Eli Cohen: Aset Israel yang Tak Kunjung Pulang dari Suriah

Eli Cohen. FOTO/commons.wikimedia.org/The State of Israel
Reporter: Felix Nathaniel - 20 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Eli Cohen abadi sebagai nama jalan di Israel. Di Suriah, warga menyimpan dendam kepadanya.
Siapa yang marah ketika Australia menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Jika Anda salah satunya, tentu Anda bisa sedikit memahami mengapa Suriah menghukum mati mata-mata Israel bernama Eli Cohen. Bukan hanya menyadap, Cohen hampir diangkat sebagai Wakil Menteri Pertahanan Suriah. Sebagian besar orang sepakat Cohen berhasil mempermalukan musuh bebuyutan Israel.

Pria bernama lengkap Eliyahu Ben-Shaul Cohen lahir, besar, dan kuliah di Mesir. Saat umurnya genap 30 tahun, hidupnya berubah. Dinas intelijen militer Israel (Aman) menggunakan nama Eli Cohen untuk menyewa apartemen di mana mereka merencanakan pengeboman.

Pengeboman yang dikenal dengan nama Lavon Affair itu gagal dan beberapa orang Israel, termasuk Eli, angkat kaki. Versi lain mengatakan, mereka diusir oleh Mesir ke Israel tahun 1957. Dengan pengusiran itu, Cohen, menurut organisasi Christian United for Israel sudah dua kali ditangkap kepolisian Mesir. Ia sebelumnya diduga membantu penyelundupan orang-orang Yahudi dari Mesir ke Israel setelah Lavon Affair 1954.

Setibanya di Israel, Cohen melanjutkan pekerjaan di bidang intelijen dengan menjadi analis kontraintelijen. Berdasarkan catatan akademisi Universitas Los Angeles, Daniel Galily, Cohen sudah mengajukan lamaran untuk bekerja di Mossad, tetapi ditolak tanpa alasan yang jelas. Dia kemudian menjadi akuntan dan menikahi kekasihnya, Nadia Majald, pada 1959.

Sekitar setahun setelah pernikahan, Mossad merekrutnya karena Cohen dianggap cocok menjalankan misi penyusupan ke Suriah. Kebetulan, Cohen memang punya darah Suriah dari ayahnya. Dibekali latihan selama enam bulan, pada tahun 1961 Cohen menjalankan misinya dan pergi ke Argentina.

Peran yang Cohen mainkan adalah pengusaha tekstil asal Suriah, Kamel Amin Thaabet, yang lahir di Beirut dari orangtua berdarah Suriah. Menurut skenario, Kamel sekeluarga pindah ke Argentina pada 1949. Negeri latin itu dipilih karena sudah banyak imigran Suriah, Israel, maupun Lebanon yang tinggal di sana.


Selain itu, Israel juga pernah punya kisah kesuksesan di Argentina. Agen Mossad berhasil menyelundupkan Otto Adolf Eichmann keluar dari Argentina ke Israel pada 1960. Eichmann adalah perwira Schutsztaffel Nazi yang jadi buronan Israel. Kematangan pengalaman Mossad di Argentina bisa jadi penunjang keberhasilan penyamaran Cohen.

Skenarionya, Kamel ingin kembali ke tanah airnya dan mengabdi pada negara. Dia menjalin hubungan baik dengan diaspora Suriah, termasuk atase militer Suriah di Argentina, Amin al-Hafez. Berkat pertemanan inilah dia bisa masuk ke Suriah dengan mulus.

Kepiawaian Eli Cohen

Keberhasilan Kamel mendekati al-Hafez dicatat dalam buku Eli Ben-Hanan berjudul Our Man in Damascus: Elie Cohn (1969). Lewat sudut pandang orang ketiga, Ben-Hanan memaparkan secara detail perbincangan antara Kamel dengan Hafez.

Kamel bertemu diaspora Suriah, salah satunya Latif el-Zaoumi, pengusaha sekaligus akuntan sukses di Argentina. Dalam perbincangannya dengan Zaoumi, sebisa mungkin Kamel menunjukan sikap nasionalisnya.

Saat membicarakan ekspor daging, misalnya, tiba-tiba nada Kamel meninggi. Dia tidak terima Argentina mengirim daging ke berbagai negara, termasuk Israel, tapi tidak untuk Suriah.

“Suara Kamel terdengar sangat patriotik. Sangat meyakinkan, bahkan el-Zaoumi pun sampai bingung,” tulis Ben-Hanan.

Zaoumi kemudian memperkenalkan Kamel dengan Abdul Latif Hashan. Saat itu dia dikenal sebagai editor surat kabar Arab World. Kepada Hashan, lagi-lagi Kamel menekankan pandangannya yang ultra-nasionalis.

“Sekali Suriah, tetap Suriah. Seorang warga negara yang menyayangi negaranya akan tetap berpegang teguh meski sudah di luar negeri,” kata Kamel. Hashan kemudian memberikan undangan pesta kepada Kamel.

Kamel bertemu Hafez di pesta itu. Ia sadar harus berteman dekat dengan sang jenderal. Apalagi saat itu Hafez berkuasa atas Partai Baath yang sedang merencanakan pemberontakan di Damaskus.

Kamel kemudian menyampaikan pandangannya bahwa Suriah sekarang dikuasi rezim yang lalim lagi korup. Hafez yang termakan bualan Kamel mengundangnya ke ruangan dan bersemuka secara privat. Setelahnya Kamel berhasil masuk ke Suriah.

Di Suriah, Kamel menunjukan bagaimana pejabat Suriah tak lebih dari rombongan pemabuk dan mata keranjang. Kamel sering mengadakan pesta dengan para pejabat yang menghadirkan wanita-wanita penghibur, termasuk para sekretaris Menteri Pertahanan.

Pesta itu yang membuat Kamel mendapat banyak informasi soal Suriah, kemudian menigirim informasi itu lewat kode morse. Ketika Hafez menjadi presiden pada 1963, dia mengajak Kamel jalan-jalan ke Dataran Tinggi Golan yang menjadi lokasi pertahanan Suriah, berbatasan dengan Israel.

Salah satu andil besar Kamel adalah mengirimkan informasi tentang pos pertahanan tentara Suriah di Golan sehingga Israel bisa menghabisi tentara Suriah dengan mudah ketika Perang Enam Hari meletus pada 1967. Penandanya adalah pohon eukaliptus yang konon ditanam berkat usulan Kamel seperti catatan lulusan Universitas Roosevelt, Edward W. Stepnick dalam buku Dana: Adventures in Trouble Land (2014).


Kamel juga mengumpulkan sejumlah informasi terkait pilot pesawat udara militer Suriah. Data tentang nama dan keluarga para pilot, konon, turut menyelamatkan Israel dari serangan udara.

Pernah suatu kali di tahun 1967, pesawat udara Suriah ditugasi menyerang Tel Aviv. Pasukan tersebut mengaku sudah menjatuhkan bom di ibu kota Israel tersebut, padahal bom dijatuhkan di Laut Mediterania. Alasannya, melalui gelombang radio, Israel mengancam akan membalas pengeboman itu kepada keluarga para pilot yang bertugas. Pasukan penerbang itu pun ketakutan.

Kamel sebenarnya berkali-kali bolak-balik Israel-Suriah melalui Swiss atau Argentina. Namun pada 1965, Kamel lengah. Dia mengirim transmisi setiap hari di waktu yang sama. Kalimat yang digunakan juga terlalu panjang sehingga memakan waktu komunikasi yang lama.


Kesalahan terbesar Kamel adalah nekat mengirim pesan di saat Suriah sedang melakukan pembersihan mata-mata di dalam negeri. Pemerintah sampai mendatangkan ahli dari Uni Soviet dengan peralatan khusus untuk mendeteksi penyusup.

Kamel akhirnya tertangkap basah. Ia ditahan dan disiksa.

Pada 18 Mei 1965, Cohen digantung di Lapangan Marjeh Square. Jenazahnya dipajang di muka khalayak dan dipasangi poster berisi pesan-pesan anti-Zionis dalam bahasa Arab. Hafez kemudian mengutus sejumlah orang untuk membuang mayat Cohen ke tempat rahasia.

Kekesalan Hafez memuncak. Dia menghukum sekitar 500 orang yang dianggap bersekutu dengan Kamel. Apalagi saat itu Kamel nyaris diangkat sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Bagaimanapun, membiarkan mata-mata dari Israel berteman dengan presiden saja sudah cukup memalukan.

“Informasi diberikan Cohen secara hati-hati. Apartemennya terletak di seberang kantor pusat staf umum dan dia melaporkan berapa banyak orang di sana saat malam, kapan lampu dimatikan dan iring-iringan pejabat meninggalkan lokasi. Dia mengendus segala indikasi kapan sesuatu akan terjadi,” kata Meir Amit, Direktur Mossad seperti ditulis ahli sejarah Ella Florsheim dan jurnalis Avi Shilon melalui catatan The Handler (2006).

Bagi Israel, Eli Cohen adalah pahlawan. Bagi Suriah, Cohen alias Kamel adalah penghinaan terbesar yang mereka terima dari Israel. Intervensi dari Kanada, Perancis, Belgia, hingga Paus Paulus VI juga gagal mengubah keputusan Suriah.

Ditelantarkan Israel?

Benar Cohen adalah salah satu mata-mata paling handal yang pernah dimiliki Israel. Tapi apa yang membuatnya terkenal? Ada mata-mata di seluruh dunia yang mungkin lebih hebat darinya, karena keahlian nomor satu mata-mata adalah tidak diketahui publik.

Selain Eli Cohen, banyak agen Mossad lainnya tewas saat menjalankan tugas. Misalnya Baruch Cohen di Madrid (1973) atau Ya’akov Barsimantov di Paris seminggu sebelum aksi penyusupan ke Lebanon.

Namun, selain karena capaiannya, Cohen terkenal karena jenazahnya tidak pernah kembali ke Suriah--bahkan tidak bisa ditemukan. Dispensasinya, Presiden Israel Reuven Rivlin menggelar upacara peringatan kematian Cohen di kantornya. Acara seperti itu tidak pernah diselenggarakan sebelumnya, apalagi untuk agen mata-mata.

Seperti kata Rivlin, banyak mata-mata Israel yang tak diketahui publik. Namun Cohen “akan selalui diingat sebagai pahlawan yang berani mengambil risiko demi keamanan dan kebebasan Israel.”

Dengan menyuruh Cohen kembali ke Suriah pada 1965, Israel secara tak langsung mengabaikan keselamatan Eli.

“Kami khawatir. Tapi tidak cukup untuk menghentikan dia [kembali ke Suriah],” kata Meir Amit, masih dalam tulisan The Handler. “Untuk jaga-jaga, kami sudah menyuruhnya berhati-hati.”

Tentu saja tidak cukup. Bagi Israel, kepentingan negara lebih penting dari nyawa Eli. Anggota Mossad David Kimche mengatakan informasi yang diberikan Cohen tak hanya bermanfaat bagi Israel, tapi juga untuk negara sekutu mereka, Amerika Serikat.

“Kami ingin membuktikan bahwa Israel adalah aset [Amerika] yang kuat di Timur Tengah, dan kami bisa mendapatkan informasi yang tidak bisa mereka miliki,” kata Kimche pada 2002 silam seperti dikutip Foreign Policy.

Memang betul Israel sudah melakukan upaya diplomasi untuk mengembalikan jenazah Eli. Melalui Turki pun usaha itu gagal. Toh, Israel juga tak berusaha maksimal.

Usaha setengah hati terbukti ketika anak Amin al-Hafez, Khalid al-Hafidh, meminta $1 miliar untuk mengupayakan pencarian jenazah Cohen di tanah Suriah. Pemerintah Israel tidak menuruti permintaan itu. Istri Eli, Nadia, menilai seharusnya Mossad bertanggungjawab.

“Bukankah Eli sepadan dengan uang sejumlah itu?” kata Nadia seperti dilansir Algemeiner.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Windu Jusuf
DarkLight