Ekspor Karet Turun, Menko Perekonomian Gandeng Menteri PUPR

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 25 Februari 2019
Kemenko Perekonomian mengandeng Menteri PUPR untuk memaksimalkan serapan karet dalam negeri untuk campuran aspal. Kemudian juga pengembangan industri berbasis karet.
tirto.id -
Pemerintah menempuh berbagai cara agar konsumsi karet dalam negeri bisa meningkat. Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak penurunan harga karet dalam pasar ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution berkata, kebijakan ini diambil sebagai upaya jangka menengah penstabilan harga karet yang telah disepakati antara 3 negara yakni, Indonesia, Thailand dan Malaysia dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Thailand pada 22 Februari 2019 lalu.

"Yang tadi saya sampaikan kebijakan jangka menengah adalah promosi karet alam di dalam negara masing-masing," kata Darmin rapat koordinasi pemanfaatan karet dalam negeri untuk kebutuhan infrastruktur dan transportasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (25/2/2019).

Darmin juga berkata, salah satu upaya yang sudah dilakukan Indonesia adalah dengan menggunakan karet sebagai bahan campuran aspal untuk jalan raya.

"Kita akan menggunakan sebanyak mungkin. Di mana Menteri PUPR sebagai menteri sektor, sedang menyelesaikan standar aspal yang dicampur dengan karet. Baik di pusat, provinsi maupun di kabupaten. Sehingga jumlahnya akan cukup besar," papar dia.

Selain itu, konsumsi karet dalam negeri juga akan ditingkatkan lewat pengembangan industri di sektor produksi ban dan juga untuk industri alas kaki.

"Menurut industrinya, selama ini industri terbesar adalah industri ban. Itu ada lagi yang namanya industri ban vulkanisir," jelas dia.

Dengan cara ini, diharapkan Indonesia sebagai salah satu produsen karet dunia bisa mengembalikan harga karet yang tengah anjlok di pasar ekspor.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Moenardji Soedargo mengatakan, langkah ini diharapkan bisa memberi kepastian bagi keberlanjutan industri karet nasional yang tengah lesu.

"Kami pengusaha pengolahan karet mayoritas kami bsinsinya sama, sama petani. Kalau petani nggak sustain (tidak bertahan), kami pusing, kami bingung olah apa kalau nggak ada," papar dia.




Baca juga artikel terkait INDUSTRI KARET atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Zakki Amali
DarkLight