Menuju konten utama
Teti Nurhayati:

EO Anniesa Hasibuan di NYFW: Saya akan Jelaskan ke Bareskrim

Sejak skandal First Travel terkuak: Dilarikan kemana saja dana calon jemaah umrah oleh pasangan Anniesa Hasibuan dan Andika Surachman?

EO Anniesa Hasibuan di NYFW: Saya akan Jelaskan ke Bareskrim
Avatar Teti Nurhayati. Tirto.id/Sabit

tirto.id - Kasus yang menjerat Anniesa Desvitasari Hasibuan, pemilik First Travel bersama suaminya, Andika Surachman, memancing pertanyaan utama: kemana larinya uang ribuan calon jemaah umrah?

Polisi menduga PT First Anugerah Karya Wisata alias First Travel menilep Rp550 miliar dari 35.000 orang yang terancam gagal berangkat ke Mekkah setelah membayar paket umrah murah sebesar Rp14,3 juta—jualan andalan First Travel yang bikin bisnis pasangan tersebut moncer sejak mengantongi izin sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dari Kementerian Agama pada 2013. (Lihat daftar ratusan anggota biro umrah dan haji di Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah/ Amphuri & Asosiasi Pelaksanaan Haji, Umroh dan In-bound Indonesia/ Asphurindo.)

Di saat Badan Reserse Kriminal Mabes Polri masih mengembangkan penyidikan atas kasus ini—dengan jerat penipuan, penggelapan, dan pencucian uang jemaah umrah—jorjoran gosip menerpa pasangan tersebut, termasuk gaya hidup glamor dan kekayaan mereka, serta kiprah Anniesa Hasibuan di ranah fesyen.

Usaha fesyen Anniesa—memakai namanya sendiri sebagai merek busana muslim—mulai dirintis sejak 2015, tahun yang sama ketika usaha umrahnya melejit, dan ia jadi omongan dalam rubrik gaya hidup seiring dengan cepatnya ia mengikuti pelbagai pergelaran fesyen dunia, di antaranya dalam ajang mode New York Fashion Week pada awal tahun ini.

Media-media bahkan memujinya sebagai “shooting star”—bintang baru yang tengah naik daun—saking cepatnya ia terkenal dalam bisnis yang butuh kekuatan publisitas ini, dan sangat mungkin ketenaran itu juga berkat peran humas yang lihai mengemas nama Anniesa Hasibuan dalam posisinya di tengah para desainer muslim lain di Indonesia yang sudah lama berkiprah. (Di Instagram, per tanggal 18 Agustus, akun jualan busana merek Anniesa Hasibuan memiliki 58,5 ribu pengikut, dan akun pribadinya—yang belakangan dibikin privat—punya 166 ribu pengikut.)

Tirto menurunkan laporan mengenai kasus First Travel:

Namun, lagi-lagi, sejak skandal tak jelasnya dana calon jemaah umrah First Travel, muncul dugaan bahwa uang umrah itu pun dipakai buat mendanai bisnis fesyen Anniesa.

Tudingan itu jorjoran menghiasi media sosial, termasuk pula terus dikembangkan lewat orang-orang di akun Facebook yang “mengawal” kasus First Travel—agar pasangan Anniesa dan Andika dihukum bui, aset-asetnya disita, serta duit calon jemaah umrah dikembalikan kepada yang berhak.

Orang Kementerian Agama sendiri menyebut ada kemungkinan praktik bisnis umrah murah First Travel sebagai skandal Ponzi—praktik mengelabui dana masyarakat buat diputar duitnya dengan tendensi penipuan.

Polri, Kemenag, maupun Otoritas Jasa Keuangan sendiri sudah mendirikan posko pengaduan alias Crisis Center bagi korban First Travel di kantor Bareskrim, bilangan Gambir, Jakarta Pusat, sejak 16 Agustus lalu. (Korban bisa datang langsung ke Posko maupun melaporkannya via surel: korban.ft@gmail.com atau mengontak hotline ke 081218150098; pelayananan pada hari kerja, pukul 09.00-18.00)

Sasaran kekesalan dari skandal First Travel itu menimpa pula lingkaran orang Anniesa, termasuk orang-orang yang bekerja bagi bisnis fesyen dia yang menggelembung sebagai gosip empuk.

Salah satunya Teti Nurhayati, yang dituding sebagai “manajer” Anniesa Hasibuan saat tampil di New York Fashion Week.

Teti membantah bahwa ia seorang manajer Anniesa Hasibuan. Ia menceritakan kepada Reja Hidayat dari Tirto soal posisinya dalam bisnis mode.

Ceritanya bermula pada bagaimana ia mengembangkan sebuah jaringan humas dan konsultan bagi para desainer Indonesia, bernama Indonesian Creative Hub, sejak 2014 untuk “menampilkan desain terbaik dan memikat reputasi nasional” juga mempromosikan—di antara hal lain—“industri fesyen dan kreatif ke ajang internasional.” (Lihat galeri foto penampilan koleksi busana Anniesa Hasibuan dalam salah satu ajang mode bergengsi di dunia tersebut pada 14 Februari 2017.)

Dari sana Teti mendirikan Indonesia Fashion Gallery (IFG), sebuah butik seukuran 5x18 meter persegi, yang menjual sejumlah koleksi dari para desainer Tanah Air. Butik tersebut terletak di 108 East 31 Street, Manhattan, New York—areal yang dekat dengan distrik dan ajang fesyen. Di antara klien desainer Teti adalah Anniesa Hasibuan.

“Anniesa adalah klien Indonesia Fashion Gallery dan memiliki tenant di IFG. Baik Anniesa Hasibuan Fashion maupun First Travel tidak pernah menginvestasi apa pun kepada IFG,” ujar Teti via telepon, Rabu lalu (16/8).

Bagaimana seluk-beluk bisnis fesyen Anniesa Hasibuan hingga ia bisa tampil di ajang mode dunia? Berapa biaya yang dikeluarkan oleh pemilik First Travel tersebut? Berikut wawancara Reja Hidayat bersama Teti Nurhayati.

Ceritakan posisi Anda dan relasi Anda dengan Anniesa Hasibuan?

Ibu Anniesa itu adalah klien Indonesia Fashion Gallery (IFG) dan ada tenant di galeri kita. Baik Anniesa Hasibuan Fashion maupun First Travel tidak pernah menginvestasi apa pun kepada IFG. Jadi, sebagai tenant, Anniesa Hasibuan memiliki hak dan kewajiban seperti desainer lain.

Di IFG tergabung beberapa desainer. Jadi Anniesa maupun desainer lain itu memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Saya tidak pernah pilih kasih, dan kebetulan Anniesa Hasibuan mengikuti New York Fashion Week (NWFW) karena dia tergabung dalam IFG, otomatis kita memfasilitasi dan men-support. Apa yang bisa saya bantu kepada tenant kita, akan dibantu, termasuk mencarikan sponsor Wardah (perusahaan produk kosmetik). Jadi hanya sebatas itu.

Sejak kapan Anniesa bergabung dengan Indonesia Fashion Gallery?

Sejak awal berdiri IFG, memang sudah ingin bergabung dengan kita. Dan pada tahap awal kita punya klien 17 desainer.

Untuk penyewa di IFG, sebagai klien Anda, berapa biaya yang harus dikeluarkan per desainer?

Per desainer kita kenakan range 1.000 dolar AS per bulan. Itu ada di memorandum of understanding (kontrak perjanjian) untuk seluruh desainer.

Berapa dana yang dikeluarkan Anniesa Hasibuan di New York Fashion Week?

Seluruh desainer kita yang masuk fashion week pasti memerlukan dana. Tetapi tidak sebesar yang saya baca (di medsos dan media) karena kebetulan yang memberi informasi tidak pernah menjadi event organizer (EO) atau mengurus fashion week.

Jadi, banyak sekali yang salah. Untuk masalah ini (First Travel), saya prihatin kepada korban. Tapi dalam hal ini (bisnis fesyen) kepada Anniesa, ada asumsi yang salah untuk masalah New York Fashion Week.

Salahnya di mana?

Ada yang bilang ini membutuhkan sekian miliar sampai puluhan miliar. Justru dengan adanya IFG, kita memfasilitasi bagaimana caranya desainer bisa masuk internasional fashion show dan tidak kena scamming atau penipuan karena memang legalitas perusahaan kita di New York—bagaimana caranya desainer di sana tidak kena scam. Banyak sekali scam, tidak hanya di AS, di beberapa negara juga ada yang menawarkan fashion show, ternyata kena scam.

Janjinya NYFW, enggak tahunya dikasih fashion ala-ala gitu. Akhirnya, desainer malu. Kok, saya dibilang ke NYFW, enggak tahunya bukan.

Berhubung kita ada di New York, jadi kita memberikan informasi karena IFG memang salah satu representasi NYFW. Jadi, kita mencoba memberikan informasi sebenar-benarnya soal acara NYFW, acara New York Couture Fashion Week (NYCFW), dan mana-mana yang terakreditasi.

Kita juga enggak pernah bayar wartawan di sana. Itu salah besar. Yang ngomong itu enggak tahu NYFW. Hanya berdasarkan asumsi dan kata orang.

[Catatan: New York Couture Fashion Week adalah ajang pendamping dari New York Fashion Week; yang satu lebih pengemasan produk, satunya ditujukan untuk bisnis. Anniesa Hasibuan sudah tampil di kedua ajang tersebut]

Untuk bisa ikut ajang fesyen di New York, butuh biaya berapa?

Relatif, ya, karena ada sponsor. Kalau kita itu, desainer langsung yang membayar kepada penyelenggara. Kita hanya bertugas untuk bernegosiasi. Agar lebih ringan seorang tenant yang mau mengembangkan bisnisnya di luar.

Waktu pertama masuk fashion week memang biayanya besar, beda dengan fashion yang lain. Dia minta bantu carikan sponsor. OK, saya bantuin, tapi cuma bisa Wardah saja.

Katanya, dia juga dapat maskapai. Beberapa pembayaran memang tidak melalui kita.

Jadi saya tidak mau tahu yang lain, saya hanya mencari dukungan dari Wardah. Karena Wardah kerjasama dengan kita, ya, bukan sama Anniesa Hasibuan. Wardah itu bekerjasama dengan IFG untuk branding para desainer, terutama make up. Jadi bukan dengan desainernya. Wardah support sekian dan blablabla. Itu saja.

Kalau yang Anda ketahui, berapa rata-rata biayanya?

Hanya Rp1,3 sampai Rp1,8 miliar, itu total tanpa sponsor. Memang harganya segitu. Ketika sudah ada sponsor, biaya itu akan berkurang. Apalagi Anniesa Hasibuan ada sponsor Wardah. Dikasih dana dan dikasih tim. Kemudian, tentu dari Indonesia Fashion Gallery memberikan tempat karena sebagai tenant (klien IFG), ia tidak kena biaya tempat dan blablabla...

Jadi otomatis beban biaya desainer berkurang. Desainer itu enggak kena Rp500 juta, bahkan sangat sedikit—tapi, tergantung sponsor, ya. Tergantung juga kita dapat sponsor di AS dari mana. Tergantung desainer sudah punya nama atau belum.

Anniesa itu dulu sudah ada nama di AS. IFG sendiri memberikan sponsor untuk tempat fitting, testing, dan beberapa equipment.

Anniesa kan baru berkecimpung di dunia fesyen pada 2015?

Saya meng-handle Anniesa Hasibuan ketika dia tertipu oleh salah satu EO. Ia memanggil saya untuk menanyakan biayanya berapa. Lalu—ia bilang—tolong dong urusin saya. OK, kata saya, dengan beberapa diskon, saya kasih ke Anniesa Hasibuan.

Kita adalah public relation (PR), karena ada perusahaannya. Jadi para media ingin meliput Anniesa karena bajunya keren—itu bulan Februari. Saat itu Anniesa mulai diliput oleh media lokal di sana sehingga ia mulai diundang oleh NYFW. Kemudian ikut kurasi—itu prosesnya butuh tiga bulan. Setelah lolos kurasi, kalau tidak salah, Anniesa belajar lagi di Indonesia untuk memperdalam desain karena NYFW ini berat—agar bisa diakui.

Sambil memperdalam desain mencari sponsor untuk bayar-bayar acara, ternyata ada sponsor yang membantu, saya kasih tahu ke Anniesa.

“Saya bisa dapat (sponsor) dari maskapai, enggak?” tanya Anniesa.

“Boleh,” kata saya.

Jadi dia mencari sponsor sendiri. Saya hanya mencarikan ke Wardah saja.

Untuk model di NYFW, Anniesa memakai semua model dari imigran, berapa biayanya?

Ditanggung oleh desainernya. Tergantung model mana yang mau diambil. Kebetulan kemarin modelnya memang spesifik dan itu sudah kita serahkan kepada orang produksi semua. Kemarin kita yang standar aja. Yang penting bisa show di sini.

Rata-rata 500 dolar AS - 800 dolar AS per model. Tapi minimal 24 aja (model) biar ringan. Ada 48 busana (yang dibawa Anniesa Hasibuan). Dengan saya, Anniesa tidak boleh membawa tim lebih dari dua orang.

Kemarin, sebenarnya Anniesa membawa satu asisten doang. Selebihnya fotografer dan videografer, kan, freelance—terserah mau bawa atau tidak. Karena Anniesa mau ini, mungkin dibawa saja (tim dokumentas) karena dari pihak penyelenggara, untuk show sudah otomatis ada, dan tidak perlu repot lagi.

Anda memberi syarat dua orang?

Ya, awalnya membawa satu, tapi akhirnya membawa fotografer dan videografer. Kita memberikan enam orang. Dari Wardah mengirim 5-6 orang. Seluruh tim di sana dibayar oleh Wardah. Tim make up segala macam dibayar oleh Wardah.

Satu tim berapa orang?

Satu tim ya satu orang. Kemarin (Anniesa) bawa familinya karena kondisi hamil. Kalau dibilang 15 orang, sejak bersama saya, tidak pernah terjadi.

Kalau untuk penginapan, siapa yang menanggung, apakah sponsor?

Enggak, kalau penginapan biaya sendiri. Kalau Wardah kemarin menyiapkan semuanya, support, ada apartemen untuk diisi ramai-ramai. Apartemen lebih murah dibanding hotel.

Anniesa 3 hari menginap di hotel dan 5 hari di apartemen. Karena dia mau pergi ke Los Angeles, saya tidak ngurusin lagi. Tetapi kalau fashion show itu rata-rata 5 malam sampai 7 malam.

Jangan percaya sama foto. Foto itu bergaya aja. Jaket merah Anniesa contohnya—bukan jaket Chanel. Itu jaket buatan Hong Kong, dia selipin bros Chanel—para hijaber lagi tren itu.

Saat acara di New York itu, bagaimana pembagian biayanya?

Ada yang Anniesa, ada Wardah. Hotel ya untuk tim Anniesa doang. Untuk Wardah ya di apartemen saja.

Berapa rincian biaya Anniesa ikut NYFW?

Mungkin saya jelaskan kepada Bareskrim aja.

Karena gini: desainer enggak mau ungkap soal (biaya) itu. Kalau desainer tergabung, tanya ke desainer saja. Desainer gratis untuk transport aja, atau dapat sponsor setengahnya atau 3/4 aja—itu tergantung. Tidak selamanya senior mendapatkan support. Yunior, kalau link-nya bagus, mendapatkan support yang luar biasa.

IFG sejak kapan berdiri?

Kita berdiri dan mulai tes market bulan Mei 2016, setelah beberapa kali pindah, kemudian menetap di Manhattan. Mungkin dalam jangka waktu tiga tahun, ya. Next, kita lihat lagi.

Sejak kapan Anniesa bergabung ke IFG ?

Sejak bulan Februari 2016 sampai Februari 2017. Cuma setahun.

Sekarang ada berapa desainer yang tergabung dalam IFG?

Sekarang tidak 17 lagi akibat ulah oknum ini, pencemaran nama baik saya dan IFG, sehingga tinggal desainer 8 orang. Zaskia (Sungkar) bertahan. Kecuali Anniesa karena sudah mengundurkan diri sejak Maret 2017 karena mau berkonsentrasi urus jemaah dan dia hamil besar juga.

Anniesa bilang ke saya mau berhenti dulu. Jadi Anniesa lagi berkonsentrasi urus jemaah. Dan di IFG pun, dia bilang, “Saya mau berhenti dulu.” Dia bilang seperti itu di bulan Maret.

Mayoritas anggota IFG itu senior desainer atau pemula?

Senior lebih banyak. Di sini rata-rata sudah lima tahun, mungkin Anniesa itu yang termuda.

Dari desainer yang jadi klien Anda, kok baru Anniesa yang masuk NYFW, kenapa yang lain enggak?

Mungkin ia memiliki ide bisnis. Kenapa ia show di luar negeri? Mungkin rencana bisnis dia berbeda dari yang lain dan tidak terlalu mengandalkan sponsor, walaupun pada akhirnya mendapatkan sponsor.

Tahun 2016, kita mendapatkan beberapa fashion show gratis untuk dia, malah dia mendapatkan uang pada 2017. Itulah kenapa Anniesa bertahan di IFG selama setahun. Pasalnya, banyak fasilitas yang kita dapat, baik dari pemerintah, swasta, sehingga dia banyak keringanan.

Kenapa Anniesa Hasibuan yang bisa? Ia mau bekerja keras, belajar. Ia pernah kursus sama desainer senior Indonesia sampai tiga bulan sampai bisa menghasilkan desain baru.

Jadi bohong kalau dibilang seminggu doang (kursus rancangan busana). Dan ia memang cerdas dalam penyerapan ilmu, itu menurut saya.

Untuk kontrak sebagai penyewa di IFG, skema pembayarannya seperti apa?

Kita memberikan alternatif: Bisa per 3 bulan, 6 bulan, atau setahun. Tergantung, apa mau branding aja, tes pasar selama 6 bulan, atau setahun sekali punya cabang.

Kita memberikan kebebasan karena fesyen bukan uang sedikit, ya. Tapi tidak mungkin juga saya gratisin. Memang (sifatnya) sosial? Saya bisnis. Kalau kalau mau gratisan, nanti tunggu fasilitas dari pemerintah waktu pameran. Saya akan kasih tahu, asal pesan ke saya. Para desainer ini biasanya suka order duluan.

Saya sempat membicarakan dengan desainer soal usaha (termasuk biaya) bagi mereka yang baru berkecimpung di dunia fesyen dalam mendapatkan sponsor. Bagi yang baru itu kecil kemungkinan mendapatkan sponsor, bagaimana tanggapan Anda?

Tergantung relasi. Kalau sama saya, di IFG, mendapatkan fasilitasi lebih. Kalau bagi saya, untuk apa sih ramai-ramai datang (bawa tim) ke ajang fesyen. Di sini (New York), kami sudah ada tim semua. Dari penyelenggara sudah kasih tim semua. Itu saya protes pas pertama kali dia show: Ngapain sih Mbak datang bawa banyak orang? Dari segi budgeting, sudah saya urus juga biar berkurang.

Apa bisa saya mendapatkan kontrak perjanjian antara pihak Anda dan Anniesa Hasibuan?

Enggak bisa. Saya lebih baik serahkan kepada penyidik. Tapi Anniesa dan saya ada MoU-nya. Yang di berita, kan, bahwa First Travel transfer dan investasikan ke kita—itu saya tidak tahu motifnya apa.

Yang bisa saya klarifikasi: tidak ada transfer dari First Travel. Kami hanya menerima transfer dari Anniesa Hasibuan Fashion. Pokoknya kita enggak ada kaitnya dengan First Travel.

Anniesa bukan investor, Anniesa adalah klien. Seperti halnya klien saya yang lain seperti Coreta dan Alleira.

Namun, ketika ada slot-slot gratis, saya akan oper ke klien saya. “Mau isi enggak? Ini ada slot gratis dari pemerintah.” Pemerintah juga support kepada kita dan berterima kasih banyak kepada KJRI New York yang selalu men-support desainer kita.

Apa benar Anda yang fasilitasi Anniesa ke Perancis, Turki, dan Doha?

Turki, pada saat itu, Anniesa enggak bisa pergi.

“Mbak Teti bisa bantu saya enggak?” tanya Anniesa.

“Untuk apa?”

“Saya lagi kekurangan tim,” kata Anniesa.

Yah, yang namanya minta bantuan, ya, kita datang aja. Saya bukan EO-nya di sana.

Kalau di Perancis, benar saya EO dia. Yang pergi waktu itu: saya, Carol (Carolina Septerita) dari Wardah dan Laura, model. Kita angkat koper sendiri. Mungkin karena sibuk produksi, ya. Dan satu fotografer.

Kalau diminta bantuan sama desainer, ya kita bantu. Ini tidak selalu bicara uang. Anda bisa klarifikasi ke Alleira yang sudah menjadi klien kita.

Jadi Anda bantu Anniesa Hasibuan di acara apa saja?

Perancis, NYFW, dan NYCFW. Desainer lain juga banyak saya bantu, bukan Anniesa saja. Di website kita, Anda bisa lihat kok kerjasama IFG dengan desainer mana aja.

Anda tahu enggak kalau Anniesa pemilik travel?

Pertama kerja sama, saya tidak mengetahui Anniesa pemilik travel besar. Ketika di Paris, ia enggak bisa hadir karena konsentrasi berangkatkan jemaah.

Saya tanya sama teman, “Emang dia punya travel apa?”

“Emang enggak tahu?” tanya teman saya.

“Enggak.”

Saya baru tahu di Perancis kalau Anniesa punya travel besar.

Baca juga artikel terkait FIRST TRAVEL atau tulisan lainnya dari Reja Hidayat

tirto.id - Mild report
Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam