18 Oktober 1962

Emprit Haji dalam Perjalanan Jansen Merintis Ilmu Gizi dari Batavia

Reporter: - 18 Oktober 2021
Dibaca Normal 4 menit
Jansen menggunakan burung bondol atau emprit haji sebagai hewan uji dalam penelitian beri-beri.
tirto.id - Betapa kecewa Barend Coenraad Petrus Jansen di hari pertamanya bekerja di Amsterdam pada awal 1928. Ia meninggalkan tanah Hindia yang sangat dicintainya karena mendapat tawaran sebagai Profesor Kimia Fisiologi di Universitas Amsterdam. Bagi Jansen, laboratorium di universitas itu sangat primitif. Berbeda dengan tempat asalnya bekerja, Centraal Laboratorium van den Dienst der VolksGezondheid (kini Lembaga Biologi Molekuler Eijkman) di Batavia, yang dibangun dan dirancang khusus untuk para ilmuwan, memiliki fasilitas dan perlengkapan yang jauh lebih lengkap.

Meninggalkan Batavia bukan hal yang mudah bagi Jansen. Di Hindia, ia tidak hanya produktif dalam penelitian-penelitian yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda. Tetapi ia dan para koleganya juga melanjutkan penelitian Christiaan Eijkman dan Gerrit Grijns tentang penyebab beri-beri. Hasil penelitiannya tentang zat anti beri-beri sebenarnya sedang dipersiapkan untuk dilanjutkan dalam skala besar untuk pencegahan beri-beri di kalangan militer dan masyarakat luas.

Menerima pekerjaan di Belanda juga sebenarnya tidak terlalu menguntungkan secara finansial. Jansen menyadari bahwa menjadi profesor di Belanda tidak akan menerima dana penelitian berlimpah dan jumlah asisten yang memadai sebagaimana ia nikmati di Batavia. Terlebih, Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) baru dibuka setahun sebelumnya pada 1927 dan ia ditunjuk sebagai Profesor Luar Biasa Kimia Propaedeutic.

Jansen juga ingin melihat penelitiannya diterapkan secara luas dan dirasakan manfaatnya oleh orang banyak, itulah cita-cita utamanya sebagai seorang ilmuwan. Tetapi Jansen harus memikirkan anak-anaknya yang akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik bila tawaran dari Universitas Amsterdam ia terima.

Akhirnya pada 11 Februari 1928, Jansen memutuskan menerima tawaran dari Universitas Amsterdam dan menyampaikan sebuah pidato ilmiah berjudul, “Perkembangan Gizi di Seperempat Abad Terakhir.” ( H.G.K. Westenbrink, “Levensbericht B.C.P. Jansen” dalam Jaarboek, 1962-1963, Amsterdam, hlm. 387-400).

Berbeda dengan Belanda yang menjadikan gizi sekadar minat pribadi peneliti, di Hindia, penelitian gizi dilakukan secara sungguh-sungguh dan didukung penuh oleh pemerintah Hindia Belanda. Salah satu penelitian di ranah gizi yang menonjol adalah penelitian Christiaan Eijkman yang dianugerahi hadiah Nobel Kedokteran pada 1929 untuk penelitian penyebab penyakit beri-beri.


Awalnya ia bersikeras bahwa beri-beri disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Dunia kedokteran pada masa itu memang era bakteriologi, sehingga semua penelitian untuk mencari penyebab penyakit diarahkan ke penemuan mikroorganisme. Terlebih, Robert Koch, perintis bakteriologi, pada pergantian abad melakukan ekspedisi malaria ke Jawa, dengan Centraal Laboratorium tempat Eijkman bekerja, menjadi tuan rumah bagi Koch yang meraih Hadiah Nobel pada 1905.

Setelah melakukan serangkaian percobaan yang tak kenal lelah, Eijkman bersama Gerrit Gijns akhirnya menemukan bahwa penyebab beri-beri bukanlah bakteri atau virus, melainkan akibat kekurangan zat tertentu dari bahan pangan. Gagasan bahwa kekurangan zat tertentu atau defisiensi dapat menyebabkan penyakit merupakan gagasan baru pada awal abad ke-20 yang sulit diterima oleh para ilmuwan.

Tetapi pada dekade kedua abad ke-20, penelitian-penelitian yang mendukung teori defisiensi mulai bermunculan. Pada tahun 1911 dan 1913 studi tentang beri-beri di kalangan buruh tambang di Belitung menunjukkan kaitan yang jelas antara penyakit beri-beri dan konsumsi beras giling. Pada tahun 1916, peneliti-peneliti lain melaporkan bahwa pemberian beras dan kacang hijau yang tidak digiling efektif bagi penyembuhan penyakit beri-beri di kalangan kuli-kuli Jawa di pantai timur Sumatra. Kuli-kuli di Sinabang dan Balikpapan juga terbebas dari beri-beri setelah makanan mereka diganti dengan beras yang tidak digiling dan tambahan kacang hijau. (Donath, WF dan Van Veen, AG, “Sejarah Singkat Penelitian Beri-beri di Hindia Belanda”, diterjemahkan oleh I. Snapper untuk laporan PBB tahun 1938).

Tetapi Grijns gagal mengisolasi zat pokok aktif yang berhasil melindungi manusia dan hewan uji dari beri-beri alias vitamin B.

Emprit Haji dan Beri-beri

Dalam Mededelingen van den Dienst den Volksgezonheid in Netherlands-Indie, Jansen tercatat sebagai ahli kimia di Centraal Laboratorium (Eijkman Instituut) sejak 1917. Sama-sama bekerja di Centraal Laboratorium, Jansen terpapar erat dengan penelitian beri-beri Eijkman dan Grijns, termasuk kegagalan mengisolasi zat anti beri-beri.

Jansen lalu mengubah ayam sebagai hewan uji yang digunakan Eijkman dan Grijns dengan burung bondol atau emprit haji (Munia maja). Untuk menentukan kandungan vitamin, emprit haji diberi pakan dedak halus dengan kadar yang berbeda-beda. Emprit haji yang diberi pakan beras giling yang dicuci bersih dengan air mengalir selama 2x24 jam, mulai menunjukkan gejala polyneuritis (beri-beri adalah bentuk polyneuritis) dalam 9-13 hari. Ketika ditambahkan 5 persen dedak halus ke dalam beras, polyneuritis baru muncul 15-23 hari kemudian. Jika jumlah dedaknya ditambah dua kali lipat, baru empat pekan kemudian emprit haji menunjukkan tanda-tanda polyneuritis.

Dedak yang digunakan Jansen diekstrak dengan air yang sudah diasidifikasi. Ekstraknya kemudian diperlakukan dengan tanah liat asam dari Cirebon, sejenis kaolin, yang dapat menyerap vitamin. Jansen melanjutkannya dengan perlakuan kimiawi dan berhasil memperoleh bentuk murni vitamin B. Percobaan dengan emprit haji menunjukkan bahwa 2 bagian zat ini jika ditambahkan ke dalam 1 juta bagian beras giling yang dicuci bersih, dapat mencegah defisiensi vitamin. (Jansen, BCP dan Donath, WF, “Over het isoleeren van anti beri-beri vitamin”, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1926, Volume 66, hlm. 573-574).

Di jurnal yang sama tahun berikutnya, Eijkman memuji Jansen dan Donath yang telah memilih emprit haji yang mudah didapatkan di Weltevreden (kini Jakarta Pusat). Tubuh emprit haji yang mungil hanya membutuhkan sedikit makanan sehingga cepat bereaksi ketika makanan yang dikonsumsi kekurangan vitamin. Dengan demikian, menurut Eijkman, emprit haji ideal sebagai hewan uji untuk percobaan isolasi vitamin.

Tetapi Eijkman mengingatkan bahwa yang dilakukan Jansen dan Donath adalah eksperimen untuk pencegahan polyneuritis, bukan penyembuhan. Meskipun demikian, Eijkman memuji keberhasilan Jansen dan Donath yang berhasil mengisolasi vitamin B dalam bentuk kristal murni. (Eijkman, C. “Proeven met het anti beri-beri vitamin van Jansen en Donath”, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, Volume 67, 1927,hlm. 427-429).

Infografik Mozaik Barend Coenraad Petrus Jansen
Infografik Mozaik Barend Coenraad Petrus Jansen. tirto.id/Rangga


Perintis Ilmu Gizi

Gizi masyarakat tropis merupakan minat utama Jansen sejak ia tiba di Jawa pada 1917. Selain sukses mengisolasi vitamin B (B1), ia juga berhasil menemukan kandungan yodium di air dan mengidentifikasi kandungan protein dalam sayuran serta umbi-umbian. Penelitian tersebut sangat berguna bagi pemenuhan gizi masyarakat pribumi yang kesulitan memenuhi protein dari bahan hewani. (Westenbrink, HGK, “Prof. B. C. P. Jansen”, Nature No. 4875, 6 April 1963).

Meski berat hati meninggalkan Departemen Farmasi dan Kimia Centraal Laboratorium yang disebutnya sebagai “model untuk lembaga riset di wilayah tropis dengan fasilitas lengkap”, Jansen tetap melanjutkan penelitian gizi di Amsterdam. Ilmu Gizi berkembang pesat di Belanda pada masa Jansen (1929-1954). Ia kemudian ditunjuk sebagai direktur Nederlands Instituut voor Volksvoeding (Institut Gizi Rakyat Belanda) dan sebagai anggota KNAW (Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda) pada 1946—ia merupakan anggota ketika masih di Hindia pada 1927, tetapi mengundurkan diri pada 1929.

Sepeninggal Jansen, para peneliti Hindia semakin serius menekuni Ilmu Gizi. Pada tahun 1934, Institut Gizi didirikan dan segera aktif melakukan survei untuk mengetahui status gizi masyarakat. Survei terhadap berbagai kelompok penduduk dilakukan pada tahun itu juga. Survei ini jauh mendahului survei-survei sejenis di kebanyakan negara Barat. Metode serta disiplin ilmu yang terlibat juga lebih luas.

Survei gizi di Hindia melibatkan pemeriksaan kedokteran, analisis biokimia dari darah dan urine, pengukuran komposisi makanan sehari-hari dan penghitungan nilai gizi menggunakan tabel komposisi makanan, studi ekonomi, pertanian, dan sosial. Pada tahun 1940, tabel komposisi makanan Indonesia yang pertama diterbitkan (Luyken, R. “Penemuan Eijkman tentang Vitamin dan Sejarah Riset Gizi di Indonesia”).

Hingga 1942, Institut Gizi telah melaksanakan 35 survei, di antaranya adalah studi gizi di Sagalaherang dan Rengasdengklok (Jawa Barat) yang memiliki banyak kasus kekurangan vitamin A; Pulosari dan Gunung Kidul (Yogyakarta) yang mengalami endemi busung lapar; serta Pacet (Jawa Timur) yang penduduknya juga kurang mendapatkan vitamin A meskipun daerah tersebut subur.

Berawal dari membuktikan bahwa vitamin adalah zat yang nyata, Jansen tidak hanya merintis Ilmu Gizi di Hindia dan Belanda, tetapi juga di dunia. Jansen meninggal di Amsterdam pada 18 Oktober 1962, tepat hari ini 59 tahun lalu.

Baca juga artikel terkait BERI-BERI atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh
DarkLight