Menuju konten utama

Eiffel I'm In Love 2, Kisah Asmara Picisan di Kota Paris

Tita hanya berpikir tentang menikah, menikah, dan menikah.

Eiffel I'm In Love 2, Kisah Asmara Picisan di Kota Paris
Cuplikan film Eiffel I'm In Love 2. Youtube/Soraya Intercine Films

tirto.id - Setahun setelah Ada Apa Dengan Cinta dirilis (2002), Soraya Bersaudara (Sunil & Ram) lewat Soraya Intercine Pictures membuat Eiffel, I’m in Love (selanjutnya Eiffel 1). Formula filmnya sedikit sama dengan AADC: kehidupan SMA, kisah percintaan, dan tentu saja cowok judes yang membuat cewek jatuh hati meski di awal pertemuan benci setengah mati.

Bedanya, jika ending AADC mentok hanya sampai bandara, Eiffel 1 mencari babak penutup hingga luar negeri. Yang dipilih jadi tujuan (syutingnya) adalah Paris, kota yang dipandang orang-orang sebagai kota paling romantis seantero jagat.

Lima belas tahun kemudian, Eiffel merilis sekuelnya, Eiffel, I'm in Love 2 (selanjutnya Eiffel 2). Film ini (lagi-lagi) rilis tak lama setelah kelanjutan AADC pada 2016. Entah disengaja atau tidak, agaknya Soraya tergiur mengikuti langkah AADC dengan membuat sekuel dan berharap hasilnya bisa tokcer seperti film besutan Riri Riza yang ditonton lebih dari 2 juta penonton itu.

Dalam sekuelnya, nyaris tidak ada yang berubah dari kedua tokoh utama. Tita (Shandy Aulia) masih kelihatan bocah, meskipun usianya 27 tahun dan bekerja sebagai dokter hewan. Ibunya pun masih super-protektif.

Sementara Adit (Samuel Rizal) juga setali tiga uang. Ia masih judes, ketus, dan berlagak cool. Pekerjaannya entah arsitek atau pelukis. Yang jelas ia tinggal di Paris serta lebih suka bermain basket atau menghabiskan waktu di gym.

Kualitas hubungan asmara mereka pun masih sama. Satu dekade lebih nyatanya tidak membuat relasi mereka adem-ayem dan jauh dari pertengkaran. Hampir saban hari, mereka terlibat cekcok. Usia boleh menginjak akhir kepala dua, tapi jiwa (berantem) masih setingkat pacaran anak SMA; menggebu-gebu sampai berdebat karena rasa cemburu.

Eiffel 2 dibuka dengan acara kondangan sahabatnya Tita. Tita yang waktu itu datang sendirian didapuk jadi pager ayu. Saat Tita sedang khidmat menyaksikan bahagianya mempelai menyalami satu per satu tamu undangan, tiba-tiba serombongan kawan SMA-nya datang menghampiri. Tanpa basa-basi, mereka meminta nomor telepon Tita sekaligus memberondongnya dengan daftar pertanyaan "kapan kawin?".

Tita yang melihat dirinya ditekan, mencoba untuk tenang. Ia lantas menjawab bahwa ia masih setia menjalani hubungan jarak jauh (LDR) bersama Adit. Jawaban tersebut, sesaat, menyelamatkan Tita dari serangan teman-teman lamanya. Akan tetapi, jawaban itu juga jadi bumerang untuknya sebab pikirannya langsung mempertanyakan akan sampai kapan dirinya menjalani LDR dengan Adit.

Faktanya, selain meninggalkan pertanyaan refleksi untuk Tita, momen selepas acara kondangan tersebut juga meninggalkan masalah untuk film Eiffel 2 secara keseluruhan. Sebab, adegan-adegan selanjutnya diisi dengan drama picisan dengan topik pembahasan yang berkutat pada kegalauan, tangisan, hingga hasrat ingin cepat kawin.

Infografik eiffel I'M in Love 2

Kelebihan Drama Sejak dari Pikiran

Sejak menit-menit pertama, Eiffel 2 sudah menolak nalar. Misalnya, dalam adegan ketika Tita dicecar pertanyaan "kapan kawin." Tanpa tedeng aling-aling, mereka menyerbu Tita dengan berondongan pertanyaan soal pasangan, alih-alih kabar atau pekerjaan. Untuk ukuran kawan lama, teman-teman Tita ini tergolong buas.

Adegan selanjutnya lebih memprihatinkan lagi. Saat Tita mengeluh karena pesanan cheese burger tak kunjung datang, tiba-tiba muncul sahabatnya yang bernama Adam (Marthino Lio) lengkap membawa dua cheese burger seperti yang dipesan Tita. Yang jadi soal, bagaimana bisa burger yang dipesan lewat kasir lebih cepat tersaji dibanding lewat drive-thru?

Tokoh Adam ini memang banyak mempertontonkan adegan yang mengundang tanda tanya. Ia diceritakan sebagai sahabat Tita yang sudah lama kesengsem dengan dokter hewan itu. Namun, nasib membuat Adam tak keluar dari wilayah pertemanan (friendzone).

Tapi, posisi itu pula yang membuat Adam begitu militan mengejar Tita seperti memberi kado iPad di hari ulang tahun Tita, membelikan cincin untuknya, serta rela terbang jauh menyusul Tita ke Paris hanya untuk memastikan Tita tidak bunuh diri di Sungai Seine akibat putus cinta dengan Adit.

Sebetulnya sah-sah saja Adam melakukan aksi-aksi itu. Yang jadi soal, Adam seperti kardus; bisa diraba tapi kosong di dalam. Ia hanya berguna selama bisa memancing kecemburuan Adit dan membantu Adit balikan ke Tita. Walhasil, sepanjang film, Adam tak punya motivasi lain kecuali menjalani profesi paling mengenaskan di dunia: pengemis cinta.

Banyak hal-hal yang sebetulnya mengganggu dalam Eiffel 2. Kendati begitu, masalah terbesar dalam film ini adalah dramatisasi berlebihan tentang hubungan asmara antara Tita dan Adit.

Hampir setiap adegan diisi dengan bagaimana mereka bertengkar, kegalauan Tita akibat sikap Adit, sampai perdebatan tentang siapa yang bertindak benar dalam hubungan. Bahkan, untuk adegan dalam keluarga (jamuan makan) pun tema obrolannya tak jauh dari asmara Adit dan Tita. Dalam Eiffel 2 tiap anggota keluarga sepertinya diwajibkan untuk mengomentari kisah cinta Adit dan Tita.

Hal lain yang paling tidak masuk akal di sini adalah penggambaran perempuan usia 27 yang dilarang pegang ponsel oleh ibunya. Tita memang sudah berpenghasilan, tapi itu tak membuatnya punya daya tawar yang cukup di depan orangtuanya.

Hasilnya, sepanjang hampir dua jam, kita hanya mendapat satu gambaran solid tentang Tita: gadis yang ngebet kawin. Hanya itu saja keinginannya. Lagipula bukankah dia enteng melepas pekerjaannya sebagai dokter hewan di Jakarta demi menyusul Adit di Paris?

Demikian pula Adit. Dalam semesta Eiffel 2, imajinasi tinggal di Paris rupanya seenteng ngopi-ngopi di kedai pinggir jalan, makan di tempat fancy, dan mengendarai mobil SUV Peugeot. Tak ada penjelasan bagaimana Adit bertahan seorang diri di Paris dengan beban utang yang menumpuk setelah kematian orangtuanya. Pelajaran yang bisa dipetik adalah jika Anda punya beban utang seperti Adit, tinggal jual rumah saja dan masalah langsung beres. Toh, Anda masih bisa senang-senang.

Lantas, bagaimana Eiffel 2 menyelesaikan masalah-masalahnya? Apakah mereka bisa legowo tak jadi menikah dan melanjutkan jalan masing-masing? Atau mereka justru berkompromi satu sama lain seraya meyakinkan bahwa menikah bukan satu-satunya cara untuk bahagia?

Anda tak perlu berpikir macam-macam. Sudah jelas mereka akan bersama.

Namun, dengan cara yang tentu saja picisan.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan lainnya dari M Faisal

tirto.id - Film
Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf