Menuju konten utama

Empat Jurus Tampil Memukau di Debat Capres

Empat Jurus Tampil Memukau di Debat. Jangan lupa humor.

Empat Jurus Tampil Memukau di Debat Capres
Banner Debat Capres di Hotel Bidakara, Jakarta Kamis 17 Januari 2019. ANTARA FOTO/Rangga Jingga

tirto.id -

Tampil Prima di Depan Kamera

Ratusan juta pasang mata penduduk Indonesia menyaksikan debat Pilpres melalui televisi. Salah satu hal krusial yang semestinya dihiraukan para kandidat ialah cara mereka tampil di hadapan kamera. Kandidat juga mesti sadar kamera tidak hanya menyorot ketika dia dapat giliran berbicara, tapi juga mengintip apa yang mereka lakukan ketika lawan atau pasangannya berbicara.

Contoh yang paling sering digunakan untuk menggambarkan pentingnya tampil prima di depan kamera ialah Pilpres Amerika Serikat (AS) warsa 1960. John F. Kennedy dan Richard Nixon bertarung di Pilpres itu. Inilah pertama kalinya debat capres disiarkan secara langsung di televisi.

Baik Kennedy maupun Nixon dikenal sebagai politikus muda yang tengah naik daun. Kennedy menjabat senator Massachusetts, sedangkan Nixon duduk sebagai wakil presiden. Saat debat Kennedy tampil tampan dan tampak sehat. Sedangkan Nixon terlihat lelah, sakit, dan tampil tanpa riasan. Tatapan mata Kennedy selalu mengarah ke kamera, seolah menatap para pemirsa televisi. Sementara itu, kala Kennedy berbicara, Nixon memicingkan mata. Bola matanya mengarah ke Kennedy dan dia seringkali berkedip.

Performa Kennedy dan Nixon amat berbeda di hadapan kamera sehingga sebuah legenda berkembang sejak itu: mereka yang mendengarkan debat via radio bakal mengira Nixon mengungguli Kennedy. Sebaliknya, mereka yang menyaksikan debat lewat televisi menganggap Kennedy di atas angin.

Anda Tak Sendirian di Panggung

Di panggung debat, kandidat presiden mesti ingat bahwa dia tampil bersama wakilnya. Kandidat wakil presiden juga mesti mawas diri bahwa dia tidak sendiri. Pembagian durasi berbicara pasangan mesti dibagi porsinya sehingga seseorang tidak tampak mendominasi atau seakan-akan rebutan panggung.

Mari kita lihat penampilan pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum di debat perdana Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018. Uu irit bicara. Di debat yang terdiri atas lima sesi, Uu hanya berbicara di satu sesi saja. Sementara Ridwan Kamil melibas semua pernyataan di empat sesi lainnya.

Untungnya, Uu tidak terkesan ingin mendapat porsi lebih. Setelah debat, mantan bupati Tasikmalaya tersebut mengatakan bahwa apa yang dia bicarakan sudah sesuai porsinya. Dia mengaku disiapkan untuk menjawab isu-isu mengenai desa, intoleransi, dan perbatasan wilayah, dan pemerintahan desa.

Ridwan Kamil memang mendominasi, tapi sikap Uu membuat mereka berbeda dari salah satu lawannya, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Di debat perdana itu, Dedi Mulyadi (Demul) tidak diberi kesempatan untuk berbicara dalam sesi pertama, yakni penyampaian visi-misi. Di sesi kedua, Demul dapat kesempatan bicara selama satu menit. Di waktu yang sempit itu, Demul berbicara dengan tergesa-gesa.

Kemudian di sesi ketiga, begitu Deddy Mizwar (Demiz) selesai menanggapi isu, Demul sudah siap turun dari kursi untuk menambahkan jawaban. Tapi Demiz angkat bicara lagi sedetik kemudian. Alhasil, Demul pun duduk lagi.

Di sesi berikutnya, Demul lagi-lagi berbicara tergesa-gesa di waktu yang sempit. Kalau dapat waktu yang luang, dia berbicara santai tanpa jeda dan tidak beri Demiz kesempatan unjuk gigi. Di sesi terakhir Demul bahkan ikut bicara, meski Demiz belum menyelesaikan penjelasannya.

Pembagian porsi yang demikian mengesankan Demiz dan Demul berebut panggung.

Menepuk Air, Terpecik ke Muka Sendiri

Menyerang kebijakan atau kiprah lawan—apalagi petahana—sudah jadi keharusan. Tapi, kandidat juga mesti memilah dan memilih isu mana yang hendak ia lempar. Jangan sampai malah berbalik menyerang diri sendiri.

Saat debat kelima Pilpres 2014, Hatta Rajasa (saat itu calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto) menanyakan perihal penghargaan Kalpataru kepada Jokowi. Menurut Hatta, itu adalah penghargaan untuk kota yang dianggap berhasil dalam bidang lingkungan. Rampung Jokowi menjawab, Hatta masih menyinggung hal itu. Tujuannya menyerang Jokowi yang pernah menjadi Walikota Solo dan tengah menjabat gubernur DKI Jakarta.

"Bentuk penghargaan itu bukan sesuatu yang terlalu prinsip, tapi lebih merupakan refleksi keberhasilan dari sebuah kota yang bersih dan sehat. Apakah itu dapat atau tidak, itu konsekuensi. Mengapa misalkan DKI yang sebelumnya selalu dapat, tahun ini tidak dapat. Atau misalkan Solo, belum pernah dapat sampai saat ini," kata Hatta.

Mendengar pernyataan itu, Jusuf Kalla (saat itu calon wakil presiden pendamping Jokowi) berdiri. Moderator mempersilakannya berbicara.

"Kalau kota itu bukan Kalpataru, tapi Adipura. Karena pertanyaannya keliru, saya tidak perlu jawab" kata Kalla.

Kalpataru memang merupakan penghargaan di bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada individu atau kelompok yang berjasa dalam usaha pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan penghargaan untuk kota di Indonesia yang sukses dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan adalah Adipura. Pernyataan Hatta jelas blunder.

Lihai Membalikkan Serangan Lawan

Karena diserang lawan itu pasti, kandidat pun wajib punya jawaban. Kalau pun tidak punya, selemah-lemahnya kandidat, dia harus bisa berpikir cepat untuk mencari cara menjawab yang membuat dirinya tidak tampak bodoh, dan kalau bisa, menyerang balik lawannya.

Di debat Pilpres 2014, Prabowo mengaku tidak tahu soal "TPID" yang ditanyakan Jokowi. Sambil duduk memegang mikrofon dan tampak santai, Prabowo lantas bertanya balik, "Singkatan TPID ini bagaimana pak?"

Jokowi pun menjelaskan, "TPID ini untuk tim pengendalian inflasi daerah pak Prabowo."

Setelah itu, Prabowo menjelaskan jawabannya. "Saya tidak terlalu menguasai singkatan," kata Prabowo yang kemudian berdiri dan menyatakan "Kalau itu fungsi dari pemerintahan, itu adalah tugas seorang kepala daerah untuk meningkatkan perannya. Itu 'kan tim pengendalian, kalau ditingkatkan perannya itu ya fungsi manajemen kepala daerah masing-masing."

Kasus seperti itu juga muncul di debat Pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun lalu. Kandidat gubernur Djarot Saiful Hidayat bertanya kepada lawannya, Edy Rahmayadi, mengenai "stunting".

"Saya tidak bisa menjawab apa itu stunting karena saya tak mengerti apa itu stunting. Terima kasih," kata Edy tanpa beban.

Infografik Debat debat berpengaruh dalam sejarah

Infografik Debat debat berpengaruh dalam sejarah

Djarot kemudian menjelaskan pengertian dan pentingnya penanganan stunting. Selepas itu, Edy membalas, "Kalau dibilang gitu, saya kan tahu (stunting). Kalau itu saya buat rencana di perawat siaga, ambulan siaga, dana siaga, mobil jenazah siaga bahkan sampai ke tingkat kecamatan untuk mengatasi stunting. Bahwa yang Bapak duduki, supaya ketika saya duduk sendiri saya tak lupa apa itu stunting."

Lewat pertanyaan dan jawaban itu, Prabowo dan Edy (yang belum pernah menduduki jabatan pemerintahan sipil) digiring seolah mereka tidak paham dengan apa yang akan diurusnya. Sedangkan si penanya, Jokowi dan Djarot, yang punya rekam jejak sebagai kepala daerah mencitrakan diri sebagai orang yang paham mengenai hal-hal teknis mengenai pemerintahan.

Para kandidat bisa berkaca pada debat Pilpres AS 1984 kala petahana Ronald Reagan yang berusia 73 tahun menghadapi Walter Mondale yang berumur jauh lebih muda. Soal usia Reagan itu sudah jadi perbincangan selama dua pekan sebelum debat. Panelis pun turut menyinggung hal itu dalam debat.

Tapi Reagan lihai menjawab. Katanya, "Saya tidak akan menyinggung, untuk kepentingan politik, kemudaan dan ketidakberpengalaman lawan saya."

Penonton debat tertawa dan bahkan Mondale pun ngakak. Sepenggal kalimat sederhana telah menyelamatkan Reagan waktu itu.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Husein Abdulsalam

tirto.id - Politik
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf