Elizabeth Bathory, antara Vampir Haus Darah dan Intrik Politik

Oleh: R. A. Benjamin - 21 Oktober 2021
Dibaca Normal 4 menit
Elizabeth Báthory disebut sebagai bangsawan haus darah yang telah membunuh ratusan perempuan. Ia jadi inspirasi kisah Dracula.
tirto.id - Penyiksaan, mandi darah, vampir, dan ratusan korban. Itu semua lekat dengan nama Elizabeth Báthory, seorang countess (salah satu titel kebangsawanan, istri dari count) yang hidup di Kerajaan Hungaria pada abad ke-16 dan 17.

Kisah Báthory telah menjadi semacam cerita rakyat dan terus didaur ulang hingga hari ini, terlepas dari akurat atau tidaknya itu semua. Ia menginspirasi beragam produk budaya populer.

Dari ranah sastra, kisah kekejamannya dipercaya menjadi inspirasi novel vampir paling terkenal karya Bram Stoker, Dracula.

Pada kancah gim video arus utama baru-baru ini, Báthory yang kabarnya haus darah menginspirasi penciptaan karakter Lady Dimitrescu dari seri Resident Evil.

Di dunia musik, kisah Báthory mandi dengan darah korbannya mengilhami banyak band menciptakan lagu-lagu gelap dan keras, dari pionir black metal asal Inggris macam Venom hingga band-band yang lebih modern macam Sunn O))) dan Ghost. Pionir black metal lain asal Swedia, Quorthon dan Jonas Åkerlund, bahkan mendirikan band dengan nama sang countess, Bathory.

Apa persisnya kisah yang melekat pada Báthory sehingga pengaruhnya sangat luas? Ia disebut-sebut telah menyiksa dan membunuh lebih dari 650 perempuan dengan bantuan para pelayan. Untuk itu, Guinness World Records memberinya julukan "most prolific female murderer", 'perempuan pembunuh paling produktif sepanjang masa'. Dalam laman tersebut juga disebutkan bahwa Báthory meminum dan mandi dengan darah para korbannya demi awet muda.

Untuk sebuah badan yang dijadikan acuan untuk memverifikasi rekor-rekor dunia, dari yang paling penting sampai paling tidak penting, deskripsi di atas jelas terdengar berlebihan; bagai bualan horor belaka. Lantas bagaimana kisah sesungguhnya dari The Blood Countess?


Berlumuran Darah Perawan

Elizabeth Báthory (dalam ejaan Hungaria: Erzsébet Báthory) lahir pada 1560 dari keluarga bangsawan Protestan terkemuka. Keluarganya mengontrol kawasan Transylvania yang kelak menjadi bagian dari Rumania dan kerap diasosiasikan dengan vampir akibat kisah Dracula.

Manakala mencapai usia 15, Báthory dinikahkan dengan Count Ferenc II Nádasdy. Pernikahan ini disebut sebagai "kesepakatan politis" dalam lingkaran aristokrat.

Karena strata sosial keluarga yang lebih tinggi, alih-alih menggunakan nama suaminya Nádasdy, Elizabeth tetap mempertahankan nama belakangnya, Báthory.

Hadiah pernikahan dari Nádasdy kepada Báthory ialah sebuah kastil di rangkaian pegunungan Karpatia, Kastil Csejthe, yang kelak jadi tempat sang istri menjalani sisa hidupnya dalam hukuman.

Pada 1578, Nádasdy meninggalkan istrinya untuk menjadi komandan utama bala tentara Hungaria dalam kampanye militer melawan Kekaisaran Ottoman. Báthory lantas menjadi sosok tunggal yang bertanggung jawab atas wilayah kekuasan yang luas sekaligus memerintah penduduk setempat. Sejak itulah rumor bahwa Báthory menyiksa pelayan dan sejumlah perempuan mulai mencuat.

Menurut para saksi, korban Báthory ialah para gadis miskin. Mereka dipancing ke kastil dengan iming-iming pekerjaan. Anggapan ini kian menghebohkan kala Nádasdy meninggal dunia pada 1604.

Pada 1610, Raja Hungaria saat itu, Matthias II, memerintahkan György Thurzó untuk menyelidiki tuduhan tersebut. Thurzó merupakan tokoh terkemuka yang menjabat Palatine of Hungary (semacam pejabat tinggi kerajaan). Selain itu dia juga sepupu Báthory dan dipercaya Ferenc Nádasdy akan memberikan proteksi untuk istrinya itu kala sang komandan menyadari umurnya tak lagi panjang.

Antara Maret dan Juli 1610, anak buah Thurzó mewawancarai 52 saksi di mana 34 di antaranya adalah pelayan sang countess. Berbagai laporan dan kesaksian mengatakan Báthory memasukkan para korban ke dalam alat penyiksaan bernama Iron Maiden, membakar mereka, memukul mereka sampai mati menggunakan tongkat, menuangkan air es ke tubuh mereka, dan membiarkan mereka membeku.

Ia juga dikatakan menutupi tubuh korban dengan madu agar kulit mereka dimangsa serangga. Báthory juga dikabarkan menggigit potongan daging dari dada dan wajah para korban.

Báthory juga dikabarkan menggunakan gunting sebagai instrumen favorit untuk memotong bagian tubuh para korban. Ada pula tuduhan kanibalisme hingga klaim bahwa mereka pernah melihat sang countess berhubungan seks dengan setan.


Setelah mendengar berbagai tuduhan itu, Thurzó akhirnya mendakwa Báthory dengan kematian 80 gadis. Angka korban yang diperkirakan mencapai 650 jiwa muncul dari seorang pelayan bernama Suzannah yang mengaku melihat buku harian sang majikan yang berisi daftar nama seluruh korban. Menurut si pelayan, buku itu berada di tangan salah satu pejabat pengadilan tapi tak pernah ditemukan sampai sekarang.

Episode Kegilaan

Elizabeth Báthory adalah hasil perkawinan sedarah—yang disebut membuatnya mengidap epilepsi. Akibat penyakit itu Báthory berkali-kali kejang hebat sejak kecil.

Sebagian penulis dan sejarawan percaya Báthory mengalami kepuasan psikologis dan seksual ketika membunuh seperti pembunuh berantai pada umumnya. Bahwa penyiksaan tak hanya meringankan serangan epilepsi dan kemarahan, tetapi juga membantunya meremajakan kulit.

Tapi apa mungkin membunuh 600-an perempuan muda sepenuhnya disebabkan kumatnya epilepsi belaka? Cristina Santos berpendapat genetika bisa jadi hanyalah sebagian pemicu. Kenyataan bahwa Báthory sangat detail dalam penyiksaan dan pembunuhan tidaklah mungkin semata-mata disebabkan oleh episode kegilaan yang tidak terkendali dan/atau epilepsi, melainkan juga pertanda kecenderungan sadistik yang lebih mengakar.

Dalam artikel jurnal berjudul Vampire or Megalomaniac Serial Killer?: The Bloody Countess Elizabeth Bathory, Santos mengungkapkan bahwa asal usul perilaku kejam dapat dikaitkan dengan lingkungan tempat seseorang dilahirkan. Dan itulah yang dia cari tahu untuk dapat "membaca" Báthory.

Báthory memiliki privilese karena kelas sosialnya, seperti kebebasan seksual dan intelektual. Sedari kecil, ia juga telah menerima pendidikan tradisional baik oleh pendeta Protestan maupun biarawan Katolik. Sampai sini latar belakang itu tidak menjelaskan apa-apa.

Tapi, setelah menukik lebih dalam, diketahui bahwa Báthory adalah anak dari perkawinan sedarah yang lahir dan tumbuh selama masa peperangan. Dalam periode itu penyiksaan dan kekerasan adalah kejadian sehari-hari.

Ia juga hidup pada akhir 1500-an, ketika seni sihir (witchcraft) berkembang. Untuk urusan yang terakhir, Báthory disebut memperoleh instruksi-instruksi sihir dari pelayan setianya, Anna Darvolya alias Darvulia.


Di samping para pelayan, beberapa perempuan bangsawan lain juga disebutkan bertindak sebagai "penangkap para gadis" untuk Báthory. Mereka bepergian untuk mencarikan dia pelayan perempuan baru ketika "persediaan lokal" berkurang.

Selain Darvulia yang meninggal pada 1609, seluruh pelayan Báthory lantas diadili dan dieksekusi.

Báthory sendiri dikurung di Kastil Csejte selama sisa hidupnya hingga 1614. Dia meninggal pada usia 54. Reruntuhan kastil itu kini menjadi objek wisata di kawasan yang masuk ke dalam teritori Slovakia, dikenal dengan nama Kastil Čachtice.

Fakta & Mitos yang Berkelindan

Kasus Elizabeth Báthory segera menginspirasi banyak cerita selama abad ke-18 dan 19. Motif paling umum dari karya-karya yang muncul saat itu adalah bahwa sang countess bermandikan darah korban perawan demi awet muda. Legenda ini muncul pertama kali di media cetak lebih seabad setelah kematiannya, tepatnya pada 1729, dalam Tragica Historia karya seorang sarjana Jesuit László Turóczi.

Sebetulnya tidak atau belum ada bukti bahwa Báthory mandi menggunakan darah korbannya. Beberapa sejarawan bahkan berpendapat kasus Báthory tak ubahnya konspirasi belaka yang didasari motif ekonomi dan politik. Ini kurang lebih serupa mitos likantropi babi ngepet di Hindia Belanda yang berangkat dari kecemburuan sosio-ekonomi sebagian pihak terhadap pihak lain.

Faktanya Báthory kaya raya, menguasai tanah yang luas, dan berkuasa. Itu semua kian bertambah setelah kematian suaminya.

Dalam konteks tersebut yang patut disorot tidak lain orang yang pertama kali memerintahkan penyelidikan terhadap Báthory, Raja Hungaria Matthias II. Selama bertahun-tahun Matthias II menerima pinjaman uang dari suami Báthory tanpa sama sekali berusaha untuk membayarnya. Menurut Britannica, utang dalam jumlah besar tersebut akhirnya dianggap lunas oleh keluarga sang countess sebagai imbalan untuk mengizinkan mereka mengelola penawanannya (alih-alih dieksekusi). Selain itu, kepemilikan tanah Báthory dan Nádasdy juga dialihkan.

Tak hanya faktor ekonomi, muncul pula konteks persaingan antara Katolik dan Protestan di Hungaria pada masa itu yang melatari kisah Báthory.

Ketika tidak sedang memerangi orang-orang Ottoman, Kerajaan Hungaria menghadapi konflik internal. Sebagian besar bangsawan saat itu adalah penganut Katolik, sementara klan Báthory dan Nádasdy ada di kubu Protestan. Kasus Báthory lantas dianggap sebagai salah satu upaya menjinakkan salah satu pihak, menjaga agar orang-orang Protestan tidak memberontak terhadap raja.


Infografik Elizabeth Bathory
Infografik Elizabeth Bathory The Blood Countess. tirto.id/Quita


Kendati motif-motif tersebut bisa dibilang cocok dengan kejatuhan Elizabeth Báthory, tetapi kesemuanya pun tidak disertai bukti historis.

Dalam riset yang dirilis pada 2014, Rachael Leigh Bledsaw dari Illinois State University menyatakan bantahannya. Dia menyebutkan bahwa perempuan berkuasa bukanlah sesuatu yang ditakuti dan dihindari di Polandia dan Hungaria (dan Eropa secara umum) pada masa itu. Bahwa utang-utang raja terhadap Báthory tidak bisa dibatalkan begitu saja, dan bahwa kasus kekejaman sang countess dibuka lantaran memang tersedia bukti-bukti kuat.

Sampai para sejarawan menemukan bukti baru dan kuat, Elizabeth Báthory masih akan tetap disebut telah melakukan 80 atau 650 penyiksaan dan pembunuhan. Berbagai lagu, film, cerita-cerita baru masih akan terus muncul dari kisahnya, dengan mandi darah, tendensi vampir, dan penyiksaan.

Baca juga artikel terkait VAMPIR atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight