Elite Indonesia Lupa Silicon Valley Tak Tumbuh dalam Semalam

Oleh: Hatib A Kadir - 19 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Kaum elite Indonesia bermimpi punya Silicon Valley. Apakah basis materialnya cukup?
tirto.id - Imajinasi elite pemerintah Indonesia tentang Google, Faebook, LinkedIn yang berbasis di Silicon Valley sangatlah ahistoris. Padahal, Silicon Valley menjadi episentrum teknologi dunia saat ini tak lepas dari rentang waktu yang panjang. Setidaknya ada tiga unsur yang menyebabkan mengapa Silicon Valley berkembang pesat.

Pertama, munculnya kalangan penghobi atau hobbyist yang kemudian menjadi usahawan teknologi (entrepreneurial technology) atau bekerja di universitas tempatan seperti Stanford dan Berkeley. Kedua, campur tangan kapitalis ventura atau venture capitalist yang berinvestasi pada perusahaan. Ketiga, momen politik yang menghadirkan kepastian hukum, di samping menumbuhkan perasaan krisis dan antisipasi terhadap ancaman.

Pertama, hobbyist. Pengembangan teknologi tidak dimulai dari kalangan saintis melainkan dari hobbyist. Ini tampak pada dua pendiri Apple, Steve Wozniak dan Steve Jobs, yang memulai usaha sistem operasi mikroprosesor dari sebuah garasi pada 1976. Produk yang mereka hasilkan kemudian dijual ke rekan-rekan mereka sendiri.


Namun, jauh sebelum itu, anak-anak muda di Palo Alto pada 1920-an menjadi penghobi radio amatir, memulainya dengan mengatur masuk-keluarnya kapal pengangkut barang di daerah yang disebut Bay Area, yakni San Fransisco dan Oakland. Pelopor lain adalah Charlos Herrold, mahasiswa semester awal teknik mesin Universitas Stanford. Ia mengembangkan radio komunikasi komersial pertama di San Jose pada 1920, kelak menjadi gelombang radio FM yang berawal dari hobi musik penciptanya. Para tetangga Herrold memesan lagu favorit dari radio yang ia ciptakan. Para hobbyist ini rata-rata berlatar belakang teknisi (technical engineering).

Dari kegemaran mereka bermain-main gelombang radio, kemudian menjelma menjadi wirausahawan dengan mendirikan berbagai firma kecil-kecilan. Beragam firma elektronik ini memproduksi radio transmiter, loudspeaker, hingga peralatan radio yang membantu komunikasi pengiriman barang melalui kapal.

Relasi di kalangan hobbyist dibangun dengan semangat persahabatan yang egaliter (camaraderie) dan kolaborasi teknisi dan firma. Berkat dukungan perusahaan yang mulai membesar, para enterpreneur teknologi ini kemudian mampu mengembangkan sistem komunikasi band radio lintas benua hingga Australia dan Selandia Baru pada 1920-an.

Munculnya Kapitalis Ventura

Beberapa pelopor di Silicon Valley lain yang memulai kariernya dari hobi seperti William Eitel direkrut oleh Federal Telegraph, perusahaan manufaktur komunikasi terbesar waktu itu. Federal Telegraph mengembangkan tabung vakum (vacuum tube) amplifier untuk radio komunikasi.

Kemudian, Jack McCullough dan Charles Litton direkrut oleh Heintz and Kaufman, perusahaan manufaktur dan komunikasi radio besar pada awal abad ke-20 berbasis di Palo Alto.

William Eitel, Jack McCullough, dan Charles Litton akhirnya melepaskan diri dari perusahaan itu ketika tempat mereka bekerja terimbas krisis ekonomi 1930.

Tiga pelopor ini kemudian mengembangkan bisnisnya dengan cara menjadi entrepreneur teknologi. Ketiganya saling berbagi keuntungan dan risiko sehingga membuat perusahaan semakin besar. Ketika usahanya membesar, mereka menjadi kapitalis ventura baru dengan cara memfinansialkan hasil keuntungan ke bisnis lainnya, seperti perumahan dan bioskop.

Infografik Silicon Valley
Infografik Silicon Valley. tirto.id/Quita


Tradisi camaraderie ini kemudian terus berlanjut hingga ke Steve jobs dan Steve Wozniak ketika mengembangkan komputer rumahan.

Charles Litton kemudian menjadi profesor di Universitas Stanford dan mengembangkan komputer Hewlett-Packard (HP). Generasi di Universitas Stanford selanjutnya mengakselerasi proses manufaktur yang digunakan dalam industri semikonduktor untuk membangun komponen transistor, dan pada gilirannya menghubungkan transistor tersebut bersama-sama. Ini adalah proses utama yang digunakan untuk membuat chip. Universitas Stanford kemudian bekerja sama dengan industri informasi telekomunikasi seperti Hewlett-Packard dan berkolaborasi dengan Walt Disney dalam menciptakan film animasi.

Seiring besarnya bisnis para enterpreneur teknologi, kemudian firma-firma besar seperti GE (General Electric), dan perusahaan telekomunikasi AT&T yang awalnya berbasis di Pantai Pimur (East Coast), mulai berinvestasi di kawasan Bay Area yang terletak di Pantai Barat ini.

Momen Politik dan Kepastian Hukum

Mengapa episentrum jejaring teknologi bukan pantai timur (New York, misalnya) atau di Florida (bagian tenggara AS)?

Salah satu penjelasannya karena lokasi geografi. Anak-anak muda hobbyist bermain-main menciptakan gelombang radio, yang ternyata bukan hanya sangat berguna bagi radio komunikasi kapal dagang di perairan Pasifik. Jasa mereka bahkan juga digunakan untuk mengirim kode morse ke pangkalan militer Angkatan Laut Amerika Serikat di Honolulu, Hawaii.


Di sisi lain, pengembangan teknologi justru pesat karena perasaan terancam oleh kondisi perang. Sejak Perang Dunia I, Amerika Serikat sadar untuk segera mengubah teknologi model komunikasi radio dari kapal ke kapal dan antarkabel ke sistem nirkabel. Teknologi radar (radio detection and ranging) misalnya muncul ketika Perang Dunia II berkecamuk. Dalam menghadapi Jepang dan Jerman, AS memerlukan sistem gelombang elektronik dengan transmisi voltase dan frekuensi tinggi sehingga dapat mendeteksi suara pesawat musuh dari kejauhan. Semua alat untuk menjawab kebutuhan ini dikembangkan di Palo Alto oleh Charles Litton dengan kerja sama antara AT&T dan Universitas Stanford.

Usai Perang Dunia II, para kapitalis ventura mengembangkan Silicon Valley menjadi pusat pengembangan bisnis pertahanan, aerospace, satelit dan bahkan pusat penyembuhan kanker. Muncul pula divisi industri mikrocip dan mikroprosesor (bahan semikonduktor yang digunakan untuk membuat sirkuit terintegrasi) pendukung komputer seperti Hewlett-Packard. Kota-kota kecil seperti Santa Clara, Santa Rosa, dan San Jose tumbuh berkembang menjadi industri mikroprosesor.

Berbeda dengan firma-firma Pantai Timur yang terpusat di New York, firma-firma di Silicon Valley berukuran kecil, terdesentralisasi, terfragmentasi tapi berjejaring. Hal ini karena undang-undang di negara bagian California membolehkan karyawan yang keluar dari perusahaan mengembangkan bisnis seraya tetap mendapatkan hak intelektual atas penemuan yang diperoleh ketika bekerja di perusahaan sebelumnya. Undang-undang ini berbeda sistem kerja perusahaan di Pantai Timur. Undang-undang ini membuat para karyawan di Silicon Valley mudah keluar-masuk dan mendirikan firma-firma kecil.

Robert Gordon, profesor ekonomi dalam bukunya The Rise and Fall American Growth (2016), menyebutkan hak cipta yang benar-benar dilindungi adalah salah satu penyebab berkembangnya ekonomi Amerika. Undang-undang hak cipta sangat kuat ditegakkan karena pesatnya inovasi penemuan di Amerika, seperti mesin ATM, AC, hingga barcode. Hak cipta para teknisi radio amatir juga sangat dilindungi. Karena itu ekosistem milik di Silicon Valley adalah kolaborasi yang kuat antara teknologi enterpreneur, firma besar, dan para pengacara yang menangani hak paten.

Uniknya, Amerika tak mempunyai sistem serikat buruh seperti di Eropa. Yang berlaku adalah sistem bagi hasil atau profit sharing perusahaan. Cara ini dipercaya para teknisi perusahaan bisa membuat karyawan tetap bahagia dan produktif, serta menjaga relasi yang setara.

Kuatnya kepastian hukum yang melindungi hak cipta teknisi dan ventura kapitalis inilah yang membuat Silicon Valley berkembang pesat.

Pada 1960-an, para entrepreneur teknologi mengembangkan sistem semikonduktor AMD dan Intel. Hingga 1970-an, muncul puluhan perusahaan komputer termasuk Apple dan berbagai video game yang dapat dicolokkan ke televisi. Medio 1990-an, lahirlah browser internet, Yahoo, Google, yang kemudian diikuti kemunculan perusahaan besar seperti Dropbox, Netflix, eBay, dan PayPal.

Meningkatnya jejaring Silicon Valley ini kemudian menyebabkan populasi di California tumbuh pesat dari hanya sekitar 7 juta penduduk pada 1940 menjadi 39 juta jiwa pada 2015. Meski demikian, populasinya saat ini stagnan seiring meningkatnya tarif pajak dan biaya hidup di negara bagian California. Banyak teknisi dan perusahaan mulai hengkang termasuk Tesla milik Elon Musk.

Mimpi Instan “Silicon Valley” di Indonesia

Silicon Valley berkembang lebih dari 100 tahun karena kolaborasi komunitas hobbyist, entrepreneur teknologi, kapitalisme ventura, serta divisi riset dan pengembangan yang bermarkas di Stanford dan UC Berkeley. Ekosistem inilah yang memunculkan inovasi dari analog ke digital ke big data hingga yang terbaru self-driving data.

Semua ekosistem industri teknologi ini tidak dibangun dalam semalam. Seperti sebuah restoran besar, ia berawal dari warung kecil kemudian besar menjadi restoran terkenal. Restoran yang terkenal enak ini tak dihasilkan dari modal besar.

Sebaliknya, proyek-proyek yang dimulai secara gigantis di Indonesia beberapa kali mengalami kegagalan. Sulfikar Amir dalam The Technological State in Indonesia (2017) mencatat proyek pengembangan industri berbasis manufaktur di Batam dengan Habibie sebagai ketuanya ketika pertama kali kembali ke Indonesia juga terbengkalai. Demikian juga berkembangnya Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini berganti nama PT Dirgantara Indonesia) tidak berawal secara organik dari ekosistem kecil melainkan langsung dari dana besar pemerintah. Ironisnya, dana ini bukan dari kapitalis ventura yang tertarik pada industri teknologi, melainkan dari Pertamina. Perusahaan minyak milik pemerintah waktu itu mendanai IPTN karena harga minyak dunia ‘kebetulan’ mengalami kenaikan drastis.

Berbagai analis ekonomi-politik kenamaan dari Richard Robison (Indonesia: The Rise of Capital, 1986) hingga Yoshihara Kunio (The Rise of Ersatz Capitalism in Southeast Asia, 1988) telah menunjukkan keterbelakangan teknologi dan ketidakefisienan pembangunan ekonomi berpangkal pada fakta bahwa konsentrasi modal besar di Indonesia berasal dari intervensi negara, bukan dari kelas entrepreneur yang bebas berbisnis. Pihak yang belakangan ini justru dikebiri dengan berbagai pungutan pajak liar oleh agen-agen pemerintah.

Proyek ala “Silicon Valley” di Indonesia ini hanya akan mengulang kaset lama yang diputar kembali. Ia tidak tumbuh secara alami dari ekosistem di tingkatan bawah, melainkan berangkat dari imajinasi megalomaniak para pejabat.

=======

Hatib A Kadir pegiat Eutenika, pernah tinggal di Santa Cruz, periferi Silicon Valley, selama enam tahun.

Baca juga artikel terkait BUKIT ALGORITMA atau tulisan menarik lainnya Hatib A Kadir
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Hatib A Kadir
Editor: Windu Jusuf
DarkLight