Dunkirk Lewat Perspektif Nolan

Cuplikan film 'Dunkirk'. FOTO/Youtube
Oleh: Aulia Adam - 22 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Nolan adalah sutradara yang karyanya paling dihargai mahal. Film terakhirnya, Dunkirk, dipuji-puji kritikus sebagai film terbaik Nolan.
Christopher Nolan bukan nama sembarang. Di dunia perfilman, namanya seperti Zeus di puncak Olympus. Ia merajai daftar sutradara dengan penghasilan terbesar. Karya-karyanya juga lebih sering dirayakan pujian dari para kritikus film, ketimbang dapat cacian. Beberapa di antaranya yang masih hangat dikenang kening adalah Memento (2000), trilogi The Dark Knight (2005-2012), Inception (2010), dan Interstellar (2014).

Ada jeda tiga tahun yang harus dinantikan penggemar Nolan untuk dapat kembali melihat hasil tangan dingin sang sutradara. Tapi, tak ada salahnya menunggu. Selalu ada yang baru dalam tiap film Nolan, termasuk yang satu ini. Ia akan jadi film pertama Nolan yang diadaptasi dari sejarah. Film-film sebelumnya merupakan naskah asli, daur ulang, adaptasi novel, cerita pendek, atau komik. Film yang tayang serentak di seluruh dunia 21 Juli kemarin berjudul Dunkirk.

Baca juga:


Dalam sejarah Perang Dunia II, Dunkirk adalah salah satu tempat yang jadi saksi mata betapa dahsyatnya pertempuran tersebut. Pada 27 Mei hingga 4 Juni, 77 tahun silam, kota pelabuhan di Perancis yang letaknya cuma 10 kilometer dari Belgia itu jadi titik mengungsi para tentara Inggris, Perancis, dan sejumlah negara sekutu. Di sana, mereka disudutkan oleh Jerman. Para tentara itu termakan taktik Adolf Hitler yang mengumumkan keinginannya untuk menguasai Eropa Barat.

Nyawa sekitar 400 ribu prajurit—Inggris, Perancis, Belgia, serta sebagian kecil Belanda dan Polandia itu—terancam. Ledakan bom dan suara nyaring tembakan memekakkan mereka yang ada di darat. Dari udara, pesawat tempur Nazi bising menjatuhkan bom. Sementara bala bantuan tak kunjung datang dari lautan. Para tentara itu tersudut, pasrah menunggu: antara kapal penyelamat yang akan membawa mereka pulang atau malah ajal.

Peristiwa penting itu direkam Nolan dengan dialog minim, dan sejumlah karakter yang bahkan nama saja tak punya. Seperti film-film khas Nolan yang biasa menggali unsur kejiwaan manusia, para aktor di film ini juga ditantang untuk memukau penonton dengan gestur dan mimik mukanya. Teror perang dan ketakutan menanti ajal jadi kata kunci penting yang dijual Nolan dalam Dunkirk.

Di daratan, di salah satu sudut Dunkirk, ketakutan itu dipandu oleh Tommy (Fion Whitehead) yang kurus, beserta dua orang tentara lain (Harry Styles dan Aneurin Barnard).

Di udara, Farrier (Tom Hardy) jadi tokoh yang memandu ketakutan itu. Ia harus terbang sendirian dalam pesawat tempur yang bermasalah, setelah pesawat sekutu lain gugur ditembaki angkatan udara Nazi.

Sementara di laut, seorang nelayan—masyarakat sipil—yang berlayar untuk menolong para tentara harus menerima konsekuensi berat karena menolong salah satu dari mereka yang terombang-ambing di samudera. Nelayan itu diperankanMark Rylance, aktor pemenang Oscar dari film Bridges of Spies.

Nama-nama besar memang jadi senjata Nolan yang sangat menonjol dalam film ini. Styles, Hardy, dan Rylance adalah tiga di antara sejumlah nama besar itu. Wajah-wajah berkarakter yang sudah pasti punya basis penggemar banyak ini, jadi kunci Dunkirk memusatkan perhatian penonton pada cerita utama yang terjadi di pantai pelabuhan itu, bukan kisah hidup individu-individunya.

Kalau tak hapal betul muka para aktor kawakan itu, mungkin penonton memang akan kesulitan mengikuti jalan cerita. Sebab, Nolan memang tak memberi ruang besar untuk menggali latar belakang tokoh-tokohnya. Ia fokus mempertunjukkan teror yang muncul karena perang, dan betapa tak berfaedahnya kondisi mencekam itu. Seolah-olah, ia ingin menyampaikan pesan bahwa tak ada menang-kalah dalam perang, kecuali kerugian pada semua pihak.

Perspektif itu sangat tegas disampaikan Nolan. Tak seperti film perang pada umumnya, Dunkirk bahkan tak terikat pada aksi heroik yang biasanya jadi dagangan utama film-film serupa. Memang ada banyak bom jatuh dari langit, kapal berserakan berkeping-keping, pesawat-pesawat meletus, dan ledakan-ledakan bising. Tapi, menyelamatkan diri dan bertahan hidup ada batang utama kisah Dunkirk yang disampaikan Nolan.



Nolan juga tak mau menampilkan adegan kekerasan dan pertempuran, ia lebih memilih untuk meminimalkan adegan pertumpahan darah dan menciptakan suasana film perang yang berbeda.

"Ada banyak film brilian yang memperlihatkan darah dan luka fisik serta segala aspek yang tampak menjijikkan dari perang," ujar Nolan. "Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda dari kemungkinan intensitasnya.”



Bagi Ledsey Bahr dari Cincinnati, perspektif segar Nolan adalah ide yang membuat Dunkirk jadi menarik. “Ia bukan tipikal film-film perang biasa,” tulis Bahr. “Tak ada saudara seperjuangan (yang mati di lengan), tak ada kilas balik sekejap tentang istri-istri atau pacar-pacar (tentara) yang cantik dan ditinggal di kampung halaman,” tambah Bahr. Bahkan menurutnya, Dunkirk adalah film terbaik sepanjang tahun ini, sekaligus jadi film terbaik yang pernah Nolan bikin.

Peter Bradshaw, kritikus kenamaan dari The Guardian juga beropini serupa. Ia memberi bintang lima dari lima bintang, dan menyebut Dunkirk sebagai: “Film terbaik Nolan, sejauh ini.” ia memuji kepercayaan diri Nolan, menyajikan sebuah kolosal yang sedikit berbeda. “Ini adalah sebuah pembuatan film yang sangat mendalam,” tulis Bradshaw.

Pilihan Nolan untuk tak terlalu fokus pada nama-nama tentara itu juga dipuji Manohla Dargis, kritikus film dari The New York Times. Menurutnya, keputusan itu menjadi penting untuk menggambarkan suasana perang sesungguhnya, ketika nama-nama itu hanyalah kumpulan prajurit yang mau tak mau harus siap meregang nyawa kapan pun saja. Tanpa menghindari dinamika yang dibawa tiap individu yang ceritanya disorot, Nolan memang ingin menyuguhkan teror-teror itu langsung ke mata penonton. “Dunkirk (memang) adalah sebuah prestasi kriya dan teknik sinematik, tapi tak diragukan lagi, juga sebagai pesan moral yang bijak serta tulus (dari Nolan) yang menutup jarak antara perang zaman dulu dan (yang ada) di zaman kini,” tulis Dargis.

Melalui perspektifnya dalam penyajian Dunkirk, Nolan digadang-gadang akan jadi bintang lagi dalam sejumlah penghargaan internasional tahun ini.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight