Lingkar Skena

Eisen jadi Bukti Kancah Musik Surabaya sedang Bergemuruh

Konser Eisen. (FOTO/Dok. Khaisar Hafidh/Eisen)
Oleh: Faisal Irfani - 6 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Rock di Surabaya tak akan pernah mati. Eisen adalah buktinya.
Khaisar Hafidh tak mampu menyembunyikan kegembiraan tatkala ia bercerita mengenai pengalaman tur Jawa-Bali yang dilakukan bersama bandnya, Eisen, November 2019 lalu. Tur yang ditempuh dalam rangka perayaan album pendek bertajuk Unhodiernal itu menargetkan kota-kota besar seperti Makassar, Bali, hingga Jakarta.

Namun, bagi Khaisar, dari sekian kota yang disambangi, Surabaya dan Bali adalah dua kota yang meninggalkan impresi terbaik. Di Surabaya, misalnya, Eisen tampil satu panggung dengan veteran metal/rock dari ibu kota, Seringai. Terlebih, segala unsur yang ada dalam pementasan tersebut—dari sound sampai visual—dianggapnya “begitu proporsional”.

Sementara ketika di Bali, Khaisar mengaku uluran tangan para pelaku skena dalam membantu Eisen melangsungkan pertunjukkan menjadi nilai plus tersendiri.

“Anak-anak di sana sangat ramah. Mereka banyak menyediakan [fasilitas] yang dibutuhkan Eisen buat tampil. Ini yang bikin show di Bali sangat menyenangkan,” katanya kepada Tirto (15/12).


Panas dan Bergelora

Membicarakan tur Eisen tak dapat dilepaskan dari kehadiran album pendek mereka: Unhodiernal. Album ini, bisa dibilang menjadi agenda besar sekaligus pintu masuk Eisen dalam merealisasikan pencapaian-pencapaian artistik, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Proses pembuatan Unhodiernal ditempuh selama bertahun-tahun, tepatnya sejak 2016 silam, atau setahun setelah Eisen diputuskan sebagai nama band—sebelumnya Jakebird. Keseluruhan materi dalam Unhodiernal dibikin lewat dua jalan: gitaris melempar riff untuk kemudian digarap bersama dan jamming. Dari proses itulah, akhirnya, terbentuk enam lagu.

Menurut Khaisar, Unhodiernal bermakna proses dan semesta yang membentuk kembali esensi manusia yang tidak terikat masa lalu, sekarang, atau masa depan. Proses tersebut, tambahnya, membuat para pendengar dapat menafsirkan definisi Unhodiernal sesuai konteksnya masing-masing.

Kata Unhodiernal boleh saja terdengar abstrak, tapi tidak dengan musik yang termaktub di dalamnya. Eisen, secara tegas, memainkan pakem rock yang mengambil banyak referensi dari eksponen 1970-an macam Led Zeppelin, Black Sabbath, hingga Motorhead. Di beberapa track, mereka juga menyelipkan warna stoner, seperti yang kerap dibawakan Holy Mountain, Mastodon, sampai jagoan lokal: Sigmun.



Konser Eisen

Dari nomor pertama, Eisen sudah menghentak. Nomor berjudul “Elders” adalah sajian yang padat gizi. Pukulan drum yang rancak berpadu dengan solo gitar yang lezat, riff-riff cepat, serta lengkingan vokal yang sepintas mengingatkan pada sosok Benny Panjaitan ketika menyanyikan “HAAI.”

Pola serupa dipertahankan di lagu “Under the Polaries.” Bedanya, di nomor ini Eisen berani sedikit berimprovisasi dengan meneteskan bebunyian musik Timur a la Kula Shaker serta ketukan-ketukan jazz klasik di bagian pembuka.

Sedangkan jika Anda menyimak “Century of Fear,” maka Anda akan mendapatkan pengaruh Mastodon, terutama di album Crack the Skye (2009). Lalu, “Dehisce” merupakan track instrumental sepanjang empat menit yang tak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Nomor favorit—atau mungkin terbaik—layak dijatuhkan kepada “Bird and Sky.” Lagu ini, tampaknya, memang sengaja dibikin dalam rangka memanaskan circle pit dan mendorong orang-orang untuk ber-headbang berjamaah. Menikmati “Bird and Sky” tak ubahnya seperti sedang berziarah ke konser Motorhead di Roundhouse, London, pada 1975: liar, penuh gelora, dan jadi cara bersenang-senang yang paripurna.

Sekalipun baru berstatus album pendek, Unhodiernal telah menawarkan sajian yang memuaskan. Semua materi yang terdapat di album ini adalah medium tepat bagi Anda yang membutuhkan pelampiasan untuk mengumpat kebusukan politikus, aparat yang brengsek, sampai kebebalan pemerintah.

Pendek kata, andaikata Anda jengah terhadap dunia yang makin ke sini makin runyam, segeralah putar Eisen lalu bersembunyi sejenak dari kekacauan tersebut.


Infografik Eisen

Gairah Surabaya

Proyek Eisen pertama kali dibentuk pada 2015 dengan nama: Jakebird. Para anggotanya ialah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang tengah menempuh studi di program Arsitektur dan Desain Produk—keduanya berada di bawah Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan (FADP).

Pada masa awal berkiprah, Jakebird lebih banyak meng-cover lagu-lagu Nirvana sampai AC/DC. Selang beberapa tahun setelahnya barulah mereka mulai menggodok materi baru. Di fase ini pula nama mereka turut berganti menjadi Eisen, dengan personel Khaisar (gitar dan vokal), Multazam Akbaruned (drum), Arya Widyantoro (bass), dan Maulana Bintang (gitar).

Kehadiran Eisen kian menegaskan betapa sedang bergumuruhnya kancah musik Surabaya. Eisen membuktikan bahwa Surabaya tak sebatas Silampukau dan album Dosa, Kota, dan Kenangan (2015), melainkan juga tempat lahirnya beragam genre.

“[Kancah] di Surabaya sekarang sedang booming dan lebih beragam. Dari mulai rock, shoegaze, folk, sampai alternatif bisa dijumpai di sini,” ungkap Khaisar.

Gemerlap kancah independen di Surabaya tak lepas dari kontribusi dua pihak: C20 Library & Collabtive dan Rumah Gemah Ripah. Lewat C2O, sebuah perpustakaan yang berdiri sejak 2008, muncul SUB/SIDE, netlabel—label musik berbasis internet—yang ditujukan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan musik di Surabaya. Bekerjasama dengan pegiat musik lainnya, SUB/SIDE meluncurkan rilisannya secara daring agar publik mudah mengaksesnya.

Konser Eisen

Tak hanya mempublikasikan rilisan, SUB/SIDE juga menyelenggarakan program bernama SUB/SIDE Live guna mendorong adanya interaksi musik dan budaya antara Surabaya dan wilayah-wilayah lainnya, baik yang terdapat di dalam maupun luar negeri.

Sedangkan Rumah Gemah Ripah bertindak sebagai kolektif promotor yang rutin menyelenggarakan gig—jumlahnya sudah belasan—lewat acara bertajuk “Bojakrama”. Menariknya, Rumah Gemah Ripah punya hubungan khusus dengan C2O, di mana sebagian besar anak-anak muda di dalamnya tumbuh dan mengembangkan diri di perpustakaan itu—termasuk beberapa personel Eisen. Bahkan, berdirinya Rumah Gemah Ripah berawal dari proyek volunteering yang diadakan C2O dalam satu event.

Tur sudah berjalan, demikian pula dengan album pendek yang rampung digarap. Target berikutnya bagi Eisen yakni album penuh yang, seturut penjelasan Khaisar, “bakal segera diproses.” Akan tetapi, di luar rencana itu, Eisen berharap dapat konsisten berkontribusi terhadap perkembangan kancah independen Surabaya.

Melihat sepak terjang mereka, yang wajahnya bisa dilihat melalui Unhodiernal, sepertinya Eisen tak akan kesulitan mewujudkan harapan tersebut.

===============

Lingkar Skena merupakan laporan Tirto yang membahas mengenai band-band dari kancah independen yang berada di luar Jakarta. Laporan ini merupakan lanjutan dari laporan "Musik dan Kota" yang dirilis tahun lalu.

Baca juga artikel terkait LINGKAR SKENA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight