Efek Konsumsi Gula Berlebih Bagi Tubuh: Picu Depresi hingga Kanker

Oleh: Balqis Fallahnda - 22 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Mengonsumsi terlalu banyak gula, terutama dari minuman manis, meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan dapat menyebabkan penumpukan lemak visceral.
tirto.id - Anda pasti sudah tahu bahwa mengonsumsi terlalu banyak gula tidak baik untuk kesehatan.

Namun, meski mengetahui fakta tersebut, tanpa sadar Anda mungkin masih mengonsumsinnya dengan berlebihan.

Sebagai contoh, orang Amerika rata-rata mengonsumsi sekitar 270 kalori gula setiap hari, yaitu sekitar 17 sendok teh per hari. Hal tersebut melebihi batas normal yang disarankan, yakni sekitar 12 sendok teh per hari atau 200 kalori, demikian ditulis WebMD.

Minuman manis, permen, makanan yang dipanggang, dan susu manis adalah sumber utama tambahan gula setiap harinya.

Tak hanya itu, bahkan makanan gurih, seperti roti, saus tomat, dan nasi, dapat mengandung gula. Sehingga, membuat Anda tidak menyadari kelebihan gula yang dikonsusmsi sehari-hari.

Lebih lanjut, asupan gula biasanya juga kita dapatkan dalam makanan kemasan. Biasanya dalam label nutrisi makanan kemasan kandungan gula akan ditulis dengan istilah sirup jagung, agave nektar, gula aren, jus tebu, atau sukrosa.

Sehingga hal ini sering kali menyusahkan bagi orang awam untuk mengetahui kandungan gula yang ada dalam setiap makanan kemasan.

Namun, tidak peduli apa namanya, gula adalah gula, dan jika dikonsumsi secara berlebihan, akan membuat berbagai masalah kesehatan.

Berikut masalah kesehatan yang dapat terjadi jika mengonsumsi gula secara berlebihan melansir Healthline.

Menyebabkan peningkatan berat badan

Mengonsumsi terlalu banyak gula, terutama dari minuman manis, meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan dapat menyebabkan penumpukan lemak visceral.

Konsumsi fruktosa yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi terhadap leptin, hormon penting untuk mengatur rasa lapar dan alarm tubuh untuk berhenti makan.

Dengan kata lain, minuman manis memicu Anda selalu lapar dan memicu untuk mengonsumsi kalori cair dalam jumlah tinggi. Ini bisa menyebabkan penambahan berat badan.

Penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang minum minuman manis, seperti soda dan jus, memiliki berat badan lebih dibanding orang yang tidak mengonsumsinya.

Selain itu, mengonsumsi banyak minuman yang dimaniskan dengan gula dikaitkan dengan peningkatan jumlah lemak visceral, sejenis lemak perut yang terkait dengan kondisi seperti diabetes dan penyakit jantung

Meningkatkan risiko penyakit jantung

Mengonsumsi terlalu banyak gula menambah faktor risiko penyakit jantung seperti obesitas, tekanan darah tinggi, dan peradangan. Konsumsi gula berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung.

Sebuah studi di lebih dari 30.000 orang menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi 17-21 persen kalori dari gula tambahan memiliki risiko 38 persen lebih besar meninggal akibat penyakit jantung, dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi 8 persen kalori dari gula tambahan.

Penyebab jerawat

Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan sekresi androgen, produksi minyak, dan peradangan, yang semuanya dapat meningkatkan risiko Anda terkena jerawat.

Studi telah menunjukkan bahwa diet rendah glikemik dikaitkan dengan pengurangan risiko jerawat, sementara diet tinggi glikemik dikaitkan dengan risiko yang lebih besar.

Sebagai contoh, sebuah penelitian pada 2.300 remaja menunjukkan bahwa mereka yang sering mengonsumsi gula tambahan memiliki risiko 30 persen lebih besar terkena jerawat.

Meningkatkan risiko diabetes tipe 2

Diet tinggi gula dapat menyebabkan obesitas dan resistensi insulin, yang keduanya merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.

Sebuah studi populasi yang melibatkan lebih dari 175 negara menemukan bahwa risiko terkena diabetes tumbuh sebesar 1,1 persen untuk setiap 150 kalori gula, atau sekitar satu kaleng soda, yang dikonsumsi per hari.

Meningkatkan risiko penyakit kanker

Terlalu banyak mengonsumsi gula dapat menyebabkan obesitas, resistensi insulin dan peradangan, yang semuanya merupakan faktor risiko kanker.

Sebuah studi kepada lebih dari 430.000 orang menemukan bahwa konsumsi gula tambahan secara positif terkait dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan, kanker rongga dada dan kanker usus kecil.

Studi lain menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi roti manis dan kue lebih dari tiga kali per minggu, 1,42 kali lebih mungkin mengembangkan kanker endometrium daripada wanita yang mengonsumsi makanan ini kurang dari 0,5 kali per minggu.

Meningkatkan risiko depresi

Pola makan yang kaya akan gula tambahan dan makanan olahan dapat meningkatkan risiko depresi pada pria dan wanita.

Sebuah penelitian yang diikuti 8.000 orang selama 22 tahun menunjukkan bahwa pria yang mengonsumsi 67 gram atau lebih gula per hari 23 persen lebih mungkin untuk mengalami depresi daripada pria yang makan kurang dari 40 gram per hari.

Studi lain di lebih dari 69.000 wanita menunjukkan bahwa mereka dengan asupan gula tambahan tertinggi memiliki risiko depresi yang lebih besar secara signifikan, dibandingkan dengan mereka yang asupan terendah.

Mempercepat proses penuan kulit

Makanan manis dapat meningkatkan produksi AGEs, yang dapat mempercepat penuaan kulit dan pembentukan keriput.

AGEs merusak kolagen dan elastin, yang merupakan protein yang membantu kulit meregang dan mempertahankan penampilan awet muda. Ketika kolagen dan elastin menjadi rusak, kulit kehilangan kekencangannya dan mulai melorot.

Dalam satu penelitian, wanita yang mengonsumsi lebih banyak karbohidrat, termasuk gula tambahan, memiliki penampilan lebih keriput daripada wanita yang diet tinggi protein, karbohidrat rendah.

Penyebab lemak pada hati

Konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan NAFLD, suatu kondisi saat lemak berlebih menumpuk di hati.

Sejumlah besar gula tambahan dalam bentuk fruktosa membebani hati Anda, menyebabkan penyakit hati berlemak non-alkohol atau non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), suatu kondisi yang ditandai dengan penumpukan lemak berlebihan di hati.

Sebuah studi di lebih dari 5.900 orang dewasa menunjukkan bahwa orang yang minum minuman manis setiap hari memiliki risiko 56 persen lebih tinggi terkena NAFLD, dibandingkan dengan orang yang tidak mengonsumsinya.


Baca juga artikel terkait GULA atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight