Eiffel I'm In Love 2, FTV yang Tersasar ke Bioskop

Oleh: Windu Jusuf - 18 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lupakan Paris. Eiffel I'm In Love 2 bahkan bisa dibikin di Semarang dan Surabaya.
tirto.id - “Kita akan ke Paris, kota paling romantis di dunia,” sahut Uni kepada Tita (Shandy Aulia), adik iparnya dalam Eiffel I’m In Love 2 (selanjutnya Eiffel 2). Tita luar biasa gembira karena kesempatan tinggal dekat dengan Adit, lelaki yang sudah dipacari selama 12 tahun, akan lekas terwujud.

Kesempatan mendadak itu muncul setelah orangtua Tita ditawari mengurus bisnis restoran Indonesia di Paris. Tita pun harus meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter hewan, kursus Bahasa Perancis, dan melakukan persiapan-persiapan lain. Ia juga meninggalkan Adam, kawan dekat yang naksir berat pada Tita.

Awalnya Tita menganggap kepindahannya ke Paris akan menyelesaikan masalah-masalah percintaan jarak jauh yang kerap diwarnai cekcok kecil-kecilan. Namun, seperti halnya dalam Eiffel I’m In Love yang dirilis 2003 (selanjutnya Eiffel 1), interaksi Tita-Adit di Paris tetap sulit lepas dari pertengkaran konyol. Tita yang berharap dilamar kecewa karena kekasihnya belum siap menikah.

Problem Bernalar

Di situlah masalah Tita sepanjang Eiffel 2: pacaran 12 tahun dengan orang yang ternyata tak siap kawin. Sementara masalah penonton lain lagi: menghadapi skenario yang betul-betul tidak siap jadi film.

Di antara problem khas FTV dan sinetron Indonesia adalah pelecehan logika, abai konteks sosial, bising dengan musik latar dramatis dan suasana batin yang diverbalkan. Hanya di sinilah orang bisa kaya tanpa jelas kerja apa dan rata-rata orang miskin sudah melarat dari lahir—pokok yang terakhir tak sepenuhnya salah.

Demikian pula Eiffel 2 dan pendahulunya, Eiffel 1. Dua-duanya adalah episode FTV yang mendapat kesempatan istimewa diputar di layar lebar.


Selintas dialog dalam Eiffel 2 menyebutkan karakter Tita berusia 27 tahun. Tanpa dialog itu, kita akan mengira usianya 15 tahun—atau setidaknya, setua itulah usia mentalnya.

Anda bayangkan saja, satu episode sinetron Indonesia di mana Lely Sagita berniat meracuni menantunya sendiri. Alih-alih menyusun plot pembunuhan dalam senyap, Lely Sagita justru berkata pada penonton, “Akan kuracuni menantuku” dengan musik latar yang menggelegar heboh. Kira-kira se-verbal itulah Tita mengungkapkan kegalauannya tiap kali berkelahi dengan Adit—dengan atau tanpa voice-over yang kerap ditemukan sepanjang film.

Orangtua Tita, lebih tepatnya ibunya, tampak tak berasal dari dunia nyata. Ia melarang Tita menggunakan ponsel (di usia 27) dan menganggap pukul 20.00 sudah larut malam (padahal ini Jakarta, bukan Daerah Operasi Militer). Namun, jika dipikir-pikir, keputusan sang bunda ada benarnya: tak seharusnya dokter hewan dengan usia mental 15 tahun dibiarkan memegang ponsel dan keluyuran setelah magrib.

Karakter Adit lebih mengawang-awang lagi. Kita mendapatkan gambaran pria usia kepala dua akhir, dengan pekerjaan tak jelas, tapi bisa beli apartemen mewah di seberang menara Eiffel. Cara Adit menyambut tamu à la Parisien juga tak kalah ganjil. Untuk seorang yang sudah belasan tahun tinggal di Paris, menghias kamar untuk menyambut pujaan hati dengan hiasan menara Eiffel di sekujur dinding bertuliskan “Tita, Je t’aime” (“Kusayang kamu, Tita”) terasa dangkal.


Karakter Adam juga terasa janggal. Karakter ini betul-betul tak punya kehidupan lain kecuali jadi salah satu sumber keributan Adit dan Tita. Sama halnya dengan Adit, ia tak punya pekerjaan yang jelas tapi mampu menghadiahi Tita barang-barang mahal.

Namun, dalam semesta Eiffel 2, Adam jelas punya peran yang too good to be true. Tak lama setelah Tita memutuskan hubungannya dengan Adit, Adam langsung terbang ke Paris untuk melamar Tita. Ia tetap tegar ketika lamarannya ditolak—bahkan saking tegarnya, Adam mengantar Tita ke menara Eiffel untuk balikan ke Adit.

Paris, Kota Teror

Berpijak pada premis bahwa Paris adalah kota romantis, Eiffel 2 langsung terasa kuno. Pandangan ini ketinggalan zaman karena sebagian besar anak zaman sekarang menganggap segala yang romantis datang dari Korea.

Anggapan Paris sebagai kota penuh cinta, tentulah sebuah klise dan stereotip usang dan—seperti kebanyakan stereotip—seringkali meleset. Membayangkan Paris beserta penduduknya sebagai entitas yang romantis, tak ada bedanya dengan menganggap seluruh penduduk Munich fasis dan buncit gara-gara bir, semua warga Tokyo adalah pervert, jutaan penghuni Moskow komunis, dan tiap orang yang tinggal di Peking adalah kader Maois.


Namun, rupanya Paris dikenal sebagai ibukotanya jomblo sedunia. Sekitar 43 persen penduduknya tak punya pasangan (10 persen lebih tinggi dari persentase daerah di luar Paris); 46 persen selingkuh, (6 persen lebih tinggi dari daerah lainnya). Nah, dalam pandangan tertentu, fakta bahwa affair terjadi di tiap sudut kota bisa jadi pembenaran betapa romantisnya Paris.

Seromantis apakah Paris sampai-sampai mampu membesarkan para sutradara dengan karya-karya brutal-ekstremis seperti Les amants criminels (1999), Baise-moi (2000), Irreversible (2002), dan High Tension (2003)?

Infografik Paris Romantis


Bayangkan, bangsa romantis macam apa yang lagu nasionalnya mengajak orang untuk "berbaris", menumpahkan "darah yang tak murni untuk mengairi sawah-ladang"? Bagi orang-orang yang merayakan penghancuran penjara Bastille serta dipenggalnya Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette, lirik semacam itu tentu romantis.

Kenyataannya, paling tidak beberapa tahun belakangan, Paris sesungguhnya brutal.

Lima belas tahun setelah Eiffel 1 dirilis pada November 2003, tercatat sudah 13 aksi terorisme terjadi di Paris. Sebagian besar terjadi antara tahun 2015-2017 dengan sasaran distrik bisnis La Défense, kantor tabloid Charlie Hebdo, Museum Louvre, Gereja Notre-Dame, Champs-Élysées, gedung konser Bataclan hingga wilayah pinggir kota.

Bahkan pada Oktober 2004, hanya 11 bulan dari rilis Eiffel 1, kedubes Indonesia di Paris diserang oleh kelompok teroris Front Islamique Français armé. Aksi terorisme teranyar di kota itu terjadi pada Agustus 2017 di barat taut pinggir Kota Paris, ketika seorang berkewarganegaraan Aljazair menabrakkan mobil ke serombongan tentara.


Mari asumsikan cerita dalam Eiffel 2 terjadi pada 2015. Pada tahun itu saja ada empat insiden terorisme yang diberitakan besar-besaran, termasuk di Indonesia. Di tahun yang sama, National Public Radio melaporkan turunnya jumlah wisatawan dan semakin seringnya polisi bersenjata lengkap hadir di daerah turis, menjaga ikon-ikon wisata Paris dari ancaman serangan teroris.

Ditambah isu pembatasan imigrasi dan situasi "darurat sipil" yang terus diperpanjang pemerintah, ketakutan massal adalah kenyataan sehari-hari di Paris. Ia hadir dalam imajinasi kolektif masyarakat Paris, tapi benar-benar absen dalam Eiffel 2.

Tak seorang polisi pun muncul dalam Eiffel 2—satu fakta yang membuktikan bahwa film ini sejak awal konsisten. Konsisten melarang kenyataan untuk tampil.

Baca juga artikel terkait EIFFEL IM IN LOVE 2 atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Film)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram