Menuju konten utama

Erdogan Inginkan Perencana Kudeta Dihukum Mati

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan memberlakukan hukuman mati bagi perencana kudeta. Keputusan Turki menerapkan kembali hukuman mati ini mengejutkan para pemimpin Uni eropa.

Erdogan Inginkan Perencana Kudeta Dihukum Mati
Presiden Turki Tayyip Erdogan berbicara dalam konferensi pers setelah rapat dewan keamanan nasional dan kabinet di Ankara, Turki. Antara Foto/Reuters/Umit Bektas.

tirto.id - Setelah terjadi insiden kudeta yang gagal pada 15 Juli lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan memberlakukan hukuman mati bagi para perencana kudeta. Untuk itu, Erdogan akan meminta parlemen mempertimbangkan pemberlakuan hukuman mati

"Pemerintahan kita akan mengajukan [usul hukuman mati] ini ke parlemen. Saya yakin parlemen akan menyetujuinya, saya akan mengesahkannya," kata Erdogan dalam sebuah upacara peresmian di Ankara, Sabtu (29/10/2016).

Pada 2004, Turki telah menghapus hukuman mati saat negara itu mengupayakan penggabungan ke Uni Eropa. Namun setelah Turki akan memberlakukan kembali hukuman mati bagi para perencana kudeta, keputusan itu mengejutkan para pemimpin Uni Eropa.

Sebelumnya, hubungan antara Brussels dan Ankara sudah tegang sejak Turki menanggapi kudeta dengan meluncurkan aksi penumpasan tanpa belas kasihan terhadap orang-orang yang diduga merencanakan kudeta di lembaga-lembaga pemerintah. Karena itu, Uni Eropa meminta mereka bertindak sesuai aturan hukum.

Seperti diketahui, pasakudeta di Turki, puluhan ribu staf militer, lembaga peradilan, layanan sipil, dan pendidikan sudah diberhentikan atau ditahan dalam upaya penumpasan aksi penggulingan itu.

Sementara mendapat peringatan dari Barat atas rencananya memberlakukan hukuman mati, Erdogan mencemoo teguran tersebut."Barat mengatakan ini, Barat mengatakan itu. Maaf, tapi yang penting bukan apa kata Barat. Yang penting apa kata rakyat saya," katanya di Turki, sebagaimana dilaporkan Antara, Minggu (30/10/2016).

Ankara menuduh ulama Fethullah Gulen yang sejak 1999 mengasingkan diri di Amerika Serikat sebagai dalang upaya kudeta untuk menggulingkan Erdogan, tuduhan yang dibantah oleh Gulen. "Apa yang Anda lakukan di Pennsylvania, Ayo, datang ke sini! Mengapa Anda tidak pulang," tambah Erdogan.

Pemerintahan Erdogan sudah berulang kali meminta Amerika Serikat mengekstradisi Gulen. Menurut warta kantor berita Anadolu, Menteri Kehakiman Turki Bekir Bozdag pada Sabtu mengatakan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Turki "tidak akan sama lagi" jika Gulen tidak diekstradisi.

Baca juga artikel terkait KUDETA TURKI atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Hukum
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari