Periksa Data

Empat Bulan COVID-19 di RI: Tertinggi di ASEAN, Rasio Tes Meningkat

Oleh: Hanif Gusman - 3 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Empat bulan telah berlalu sejak kasus positif COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada 2 Maret lalu. Bagaimana perkembangan kasusnya hingga hari ini?
tirto.id - Indonesia saat ini mencatatkan diri sebagai negara dengan kasus positif COVID-19 terbanyak dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN. Hingga 1 Juli 2020, kasus positif di Indonesia tercatat sebanyak 57.770 kasus. Sebanyak 25.595 pasien berhasil sembuh dan 2.934 pasien meninggal dunia.

Jumlah kasus yang dicatatkan Indonesia tersebut lebih tinggi jika dibandingkan Singapura. Kasus di Singapura tercatat sebanyak 44.122 kasus. Selain itu, Filipina tercatat dengan kasus terbanyak ketiga dengan 38.511 kasus. Hal ini terjadi empat bulan setelah kasus pertama di Indonesia.

Catatan singkat, negara tetangga seperti Singapura dan Filipina lebih dahulu melaporkan kasus positif COVID-19 di negara mereka. Lantas, bagaimana perjalanan kasus di Indonesia hingga mencapai 50 ribuan kasus dan menjadi yang tertinggi di ASEAN?

Kasus pertama di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020. Saat itu, Jokowi mengumumkan dua kasus sekaligus. Pengumuman dua kasus pertama tersebut sempat masyarakat panik. Setelahnya, kasus baru bermunculan setiap hari. Pada 15 Maret, pemerintah melaporkan adanya 21 kasus positif baru. Jumlah kasus lantas menembus angka 100 dengan total jumlah kasus 117.

Presiden Jokowi sempat meminta jajarannya untuk meningkatkan kecepatan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi kasus baru. Ia menginginkan agar 10 ribu tes PCR dilaksanakan dalam sehari serta lokasinya diperluas.

"Saya ingin tes PCR ini betul-betul bisa diperluas jangkauannya dan mengurangi tumpukan pemeriksaan sampel, terutama di daerah episentrum," kata Jokowi dalam rapat teleconference terbatas dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/4/2020).

Jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia menembus angka 10 ribu pada 30 April 2020 atau selang 59 hari sejak kasus pertama. Pada hari tersebut, tercatat jumlah kasus sebanyak 10.118 kasus dengan pemeriksaan PCR terhadap 94.559 spesimen. Jumlah pasien yang meninggal sebanyak 792 orang. Artinya, tingkat kematian akibat COVID-19 atau CFR (Case Fatality Rate) per 30 April tercatat sebesar 7,83 persen.


Pada 21 Mei 2020, jumlah kasus positif menembus level 20 ribuan, sebanyak 20.162 kasus. Sementara itu, jumlah spesimen yang sudah diuji PCR pada hari yang sama sebanyak 219.975 spesimen. Pengujian spesimen PCR ini belum mencapai target yang diinginkan Jokowi.

Sebagai catatan, berdasarkan data Satuan Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, jumlah spesimen baru yang diperiksa pada hari tersebut, misalnya, hanya sebanyak 8.092 spesimen. Padahal, jumlah tes harian pada 19 Mei mencapai 12.276 spesimen.

Pada 6 Juni 2020, akumulasi kasus positif menembus level 30 ribu kasus, dengan akumulasi kasus positif sebanyak 30.514 kasus. Pada hari yang sama, terdapat 13.095 spesimen yang diuji PCR sehingga total pengujian PCR hingga 6 Juni sebanyak 394.068.

Penambahan kasus positif per hari turut menembus seribu kasus dalam sehari. Catatan tersebut pertama kali terjadi pada 9 Juni dengan 1.042 kasus baru. Setelahnya, penambahan kasus baru lebih dari seribu dalam sehari terjadi beberapa kali, seperti pada 1.241 kasus pada 10 Juni dan 1.111 kasus baru pada 12 Juni.

Sebelumnya, Jokowi menaikkan target tes PCR menjadi 20 ribu spesimen dalam sehari. "Saya menyampaikan terima kasih bahwa target pengujian spesimen yang dulu saya targetkan 10 ribu, ini sudah terlampaui. Saya harapkan target berikutnya, ke depan adalah 20 ribu per hari. Ini harus mulai kita rancang menuju ke sana," kata Jokowi dalam rapat terbatas yang digelar secara daring, Kamis (4/6/2020).

Pada 16 Juni, akumulasi kasus positif mencapai level 40 ribu. Jumlah kasus per 16 Juni tercatat sebanyak 40.400 kasus dengan total uji PCR terhadap 540.115 spesimen.

Target Jokowi terkait 20 ribu tes per hari pertama kali tercapai pada 18 Juni 2020 dengan 20.650 pengujian spesimen. Namun, angka pengujian tersebut fluktuatif setiap harinya dan beberapa kali di bawah target presiden.

Jumlah hari yang dibutuhkan untuk penambahan 10 ribu kasus menjadi lebih cepat. Selang 9 hari setelah 40 ribu kasus, angka tersebut meningkat menjadi 50.187 kasus pada 25 Juni dengan total uji PCR terhadap 708.962 spesimen.


Rasio Tes Meningkat

Meningkatnya jumlah kasus positif tersebut sejalan dengan meningkatnya kapasitas tes PCR yang dilakukan. Setiap melakukan pembaruan pada data yang dilaporkan, Satgas COVID-19 melaporkan uji PCR dalam dua komponen, yaitu jumlah orang yang telah melakukan tes, dan jumlah spesimen yang dites.

Jumlah orang yang telah melakukan uji PCR hingga 1 Juli sebanyak 492.318 orang. Jika menghitung rasio tes terhadap 1 juta penduduk, dengan jumlah penduduk 269,6 juta penduduk maka rasio tes PCR sebesar 1.826 orang per 1 juta penduduk.


Pada saat pertama kasus menembus angka 10 ribu, rasio tes masih lebih rendah. Per 30 April, tes PCR telah dilakukan terhadap 72.351 orang. Artinya, rasio tes sebesar 268 orang per 1 juta penduduk.

Angka rasio tersebut meningkat seiring meningkatnya jumlah kasus. Per 21 Mei, jumlah tes menjadi 160.374 orang atau rasio 595 per 1 juta penduduk. Pada 6 Juni, rasio meningkat menjadi 982 orang per 1 juta penduduk, atau tes terhadap 264.740 orang.

Saat jumlah kasus memasuki level 40 ribu kasus pada 16 Juni, rasio tes telah tembus 1.000 dengan angka rasio 1.259 orang per 1 juta penduduk. Angka rasio tersebut terus meningkat hingga hari ini.

Meskipun rasio tes menunjukan adanya peningkatan, namun kondisi di Indonesia belum dapat dinyatakan aman, karena ketika kasus aktif masih tinggi, masyarakat masih banyak yang belum mematuhi protokol kesehatan ketika berada di ruang publik yang bisa berpotensi menjadi sumber penularan kasus baru.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight