Menuju konten utama

Erupsi Gunung Merapi 1872: Disebut Terdahsyat dalam Sejarah Modern

Erupsi pada 1872 disebut-sebut sebagai letusan Gunung Merapi terdahsyat dalam sejarah modern.

Erupsi Gunung Merapi 1872: Disebut Terdahsyat dalam Sejarah Modern
Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (13/1/2019) malam. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj.

tirto.id - Gunung Merapi mengeluarkan letusan awan panas pada Senin (14/10/2019) kemarin. Salah satu gunung api teraktif di Indonesia ini telah berkali-kali meletus sejak dulu hingga kini. Erupsi tahun 1872, misalnya, disebut-sebut sebagai letusan terparah Gunung Merapi dalam sejarah modern.

Mengenai letusan pada Senin pukul 16.31 WIB kemarin, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), menjelaskan, terlihat awan panas yang membentuk kolom setinggi sekitar 3 kilometer dari puncak Merapi yang mengarah ke barat daya.

Malam harinya sekitar pukul 20.19 WIB, gunung yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah ini kembali meluncurkan awan panas. Akan tetapi, jarak luncur awan panas susulan itu tidak teramati dengan baik karena cuaca di sekitar puncak Merapi sedang berkabut.

Radius jarak bahaya yang direkomendasikan BPPTKG adalah 3 kilometer dari puncak. Selebihnya, masyarakat masih bisa beraktivitas seperti biasa meskipun harus tetap waspada dan melakukan antisipasi terhadap dampak erupsi Merapi, termasuk potensi paparan abu vulkanik.

Erupsi Merapi Tahun 1872

Gunung Merapi sudah menjadi legenda abadi bagi masyarakat Jawa, khususnya warga Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah seperti Klaten, Magelang, serta Boyololali. Banyak cerita dan mitos terkait gunung setinggi nyaris 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini.

Lereng selatan Gunung Merapi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sleman, DIY. Sedangkan lereng lainnya merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Magelang (sisi barat), Boyolali (utara dan timur), serta Klaten (tenggara).

Dari namanya saja, Merapi sudah menyatakan identitasnya sebagai gunung api. Merapi berasal dari paduan kata meru yang berarti “gunung” dan api. Dikutip dari Mount Merapi (2011) terbitan Antara, meru bagi masyarakat Jawa kuno juga dapat dimaknai sebagai “singgasana para dewa”.

Riwayat letusan Merapi sudah terlacak sejak 3.000 tahun silam. Masing-masing peristiwa erupsi tersebut tentu memiliki kisahnya sendiri. Salah satu letusan Merapi yang dianggap terparah terjadi pada 1872 yang konon menelan korban ratusan nyawa.

Erupsi yang berlangsung pada 15 hingga 20 April 1872 itu bahkan disebut-sebut sebagai letusan Gunung Merapi paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern.

Letusan Merapi kala itu bersifat eksplosif dan membentuk kolom dengan tinggi lebih dari 10 kilometer. Erupsi awal terjadi pada 15 April 1872, kemudian mereda dua hari sebelum akhirnya terjadi letusan utama selama tiga hari sejak tanggal 17 hingga 20 April 1872.

Menurut buku Penanganan Lahan Merapi Pascaerupsi Antara Berkah dan Musibah (2019) karya Beny Harjadi dan Pranatasari Dyah Susanti, letusan ini berlangsung selama 120 jam tanpa jeda. Awan panas dan material berjatuhan, memusnahkan seluruh permukiman yang berada pada ketinggian di atas 1.000 mdpl.

Erupsi pertama pada 15 April 1872 tidak diawali dengan gejala peningkatan aktivitas. Durasi total letusan yang berlangsung selama lima hari menghancurkan kubah lava yang sebelumnya telah tumbuh sejak 1867 hingga 1871.

Berdasarkan catatan Trijoto dalam Gunung Merapi: Antara Legenda, Mitos, dan Penanggulangan Bencana (1996), erupsi dahsyat Merapi yang terjadi pada pertengahan April 1872 itu setidaknya menewaskan tidak kurang dari 200 orang warga.

Sedangkan menurut pengamatan Surono yang terungkap dalam Merapi Volcano Before and After the 2010 Eruption (2012), erupsi Merapi tahun 1872 terdapat kemiripan dengan peristiwa serupa yang terjadi pada 2010.

Salah satunya, tulis Surono yang pada 2010 menjabat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kawah yang terbentuk dalam letusan tahun 1872 itu memiliki diameter antara 480-600 meter, hampir mirip erupsi Merapi tahun 2010.

Letusan Gunung Merapi tahun 2010 itu juga termasuk letusan mematikan, setidaknya terkait dampak yang ditimbulkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 341 orang tewas, 368 orang dirawat di rumah sakit, dan 61.154 orang dievakuasi.

Salah satu orang yang menjadi korban meninggal dunia dalam letusan tahun 2010 itu adalah Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan nama Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi sekaligus abdi dalem setia Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca juga artikel terkait ERUPSI MERAPI atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz