Resesi

Ekonomi Global Kian Lesu, Apakah Indonesia Terancam Resesi?

Ilustrasi ekonomi Global. FOTO/Istockphoto
Oleh: Ringkang Gumiwang - 27 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Melemahnya ekonomi global yang dapat berujung ke resesi sudah di depan mata. Bagaimana dengan Indonesia?
tirto.id - Isu resesi ekonomi saat ini tengah ramai diperbincangkan. Perang dagang antara Cina dan AS yang belum mereda hingga krisis ekonomi yang tengah melanda di beberapa negara menjadi sejumlah faktor yang membuat isu itu kian mencuat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun tidak menampik adanya risiko resesi ekonomi global. Terlebih, menurut mantan pejabat Bank Dunia ini, geliat ekonomi global sampai dengan 2020 diproyeksikan masih akan melemah.

"Resesi itu merefleksikan perekonomian akan mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut dan beberapa negara yang cukup penting di dunia sudah memasuki [fase] kontraksi," tutur Sri Mulyani pada 21 Agustus yang lalu.

Negara yang dimaksud Sri Mulyani itu salah satunya adalah Singapura. Pada kuartal II/2019, produk domestik bruto (PDB) Singapura hanya naik 0,1 persen dari periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi yang terendah dalam 10 tahun terakhir ini.

Negara lainnya adalah Jerman. Dilansir dari BBC, negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di Uni Eropa ini mencatatkan pertumbuhan PDB minus 0,1 persen pada kuartal II/2019 dari periode yang sama tahun lalu.

Argentina juga tidak luput dari kontraksi ini. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di Amerika Selatan itu mencatatkan pertumbuhan PDB minus 5,8 persen pada kuartal I/2019, melanjutkan tren penurunan sejak kuartal II/2018.

Peluang terjadinya resesi ekonomi global juga kian besar manakala AS diproyeksikan ikut pula terkena resesi. Tagar #TrumpRecession bahkan sempat menjadi trending topic di media sosial pada pekan kedua Agustus ini.

Resesi di AS jelas bukan kabar baik untuk ekonomi global. Negara-negara berkembang yang ekonominya baik-baik saja seperti Indonesia bisa saja kena getahnya jika tidak diantisipasi dengan tepat.


Resesi AS

Dilansir dari Guardian, ekonomi AS diproyeksikan bakal terkena resesi lantaran kurva imbal hasil surat utang pemerintah AS—salah satu produk investasi teraman di AS—terbalik atau disebut inverted yield curve.

Kurva imbal hasil disebut terbalik ketika imbal hasil atau suku bunga surat utang jangka panjang bertenor 10 tahun lebih kecil dibandingkan dengan imbal hasil surat utang jangka pendek bertenor dua tahun. Umumnya, investor berharap imbal hasil yang lebih besar untuk surat utang jangka panjang ketimbang jangka pendek, kendati semakin panjang tenor dari surat utang, maka semakin besar pula risikonya.

"Memproyeksikan perkembangan ekonomi di masa mendatang adalah bisnis yang tricky, tapi kurva terbalik ini cukup akurat dalam memperkirakan resesi," kata Michael D. Bauer, periset dari Federal Reserve Bank of San Francisco dalam papernya.

Sederhananya, resesi adalah kondisi di mana perekonomian suatu negara berhenti tumbuh, dan berbalik menurun. Negara dianggap mengalami resesi apabila pertumbuhan PDB mereka menurun selama dua kuartal berturut-turut.

Perusahaan swasta nirlaba asal AS, National Bureau of Economic Research, punya pandangan yang lebih luas terkait resesi. Menurut mereka, penurunan tak hanya di PDB saja, tetapi juga di pendapatan, lapangan kerja, hingga produksi manufaktur.

Sementara itu, Profesor dari Universitas Michigan Betsey Stevenson menganggap bahwa suatu negara bisa dikatakan mengalami resesi meskipun imbas dari resesi tersebut tidak menyentuh seluruh sektor usaha atau hanya beberapa sektor saja.

"Pada resesi ringan, sebagian besar komunitas tenaga kerja tidak mengalami masalah. Namun ada juga komunitas lain yang justru benar-benar hancur," katanya sebagaimana dikutip dari New York Times.

Mengancam Indonesia?

Lantas apakah Indonesia juga terancam terkena resesi? Menurut Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis dari Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty, peluang Indonesia mengalami resesi atau pertumbuhan ekonomi minus karena ketidakpastian ekonomi global saat ini cukup kecil.

"Saya memperkirakan tidak sampai resesi. Apabila ekonomi global melemah atau sampai menjadi resesi, dampaknya ke Indonesia itu mungkin hanya pelemahan ekonomi,” tuturnya kepada Tirto.

Indikator ekonomi Indonesia saat ini kondisinya masih aman, mulai dari kondisi pasar modal, finansial, industri, hingga investasi. Bisa dikatakan, sebut Falianty, fundamental ekonomi Tanah Air saat ini masih cukup positif.

Dari sisi PDB, Indonesia pada kuartal II/2019 tumbuh sebesar 5,05 persen (secara tahunan), meskipun sedikit melambat ketimbang pertumbuhan PDB kuartal I/2019 sebesar 5,1 persen (secara tahunan).


Hasil ini lebih baik ketimbang geliat ekonomi di AS. Dilansir dari Guardian, PDB AS naik 2,1 persen pada kuartal II/2019, atau melambat cukup besar ketimbang pertumbuhan PDB AS pada kuartal I/2019 sebesar 3,1 persen.

Kondisi pasar modal Indonesia juga masih positif. Sepanjang tahun berjalan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,5 persen ke level 6.214. Keyakinan investor asing juga masih tinggi terlihat dari beli bersih yang mencapai Rp60 triliun sepanjang tahun berjalan ini.

Menurut Telisa, lampu kuning makro ekonomi Indonesia saat ini datang dari defisit neraca transaksi berjalan yang terus melebar, meskipun saat ini masih dalam batas aman sekitar tiga persen dari nilai PDB.

Jika ekonomi global memburuk, maka defisit transaksi berjalan dikhawatirkan membengkak, dan cadangan devisa menipis. Apabila cadangan devisa menipis, nilai tukar rupiah juga akan tertekan dan melemah.

"Namun tidak menutup kemungkinan juga ekonomi kita bisa memburuk jika ada hal-hal yang muncul diluar dugaan. Mengukur perkembangan ekonomi ke depan memang tidak mudah," tutur Telisa.

Korelasi antara tren pertumbuhan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini memang tidak selalu beriringan. Pertumbuhan ekonomi global beberapa kali tidak seirama dengan ekonomi Indonesia.


Misalnya saja pada periode 2012-2014. Kala itu, tren pertumbuhan ekonomi global merangkak naik ke level 2,84 persen dari sebelumnya 2,51 persen. Sebaliknya, Indonesia justru melemah dari 6 persen ke 5 persen.

Sebaliknya, ketika ekonomi Indonesia melesat dari 5,5 persen menjadi 6,3 persen pada 2007, pertumbuhan ekonomi global pada saat yang sama justru melempem dari 4,3 persen menjadi 4,2 persen.

Resesi ekonomi global juga tidak membuat Indonesia ikut-ikutan resesi. Contohnya pada 2009. Kala itu, pertumbuhan ekonomi global minus 1,68 persen. Adapun, perekonomian Indonesia justru tumbuh 4,62 persen meski melambat dari tahun sebelumnya yang naik 6 persen.

Begitu pula sebaliknya. Ketika Indonesia mengalami resesi pada 1998, pertumbuhan ekonomi Tanah Air minus 13 persen. Namun pada saat bersamaan, ekonomi global justru tumbuh 2,55 persen meskipun melambat dari sebelumnya tumbuh 3,7 persen.

Baca juga artikel terkait KRISIS EKONOMI GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight