Efek Plasebo: Alasan Mengapa Pasien Ningsih Tinampi Bisa Sembuh

Ilustrasi Ningsih Tinampi. tirto.id/Fuad
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Efek plasebo bisa memiliki tingkat efektivitas mengurangi nyeri sebesar 50 persen dari obat asli. Tapi tetap tidak menyasar sumber asli penyakit.
Seorang pria tergeletak di ranjang sempit yang cuma muat ditiduri satu orang. Di depannya, Ningsih Tinampi, seorang dukun asal Pasuruan Jawa Timur memberi beberapa pertanyaan soal keluhan penyakit pria itu, persis seperti dokter ketika melakukan amnesis kepada pasiennya.

“Sudah berapa kali terapi mas?”

Yang ditanya menjawab dengan suara parau bahwa hari itu adalah kali kedua ia berkunjung. Meski demikian, sang pria sudah memberi banyak testimoni kesehatan. Katanya saat pertama datang, mobilitasnya harus dibantu dengan kursi roda, perutnya pun keras dan bengkak, hingga susah melakukan gerakan salat.

Tapi setelah diterapi oleh Ningsih dan rutin minum air rebusan pare, ia kembali bisa berjalan. Kondisi perutnya juga membaik dan mulai mengempis. Ningsih lalu memberi terapi lanjutan dengan menekan-nekan bagian perut, kepala, punggung atas, dan kaki. Ia juga menepuk keras bagian dada si pria.

“Ya inilah mukjizat, hanya empat hari...” kata Ningsih seolah menunjukkan bahwa terapinya benar-benar manjur.

Sang pria mengangkat kedua ibu jarinya di pungkasan cerita, rasanya seperti memberi simbol ‘Top, keren, bagus’ atau semacamnya. Pengakuan pria itu kemudian disambut doa dan saran-saran kesehatan lain oleh Ningsih. Si pria pantang mengonsumsi ikan laut, karena menurut Ningsih makanan itu bisa memicu gatal. Jika diterawang secara gaib, lanjutnya, liver akan membengkak, busuk, dan banyak belatung.


Rekam kejadian itu diunggah Ningsih di akun Youtube dengan judul “Ganasnya Penyakit Lifer”. Dari waktu pengunggahan sekitar seminggu lalu, video ini sudah ditonton hampir 46 ribu kali (per 5 Desember 2019). Ningsih memang seringkali mempublikasikan aktivitas pengobatan alternatifnya ke media sosial--promosi yang jarang dilakukan dukun, tabib, atau profesi sejenisnya.

Karena itulah akun Ningsih viral dan cepat terkenal. Akun Youtube yang dibuat pada 7 Agustus 2018 telah memiliki 1,8 juta pengikut (per 5 Desember 2019). Klaim pasiennya bahkan mencapai 30 ribu orang dengan antrean pendaftaran hingga dua tahun ke depan.

Ningsih dan Para Tabib Kesehatan Lain

Ningsih Tinampi adalah fenomena kesehatan yang terus berulang di Indonesia. Ia seolah jadi gambaran kegagapan masyarakat terhadap ilmu pengobatan modern, sekaligus kegagalan pemerintah menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau, berkualitas, dan mudah diakses.

Sebelum Ningsih, kita sudah mengenal banyak terapi kesehatan alternatif lain yang tidak berbasis sains. Sebut saja ketenaran Klinik Tong Fang di kisaran tahun 2012-an. Lalu, mundur lebih jauh ke 2009 ada kisah dukun cilik Ponari. Keduanya sama-sama memberi klaim bisa menyembuhkan beragam penyakit tanpa perlu pergi ke dokter.

Jika di Klinik Tong Fang pasien disuruh minum racikan jamu dari Cina, maka pasien Ponari cuma perlu meminum air yang dicelup batu sakti, dengan bayaran seikhlasnya. Iming-iming harga murah dan jaminan kesehatan membikin terapi-terapi kesehatan alternatif ini ramai dikunjungi orang-orang pendamba keajaiban.

Pada 2016 Ponari berkisah di acara Hitam Putih bahwa jumlah pasiennya kala itu turun drastis. Dari yang semula mengular antreannya, hingga hanya satu-dua kedatangan per tiga hari. Dengan jujur ia mengakui banyak pasien yang sembuh, tapi ada juga yang tetap sakit. Malah saat sedang tenar-tenarnya, praktik Ponari sempat ditutup karena ada pasien meninggal kelelahan akibat menunggu antrean berobat.

Baik Ningsih, Klinik Tong Fang, maupun Ponari menawarkan janji manis kesembuhan yang tidak didapat ketika pasien berobat ke dokter. Mereka juga tak meminta pasien mengonsumsi banyak obat. Konsumsi obat rutin adalah salah satu alasan pasien enggan berobat medis. Semua klaim manfaat kesehatan itu diperoleh dengan bayaran relatif murah, plus keramahan tiada tara dari sang tabib.

Meski sekarang sudah eranya BPJS Kesehatan, masih banyak masyarakat yang tidak terdaftar program tersebut. Lainnya justru menunggak pembayaran karena iuran melonjak dan harus ditanggung renteng per keluarga. Keluhan terakhir menyoal keramahan petugas. Bukan hal baru jika pasien BPJS Kesehatan diperlakukan “berbeda” dibanding pasien umum.

Pasien BPJS Kesehatan sering mendapat layanan perawatan kelas bawah dengan alasan kamar sudah penuh. Para petugas administrasi dan medis di fasilitas kesehatan pun terkesan lebih kasar dan kurang sabar saat menghadapi mereka. Bahkan dokter-dokter di fasilitas kesehatan tingkat satu seringkali hanya bertanya keluhan pasien dan langsung memberi resep obat. Tanpa menyentuh dan melakukan pemeriksaan lanjutan pada pasien.

Diskriminasi pelayanan ini pernah disinggung oleh Anggota Komisi IX DPR RI bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning saat rapat kerja bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Direksi BPJS Kesehatan. Jadi, bagaimana masyarakat mau melek pengobatan berbasis keilmuan jika dari sisi psikologisnya saja pasien tidak dibesarkan hatinya.

Pengobatan Ala Dukun dan Tabib, Manjurkah?

Pengobatan seperti yang ditawarkan Ningsih dan Ponari sama sekali tidak memiliki landasan keilmuan. Dua-duanya malah menjual cerita-cerita spiritual di balik kemampuannya menyembuhkan pasien. Batu ajaib milik Ponari kabarnya ditemukan saat ia bermain hujan-hujanan. Saat dibuang, batu itu secara gaib kembali lagi ke rumah Ponari.

Sementara Ningsih mengaku dapat kekuatan saat diselingkuhi mantan suaminya. Saat itu Ningsih pergi ke dukun dan justru diberitahu bahwa ia memiliki energi untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir jin. Jika dicerna secara akal sehat, kemampuan keduanya terasa mustahil. Tapi mengapa banyak orang yang memberi testimoni positif?



Jawabannya bisa dijabarkan secara ilmiah, yakni efek plasebo, di mana kekuatan pikiran (gagasan otak) dapat merangsang penyembuhan dengan meyakini perawatan bertujuan untuk pengobatan. Sebuah studi yang terbit di Science Translational Medicine (2014) menyimpulkan, dalam keadaan yang tepat, efek plasebo memiliki setengah dari tingkat keberhasilan perawatan nyata.

Ted Kaptchuk sebagai peneliti utama menguji reaksi orang terhadap obat nyeri migrain. Setelah diteliti, plasebo ternyata memiliki efektivitas mengurangi nyeri migrain sebesar 50 persen dari obat asli. Para peneliti berspekulasi bahwa hasil dari perawatan medis dipengaruhi konteks psikososial.

“Orang mengaitkan ritual minum obat sebagai efek penyembuhan,” terang Kaptchuk seperti dilansir pada laman Harvard Medical School.

Bahkan meskipun secara sadar mereka mengetahui perawatan yang diterima bukanlah pengobatan nyata. Aktivitas itu dapat merangsang otak berpikir bahwa tubuh sedang dalam proses penyembuhan. Meski begitu, Kaptchuk tetap menekankan plasebo paling banter hanya mengurangi nyeri, insomnia akibat stres, dan efek samping pengobatan seperti lelah dan mual.

Sekarang kita tahu alasan mengapa masyarakat lebih menyukai pengobatan Ningsih dan Ponari. Lewat efek plasebo, mereka menjanjikan peningkatan kontrol diri, percaya diri, perbaikan kesehatan. Meski semuanya semu karena efek plasebo tidak menyasar sumber asli penyakit.

Baca juga artikel terkait PENGOBATAN ALTERNATIF atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight