Eekhout, Si Tentara KNIL Musuh Pejuang Republik dan Komunis

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Januari 2022
Dibaca Normal 3 menit
WDH Eekhout bertugas di banyak peristiwa penting, dari mulai Agresi Militer II, Operasi Trikora, bahkan Perang Korea.
tirto.id - Komandan 1e Parachutisten Compagnie (Kompi Penerjun Payung I) Letnan Willem David Henri Eekhout dan Letnan kolonel Willem Cornelis Alexander van Beek mendapat tugas khusus dari Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, panglima tertinggi tentara Belanda di Indonesia: Menduduki ibu kota Republik yang saat itu adalah Yogyakarta dalam Kraai Operatie (Operasi Gagak). Eekhout telah berada di bawah komando van Beek sejak November 1948.

Militer Belanda kala itu memulai serangan dengan merebut Bandar Udara Maguwo (sekarang bernama Adisutjipto) sebelum merangsek masuk ke Istana Negara Gedung Agung.

Karena kemampuan penjaga pangkalan tak terlatih, pasukan kompi penerjun berbaret merah yang dipimpin Eekhout berhasil merebut Maguwo pada Minggu 19 Desember 1948 dengan mudah. Setelah itu pasukan baret hijau (kompi komando) Belanda didaratkan dengan pesawat angkut. Pasukan baret pun memasuki Yogyakarta, merebut Gedung Agung, dan menawan para pejabat Republik yang ada di sana.

Menurut F. H. Bauer dalam buku Het Tot Morgen, Zes Jaar Later (2021), pasukan Eekhout hanya 72 jam di Yogyakarta. Setelah itu mereka kembali lagi ke Andir, Bandung. Disebut Nieuw Guinea Koerier edisi 20 Juli 1962, setelah penyerbuan ini, tepatnya pada pada 25 Januari 1949, Eekhout resmi naik pangkat sebagai kapten.

Pasukan Eekhout kembali bertugas setelah cuti Natal 1948. Kali ini ke Sumatra. “Para Cie 1 di bawah komando Kapten Eekhout akan terjun ke Jambi dan menduduki lapangan terbang dengan lokasi minyak Kenalie Asem,” catat Bauer.

Selain Maguwo, Lapangan Udara Gading di Gunung Kidul juga diserang anak buah Eekhout pada 10 Maret 1949. Mereka berencana mengejar rombongan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang diperkirakan ada di sekitar situ, namun mereka tak pernah mendapatkannya.

Penyerangan-penyerangan ini dilakukan dalam konteks Agresi Militer II, masa ketika Belanda mencoba merebut kembali Indonesia tapi tak berhasil.


Eekhout lahir di Jakarta pada 6 Juni 1917. Dia pernah sekolah di Brussel, Belgia dan Apeldoorn, Belanda. Setelah lulus sekolah menengah Hoogere Burgerschool (HBS), Eekhout memilih masuk akademi militer kerajaan Belanda di Breda pada 1936 dan lulus tiga tahun kemudian. Ia kemudian berdinas di tentara kolonial Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL) dengan pangkat awal letnan dua infanteri.

Eekhout sedang di pantai barat Sumatra ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda. Invasi ini berdampak langsung terhadapnya. Ia menjadi tawanan perang sejak 29 Maret 1942 hingga Agustus 1942.

Saat Jepang kalah, Eekhout memutuskan kembali ke KNIL. Nieuw Guinea Koerier edisi 20 Juli 1962 melaporkan pada 1945 Eekhout berada dalam satuan bekas tawanan perang yang bertugas melindungi kamp perempuan dan anak dari serangan pihak Republik di Sumatra Barat. De Tijd De Maasbode edisi 12 Mei 1960 melaporkan apa yang dilakukan Eekhout ternyata mengesankan Spoor.

Eekhout lantas dikirim ke Papua sekitar enam bulan untuk berlatih bersama pasukan payung. Setelah lulus Eekhout ditunjuk sebagai komandan pasukan payung di Bandung. Semasa memimpin pasukan tersebut ia tercatat telah memimpin empat operasi dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Dua di antaranya yang telah disebutkan di awal, yaitu di Yogyakarta dan Kenali Asam.

Karena dianggap gemilang, Eekhout dianugerahi bintang Bronzen Leeuw (Singa Perunggu) dari Kerajaan Belanda.

Tugas-Tugas Lain

Pada Mei 1950, Kapten Eekhout yang sudah lama berdinas akhirnya kembali ke negara asalnya. Bubarnya KNIL pada pertengahan 1950 tak lantas membuatnya pensiun. Ia melanjutkan karier militer di Koninklijk Landmacht (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) di Belanda.


Sebagai perwira pasukan khusus, seperti disebut Nieuw Guinea Koerier edisi 20 Juli 1962, Kapten Eekhout mendapatkan kepercayaan untuk bergabung dalam Nederlands Detachement Verenigde Naties (NDVN) dalam Perang Korea pada Oktober 1950. Jika sebelumnya melawan negara yang ingin merdeka, kali ini Eekhout melawan komunis.

Eekhout sempat menjabat komandan batalion ketika Letnan Kolonel Den Ouden meninggal. Dan itu hanya permulaan dari karier yang terus menanjak. Pada 9 Oktober 1951, pangkat Eekhout naik menjadi mayor. Pada Desember 1951 dia kembali ke Negeri Belanda dan melanjutkan studi di Hogere Krijgsschool (Sekolah Tinggi Perang) di Den Haag. Usai lulus, tepatnya sejak 1 November 1955, pangkatnya naik lagi menjadi letnan kolonel.

De Tijd De Maasbode edisi 12 Mei 1960 menyebut sebagai letnan kolonel Eekhout bekerja sebagai komandan sekolah infanteri di Harderwijk Belanda sejak 1 November 1958. Pada 1 November 1959, dia naik pangkat lagi menjadi kolonel.

Meski terjun payung adalah kemampuan spesialnya sebagai tentara, ternyata Eekhout juga menikmati itu sebagai sebuah hobi. Buktinya, dia menjadi ketua perkumpulan terjun payung Belanda. Itu terjadi setelah ia menjadi kolonel.

Ketika itu Belanda masih berurusan dengan Indonesia, terutama terkait Papua yang belum diserahkan karena kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar. Eekhout yang sudah sangat berpengalaman kemudian dikirim ke sana untuk mengambil alih komando Brigade Belanda pada Juni 1960.

Pada tahun berikutnya hubungan Indonesia-Belanda soal Papua memanas. Indonesia melancarkan Operasi Mandala Trikora Pembebasan Irian Barat. Maka sekali lagi Eekhout harus berhadapan dengan Republik. Di sinilah Eekhout kembali mengalami kenaikan pangkat. Pada 1 Agustus 1962 ia resmi menjadi brigadir jenderal.


Infografik Willem David Hendri EEkhout
Infografik Willem David Hendri EEkhout. tirto.id/Fuad


Meski Belanda (lagi-lagi) kalah, Eekhout terus berkarier di militer. De Telegraaf edisi 7 Agustus 1964 menyebut dia menjadi komandan brigade panser infanteri ke-13 di Belanda hingga 1 September 1964. Pada 1 Oktober 1964, dia akan ditempatkan sebagai wakil direktur kantor perencanaan komite militer dari North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Washington, Amerika Serikat. NATO adalah lawan negara komunis macam Uni Soviet. Maka sekali lagi Eekhout melawan komunis.

Het Parool edisi 13 Mei 1965 menyebut Brigadir Jenderal Eekhout tidak lama di NATO. Pada 13 Mei 1965 dia diberitakan meninggal dunia.

Dengan demikian akhir hidup pria pemegang pedang Officier der Orde van Oranje Nassau (orde kekesatriaan sipil dan militer Belanda) ini sama seperti bekas atasannya waktu di Indonesia dulu, Letnan Jenderal Simon Spoor. Keduanya meninggal karena serangan jantung dan pada usia sama-sama 47. Bedanya Spoor meninggal di Jakarta, sementara Eekhout di Washington.

Baca juga artikel terkait TENTARA BELANDA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Rio Apinino
DarkLight