Erick Thohir Akui Menguasai Lahan Negara Seperti Prabowo

Oleh: Felix Nathaniel - 13 Maret 2019
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf tidak menyoal penguasaan lahan milik Prabowo, karena keluarganya juga memiliki tambang dan lahan negara yang dikelola.
tirto.id - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick Thohir menilai tak ada masalah penguasaan lahan negara Prabowo Subianto jadi perbincangan. Hal ini terjadi usai debat Pilpres 2019 kedua pada 17 Februari 2019 lalu.

Erick mengakui menguasai lahan negara seperti Prabowo. Kakak Erick, Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir menguasai bisnis tambang sejak 2005 lalu.

Erick berkata, penguasaan lahan ini bagian dari upaya kakaknya untuk memberikan keuntungan bagi Indonesia.


"Itu sebenarnya dulu aset asing, yang kalau kita lihat kontrak karya pertama itu kan diberikan pada saat itu oleh Pak Presiden Soeharto kepada investor asing, yang kebetulan memang batu bara itu bukan menjadi hal yang orang ingin investasikan," ucap Erick di kawasan Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Nah dalam perjalanannya ketika harga batu bara tidak bagus apa, tiba-tiba macet di bank asing dan kebetulan pada saat itu keluarga kami melihat ini kesempatan yang baik untuk menyelamatkan aset negara untuk bangsa Indonesia," imbuh Erick.

Erick juga mengatakan, hal itu seharusnya legal. Apalagi perusahaan kakaknya, Adaro Energy, bersifat terbuka.

"Kalau kita sebagai swasta tidak boleh berusaha, tidak boleh berdagang, ya negara ini dibangun oleh empat kekuatan ekonomi. UKM yang harus terus ditingkatkan, pihak pemerintah yang dengan program-program kerjanya, BUMN. Dan perusahaan swasta yang besar," imbuh dia.

Hal ini, imbuh Erick, mirip dengan kronologi pembelian lahan oleh Prabowo. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui, saat itu dia lebih setuju lahan dijual kepada Prabowo daripada pengusaha asing. Oleh karena itu, Prabowo menguasai sejumlah lahan sampai saat ini.



Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Zakki Amali