Ekonomi RI Tahun 2022 Diprediksi Tumbuh 5,2-5,8%

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 31 Mei 2021
Dibaca Normal 1 menit
Pada tahun 2022, kebijakan fiskal ditujukan untuk pemulihan ekonomi dan reformasi struktural.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajukan sejumlah asumsi makro dalam RAPBN 2022. Pertumbuhan ekonomi 2022 diperkirakan bergerak pada kisaran 5,2 – 5,8%. Ini merupakan perbaikan jika dibandingkan tahun 2021, yang diperkirakan tumbuh di kisaran 4,5-5,3%. Sementara tingkat inflasi 3% plus minus 1%, atau sama dengan proyeksi tahun 2021.

Pada tahun 2022, kebijakan fiskal ditujukan untuk pemulihan ekonomi dan reformasi struktural.

Hal tersebut disampaikan dalam paparan Menteri Keuangan dalam rapat penyampaikan Kebijakan Ekonomi Moneter Pokok-pokok Kebijakan Fiskal 2022 dengan Badan Anggaran DPR RI, Senin (31/5/2021).

Dalam paparannya, Menkeu Sri Mulyani menyatakan bahwa perkembangan positif ekonomi global berlanjut. Pada kuartal I-2021, sejumlah negara sudah tumbuh positif ekonominya mulai dari China, AS, Singapura, Korea Selatan, Perancis, Taiwan. Sementara negara-negara lain sudah mulai pulih meski masih di zona negatif.

Pada tahun 2022, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp13.900-Rp15.000 per dolar AS. Tahun 2021, diperkirakan berada pada Rp14.450 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan akan dalam tren penguatan meski terbatas,” kata Sri Mulyani.

Beberapa faktor yang akan mendorong penguatan rupiah antara lain pemulihan ekonomi global dan domestik serta aktivitas perdagangan internasional, dampak positif beberapa langkah reformasi struktural pada ekonomi dan arus investasi. Juga stance kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan masih akomodatif untuk mendorong pemulihan ekonomi, serta reformasi sektor keuangan.

Tingkat suku bunga SUN 10 tahun diperkirakan pada rentang 6,32% - 7,27% pada 2022.

Selama kurun waktu 10 tahun, tingkat suku bunga SUN 10 tahun bergerak volatile di kisaran 5-10%, dengan rata-rata sebesar 7,3%. Pada 2022-2025, tingkat suku bunga SUN 10 tahun diperkirakan berada pada rentang 4,99%-7,8%.

“Perbaikan kondisi fiskal dan pemulihan ekonomi, disertai berbagai upaya reformasi struktural dan pendalaman pasar keuangan domestik akan berdampak terhadap penurunan suku bunga SUN 10 tahun,” jelas Menkeu.

ICP diproyeksikan bergerak pada rentang USD55-65 per barel. Harga dipengaruhi oleh faktor perbaikan permintaan dan kebijakan pengaturan produksi oleh OPEC+. Di sisi lain, perkembangan pesat energi alternatif akan menahan kenaikan harga.

Lifting minyak akan berada pada kisaran 686-726 ribu barel per hari. Sementara lifting gas di kisaran 1.031-1.103 ribu barel setara minyak per hari.

Diakui Menkeu, lifting migas menunjukkan tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena produksi hulu migas masih mengandalkan sumur-sumur tua yang mengalami penurunan alamiah. Sementara lifting gas relatif tinggi, akan tetapi terkendala rendahnya serapan domestik akibat infrastruktur distribusi yang belum efisien.


Baca juga artikel terkait RAPBN 2021 atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Abdul Aziz
DarkLight