Ekspansi Go-Jek ke Singapura: Bisakah Saingi Grab?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 1 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Go-Jek versi beta resmi dirilis di Singapura.
tirto.id - Go-Jek, startup “super-app” asal Indonesia, resmi mengaspal di Singapura pada Kamis (29/11). Go-Car, layanan ride-hailing berbasis mobil, adalah layanan pertama yang beroperasi di markas pusat Grab tersebut. Dilansir The Straits Times, Presiden Go-Jek Andre Soelistyo mengungkapkan peluncuran layanan startupnya di Singapura sebagai “suatu kebanggaan”. Saat ini, ada sekitar 2.000 pengemudi yang tertarik bergabung dengan Go-Jek.

Pada tahap awal, Go-Jek belum menghadirkan versi penuh layanannya. Pada hari peluncuran, Go-Jek baru merilis versi “beta”, edisi yang memungkinkan banyak perubahan di dalam aplikasinya. Versi beta ini berlaku sejak 29 November hingga 5 Desember 2018.

Go-Jek juga baru tersedia di wilayah timur dan selatan Singapura. Selain itu, hanya pemilik kartu Bank DBS-lah yang diperkenankan melakukan pemesanan Go-Car. DBS adalah bank yang menjadi mitra resmi Go-Jek di Singapura,

Andre mengungkapkan bahwa pembatasan sementara ini dilakukan untuk "menjaga kapasitas layanan dengan permintaan perjalanan dari pengguna".

Kehadiran Go-Jek di Singapura adalah tindak lanjut dari strategi bisnis dan kucuran dana pada 12 Februari 2018 lalu. Startup yang memiliki lebih dari 1 juta pengemudi di Indonesia ini memperoleh investasi senilai $1,5 miliar dalam pendanaan Seri E. Kehadiran di Singapura, merupakan kelanjutan lahirnya Go-Viet di Vietnam dan Get di Thailand. Menurut rencana, Go-Jek tinggal menyasar satu negara lagi, yakni Filipina.


Selain melakukan ekspansi pasar internasional, kehadiran Go-Jek di Singapura adalah respons hengkangnya Uber dari Asia Tenggara. Dilansir Bloomberg, pendiri Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan masuknya Go-Jek ke Singapura akan “menyeimbangkan kembali equilibrum dan menambah lebih banyak kebijakan yang ramah konsumen dan pengemudi. Ini akan meningkatkan kembali kompetisi".

"Kompetisi yang sehat", tegas Nadiem.

Kepergian Uber sejak Maret lalu mengurangi kualitas ride-sharing di Singapura. Bloomberg melaporkan meningkatnya keluhan pengguna akan harga yang lebih tinggi, penundaan, dan penyimpangan dalam layanan. Di sisi lain, pengemudi menyatakan frustrasi karena pendapatan yang berkurang.

Selepas Uber hengkang, Grab mematok tarif dasar sebesar S$2,50 dan 50 sen per kilometer. Grab juga memasang biaya waktu perjalanan sebesar 16 sen per menit. Go-Jek menawarkan harga yang sedikit lebih mahal untuk layanan Go-Car. Tarif dasar dibanderol S$2,70 dengan tarif per kilometer 65 sen. Tak ada tarif untuk waktu perjalanan.

Kemungkinan Go-Jek takkan meluncurkan Go-Ride di Singapura. Sebagai pesaing utama Go-Jek, Grab pun tak merilis GrabBike. Pemilihan Go-Car disebut-sebut sesuai dengan kebiasaan masyarakat Singapura yang percaya bahwa motor memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi. Dilansir The Straits Times, secara statistik, sepeda motor menyumbang 40 persen total kecelakaan fatal yang terjadi di 2017. Otoritas Singapura pun membatasi ruang gerak kendaraan roda dua sehingga menyebabkan melorotnya populasi sepeda motor. Pada 2017, hanya ada 141,9 ribu unit motor di jalanan Singapura, berkurang dibandingkan setahun sebelumnya yang berjumlah 143 ribu unit.

Dengan memilih Go-Car sebagai satu-satunya fitur yang diluncurkan, bagaimana potensi Go-Jek di Singapura?

Merujuk data dalam laman data.gov.sg, masyarakat Singapura merupakan masyarakat yang lebih banyak bepergian menggunakan bus dibanding moda transportasi lain. Data tahun 2016 mengungkapkan ada 3,9 juta penumpang bus tiap harinya. Di bawah bus, ada MRT dengan tiga juta penumpang per hari. Sementara itu, hanya ada 950 ribu penumpang taksi tiap hari, yang keseluruhannya disumbang taksi konvensional. Tidak ada data terkait pengguna ride-sharing Singapura.

Jarak tempuh adalah salah satu alasan mengapa bus lebih populer dibandingkan moda transportasi lainnya. Para pengguna bus, mengutip laman yang sama, rata-rata bepergian sejauh 4,3 kilometer. Sementara moda transportasi lain, yakni MRT dan Taksi, umumnya digunakan masyarakat yang bepergian dengan jarak di atas lima kilometer. Jarak rata-rata penumpang menggunakan taksi sendiri ada di angka 10 kilometer.

Jika melihat data di atas, Go-Jek bisa mengambil penumpang yang bepergian dengan jarak sekitar 10 kilometer, bukan para pengguna bus.

Tapi, apakah para pelaju yang bepergian sekitar 10 kilometer itu akan mudah berpindah ke Go-Jek?

Kepopuleran bus di Singapura salah satunya disebabkan oleh tarif yang murah. Dengan jarak rata-rata 4,3 kilometer, penggunanya cukup membayar S$0,97. Dengan jarak rata-rata 9,2 kilometer, pengguna MRT pun dimanjakan dengan tarif murah. Perjalanan tak lebih dari 10 kilometer hanya dihargai S$0,83. Bila hanya memperhitungkan ongkos, Go-Jek kemungkinan hanya bisa menyasar 950 ribu penumpang taksi per hari itu untuk beralih menggunakan Go-Car. Tapi, berapa perbandingan keduanya?

Mengutip laman Public Transport Council Singapore, perusahaan penyedia taksi konvensional terbesar di Singapura ConfortDelGro mematok biaya S$3,20 sebagai biaya buka pintu dan memberlakukan biaya sebesar S$0,22 tiap 400 meter perjalanan. Pada jam-jam kerja, ConfortDelGro memasang biaya tambahan 25 persen dari total biaya buka pintu dan biaya per meter. Artinya, jika seorang penumpang bepergian sejauh 10 kilometer (jarak rata-rata pengguna taksi) mereka harus membayar S$10,87.

Dengan jarak yang sama, berdasarkan tarif yang disinggung di atas, pengguna Go-Car harus membayar S$9,20. Ongkos itu sedikit lebih mahal dibandingkan dengan yang harus dibayar pengguna jika memilih GrabCar yang sebesar S$9,10 (Grab mengenakan tarif waktu perjalanan, dengan asumsi perjalanan 10 kilometer ditempuh dalam 10 menit atau 60 kilometer per jam).

Infografik Kondisi transportasi singapura


Go-Jek bisa saja jadi pilihan tepat bagi masyarakat Singapura saat ini. Alasannya, merujuk perkataan Soelistyo, “ada promo di awal kemunculan kami” di Singapura. Namun, promo tersebut tentu tak akan berlaku selamanya dan Go-Jek wajib segera menghadirkan layanan-layanan lain. Salah satunya Go-Food.

Pasar pengantaran makanan di Singapura termasuk besar. Statista mencatat, pasar pengantaran makanan ada di angka $63,7 di tahun 2017. Grab sendiri, baru meluncurkan layanan GrabFood pada Mei 2018 lalu. Merujuk pemberitaan Tech in Asia, Grab menyasar empat ribu restoran dan 12 ribu pedagang makanan jalanan yang belum tersentuh layanan pengantaran makanan.


Sayangnya, menghadirkan layanan pengantaran makanan di Singapura tak semudah di Indonesia. Di Indonesia, Go-Jek hanya tinggal menambahkan beban kerjaan pengantaran makanan pada pengemudi Go-Ride yang telah mereka bangun di awal. Dengan merilis Go-Car tanpa kemungkinan meluncurkan Go-Ride, Go-Jek harus membangun dari awal sistem pengantaran makanan di Singapura.

Di Singapura, Grab merilis aplikasi berbeda untuk GrabFood. Ini tak terjadi pada GrabFood di Indonesia. Di Indonesia, GrabFood ada dalam satu aplikasi bersama layanan-layanan Grab lain. Selain itu, GrabFood Singapura memiliki cara tersendiri mengantarkan makanan. Mengutip laman Channel News Asia, para mitra pengantar makanan bisa memilih apakah mereka akan menggunakan motor, PMD (Personal Mobility Device seperti scooter), sepeda, atau jalan kaki. Jika memilih motor dan PMD, para mitra harus terlebih dahulu memperoleh izin Land Transport Authority Singapura.

Go-Jek nampaknya harus melancarkan strategi berbeda untuk bertahan dan memenangkan pertarungan di Singapura. Strategi di Indonesia, Vietnam, dan Thailand nampaknya tak bisa digunakan di negeri yang kini dipimpin Lee Hsien Loong itu.

Baca juga artikel terkait GO-JEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf