standar 56 x 56 sampai 68.5 x 68.5 sentimeter ini bahkan disebut memiliki fleksibilitas setara pisau Swiss Army. Dengan penataan yang berbeda, bandana bisa menciptakan beragam gaya: Girly, bohemian, sampai edgy.

Lilitan bandana di leher yang dipadukan dengan kemeja membuat tampilan chic ala Paris. Bandana berwarna terang yang menggantung dari tali tas memberikan aksen cerah pada busana monokrom. Atau, kalau berani, bandana yang dijadikan atasan menampilkan kesan retro 90’an atau awal 2000-an yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera dan Beyonce.

Namun bandana lebih dari sekadar aksesori. Sejarahnya telah mencapai 300 tahun. Bandana tak hanya hadir di atas pagelaran busana atau konser musik hip-hop, tapi sebagai simbol perjuangan hak-hak kaum buruh. Bandana pernah menjadi bagian dari busana kerja serta alat propaganda. Bandana juga pernah dijadikan penanda untuk mengidentifikasi anggota geng dan kaum LGBT. Selembar kain bujur sangkar yang sekilas tampak sederhana ternyata memiliki begitu banyak makna.

Riwayat Panjang Bandana

Riwayat bandana bisa ditarik mundur ke abad 17 Masehi. Konon, bandana berasal dari Asia Selatan, tepatnya India. Kata bandana sendiri berasal dari bandhani, yakni teknik pewarnaan yang sudah lama digunakan oleh produsen tekstil di India. Sumber lain mengatakan bahwa asal kata bandana adalah badhnati, yang dalam bahasa Sanskerta berarti ikatan atau mengikat.

Pada abad 18, VOC dan English East India Company (EIC) mulai mengimpornya ke Eropa, lalu nama tekstil ini berubah menjadi bandana. Sebagian orang Eropa yang mengonsumsi tembakau memakai bandana untuk membuang ingus. Biasanya mereka memakai sapu tangan berwarna polos, tapi selalu ada noda tembakau gelap yang memalukan tertinggal di kain. Memakai bandana bermotif ramai lantas menjadi pilihan mereka agar nodanya tak tampak mencolok.

Kemudian, perempuan Eropa mulai memakai bandana sebagai semacam syal. Motif paisley yang berasal dari Persia menjadi motif yang paling dikenal saat itu. Lambat-laun, bandana semakin ‘naik pangkat’ karena dianggap menyimbolkan status tinggi pemakainya. Harga bandana bertambah mahal dan suplai semakin sedikit. Pada abad ke-19, beberapa perusahaan Eropa pun mulai memproduksi bandana sendiri.

Di Mulhouse, Prancis, produsen bandana berusaha mengembangkan warna merah Turki yang hingga kini dianggap sebagai warna khas bandana. Pewarna ini dibuat dari kotoran biri-biri, akar tumbuhan madder dan minyak zaitun, lalu diaplikasikan pada kain melalui proses yang saat itu dianggap amat rumit. Sementara, desain motif paisley mereka tiru dari bandana buatan India.

Alat Propaganda dan Promosi

Di negara Paman Sam, bandana mulai populer pada masa Revolusi Amerika. Saat itu, Martha Washington, istri George Washington -Jenderal Angkatan Bersenjata Kontinental- memesan bandana dengan desain khusus pada John Hewson, produsen tekstil dari Philadelphia.

Hewson mendesain bandana katun dengan gambar George Washington di atas kuda, dihiasi meriam dan bendera, lalu bertuliskan “George Washington, Esq., Foundator and Protector of America’s Liberty and Independency”. Waktu itu tahun 1775 atau 1776 dan langkah ini adalah bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme Inggris. Di tengah perjuangan Amerika merebut kemerdekaan, Inggris telah melarang aktivitas percetakan di seluruh koloninya di Amerika demi mematikan upaya propaganda revolusi.

Setelah Amerika merdeka, kisah bandana perjuangan ini menyebar luas. Replikanya diproduksi massal dan bandana pun semakin populer. Para politisi kerap memakainya dalam kampanye mereka. Bandana Theodore Roosevelt pada 1912 berisi notasi dan lirik lagu kampanye kepresidenannya berjudul “We Want Teddy”. Sementara, bandana Dwight “Ike” Eisenhower pada kampanye 1952 menampilkan wajah Eisenhower dengan tulisan “Win with Ike for President”.

Kepopuleran bandana ditambah biaya pembuatan yang semakin terjangkau membuatnya dijadikan alat promosi dan pemasaran sejak awal abad 20. Bandana diproduksi untuk mempopulerkan tim olahraga, musisi, bintang film, sampai produk kebutuhan sehari-hari. Dari tim bisbol Yankees, bintang rock n roll Elvis Presley, karakter Disney, semua ada bandananya. Sereal Kellog’s bahkan membuat koleksi bandana sendiri demi meningkatkan penjualannya.

Identik dengan Perjuangan

Bandana yang relatif murah dan multifungsi juga menjadi bagian dari busana kaum pekerja di Amerika. Lebih dari itu, ia merupakan simbol perjuangan hak-hak buruh.

Pada 1921, terjadi demonstrasi besar-besaran di West Virginia. Lebih dari sepuluh ribu pekerja tambang menuntut hak mereka atas kondisi kerja yang lebih layak dan perlindungan serikat pekerja. Mereka memakai bandana merah, mempersenjatai diri seadanya, lalu berhadapan dengan aparat bersenjata Logan County. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Aksi Penambang Batu Bara West Virginia ini, lebih dari seratus orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap. Pihak manajemen perusahaan ‘menang’, tapi gerakan ini berhasil memicu perubahan baik bagi kondisi pekerja di Amerika.

Pada masa Perang Dunia II, ketika kaum pria maju ke medan perang, perempuan di kampung halaman harus menggantikan peran mereka di tempat-tempat kerja, termasuk di pabrik dan galangan kapal. Bandana menjadi pengikat rambut populer bagi para pekerja perempuan saat itu. Bahkan, salah satu alat propaganda perang paling ikonis adalah sosok fiktif Rosie the Riveter yang memakai bandana.

Digambarkan sebagai perempuan pekerja yang kuat, memakai celana terusan biru, mengikat rambut dengan bandana merah polkadot putih, Rosie mengepalkan tangan, memamerkan lengannya, dan menyemangati para perempuan pekerja dengan kalimat, “We can do it”.

Hingga kini, bandana belum kehilangan pesonanya sebagai simbol perjuangan. Pada 2017 lalu, muncul gerakan sosial #TiedTogether yang dipelopori oleh The Business of Fashion. Para desainer, jurnalis, dan influencer diimbau untuk memakai bandana putih sebagai tanda dukungan atas persatuan umat manusia – tak peduli ras, seksualitas, gender dan agama. Inisiatif ini muncul sebagai respons karena industri fashion selama ini hanya diam di tengah perpecahan dan situasi yang tidak pasti.

Tahun 2017 itu, Donald Trump baru terpilih sebagai presiden AS dan warga Amerika sedang terpecah-belah. Namun pelopor #TiedTogether menolak menyebut inisiatif mereka sebagai gerakan politik semata. Mereka ingin merangkul semua orang dan bukannya memperuncing perpecahan.

Baca juga: Potret Gaya Jalanan Sumber Inspirasi

Identitas dan Kode Rahasia

Bandana telah dipakai oleh berbagai kalangan dari beragam profesi: Buruh, pelaut, koboi, model, sampai rapper seperti Tupac atau rocker seperti Axl Rose. Bahkan, bandana juga pernah dijadikan penanda untuk mengidentifikasi anggota geng yang berbeda.

Di Los Angeles, geng jalanan The Bloods dan Crips dibedakan dari warna bandana yang mereka kenakan. Merah untuk Bloods, biru untuk Crips. Kedua geng berdiri sejak 1960-an dan pada tahun 2000-an telah memiliki puluhan ribu anggota yang tersebar di penjuru AS. Bandana lalu diasosiasikan dengan kejahatan karena anggota geng Bloods dan Crips telah terlibat dalam berbagai tindak kriminal seperti perampokan, pembunuhan dan pengedaran narkoba.

Pada 1970-an, warna bandana yang berbeda juga menjadi kode rahasia di antara kaum LGBT mengenai preferensi seksual atau fetish mereka. Saat itu, kaum LGBT di Amerika belum seterbuka sekarang sehingga masih memerlukan kode. Pada 1983, penulis Larry Townsend membeberkan kode-kode itu dalam buku “The Leatherman’s Handbook II”. Misalnya warna hitam berarti S&M (sadisme dan masokisme), biru gelap berarti seks anal, dan biru muda untuk seks oral.

Infografik Evolusi Bandana
Infografik Evolusi Bandana. tirto.id/Quita


Pahlawan Berbandana Merah

Namun pada 2001, citra bandana berubah lagi berkat seorang pahlawan muda bernama Welles Crowther. Welles adalah salah satu korban peristiwa 9/11. Ia bekerja sebagai equity trader di World Trade Center. Ketika United Airlines Flight 175 menabrak menara selatan, sekitar 200 orang berada di lantai 78. Lantai itu gelap dan mulai terbakar. Di tengah kepanikan, tiba-tiba terdengar suara tegas seorang pemuda. “Saya menemukan tangga darurat. Ikuti saya! Tolong siapa pun yang bisa Anda bantu.”

Pemuda itu memimpin rombongan kecil korban menuju lantai 61. Di sana, petugas pemadam kebakaran menyambut mereka dan membimbing untuk turun melalui lift di lantai 48. Pemuda itu tidak ikut turun. Ia kembali naik ke lantai 78 untuk menolong korban lain. Ia turun lagi dengan rombongan kecil, lalu naik kembali. Tapi kali ini, ia tak bisa turun lagi karena gedung mulai runtuh.

Enam bulan kemudian, ketika cerita ini diterbitkan oleh The New York Times, nama sang pahlawan tak disebut karena tak satupun penyintas yang mengenalnya. Mereka hanya mengatakan pemuda itu menutup mulut dan hidungnya dengan bandana merah. Membaca berita ini, ibu Welles –Alison Crowther—langsung tahu, itu pasti putranya.

Welles Crowther sejak usia 6 tahun memang identik dengan bandana merah pemberian ayahnya. Welles menghabiskan masa SMA dengan menjadi pemadam kebakaran junior dan kapten tim hoki. Ketika kuliah di Boston College, bandana merah selalu ia kenakan saat bertanding lacrosse. Kampus ini lalu menyelenggarakan Boston College Red Bandana Run setiap musim gugur, di mana semua pelari mengenakan bandana merah. Kisah Welles diangkat menjadi film dokumenter berjudul “Man in the Red Bandana”.

Salah satu rekan Welles, atlet snowboarding Tyler Jewell mengenakan bandana merah dalam Olimpiade Musim Dingin. “Bagi saya, bandana merah melambangkan kekuatan, kehormatan, dan keberanian – segalanya yang dimiliki oleh Welles Crowther,” ujar Tyler.

Baca juga artikel terkait FESYEN atau tulisan menarik lainnya Eyi Puspita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight