Dunia Gelap Alexander McQueen Hasilkan Busana yang Dramatis

Oleh: Joan Aurelia - 5 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Alexander McQueen berambisi mendominasi dunia fesyen. Ia merancang busana dramatis yang merupakan wujud dari mimpi buruknya.
tirto.id - Dua belas hari sebelum kematiannya, mesin pencari di komputer desainer Alexander McQueen memperlihatkan kalimat, “Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seseorang yang mengiris nadinya sendiri agar bisa meninggal?”

Kata-kata itu tertulis saat McQueen merasa tak sanggup lagi menanggung kepedihan akibat wafatnya sang ibu, Joyce McQueen.

Bisa dibilang Joyce adalah satu-satunya anggota keluarga yang menerima McQueen apa adanya. Sejak kecil, desainer dengan nama lahir Lee Alexander McQueen ini sudah merasa dirinya gay. Salah satu hal yang membuatnya menyadari itu ialah kegemaran menggambar sosok puteri raja yang mengenakan beragam gaun lebar.

Sang ayah yang berprofesi sebagai supir taksi di London tidak terima kenyataan bahwa anak bungsunya adalah seorang gay. McQueen mengaku masa kecilnya penuh siksaan yang datang dari anggota keluarga maupun kawan-kawan. Ia selalu merasa sebagai “orang luar”.

McQueen mulai menggeluti dunia mode secara profesional pada 1995. Kala itu ia membuat koleksi bertajuk Highland Rape yang menampilkan ragam busana bermotif kotak-kotak merah khas Skotlandia yang dijahit dari kain-kain sisa.

Ia sengaja membuat busana terlihat compang camping dan asal-asalan. Ada beberapa baju yang memperlihatkan payudara sang model. Itu membuat McQueen dianggap misoginis. Ia kemudian berupaya menetralkan pandangan negatif tersebut dengan menjelaskan bahwa Highland Rape terinspirasi dari peristiwa The Battle of Culloden.

“Lewat peragaan busana ini aku ingin menunjukkan bahwa perang antara Skotlandia dan Inggris pada dasarnya adalah peristiwa genosida,” katanya pada The Times.

Rancangan busana dalam debut McQueen ini dianggap agresif dan mengganggu. Meski demikian, peragaan tersebut membuat para fashion buyers terkesima melihat busana yang diperagakan di tengah bunga-bunga kering dan dalam iringan suara angin serta dentingan lonceng gereja. Highland Rape membuat McQueen dipandang di dunia mode.


Busana yang Rumit dan Dramatis

Setahun setelahnya ia melansir koleksi bertajuk Dante. Peragaan busana diselenggarakan di Christ Church Spitalfields. Dalam koleksi ini McQueen membubuhkan aksen V pada beragam busana yang sebagian besar berupa terusan ketat tanpa lengan.

Dante adalah persembahan McQueen untuk Isabella Blow, kawan yang melancarkan jalannya di ranah mode. Wanita ini kerap disebut sebagai style icon dan pernah bekerja sebagai editor fesyen untuk Tatler dan Sunday Times.

Kristin Knox dalam Alexander McQueen: Genius of a Generation (2010) menuturkan relasi mereka berawal ketika Bowl membeli seluruh rancangan McQueen yang dibuat sebagai tugas akhir kursus mode di Central Saint Martins London. Setelah itu, Bowl memperkenalkan sekaligus mempromosikan McQueen ke rekan-rekannya di kalangan mode dan media fesyen.

Itu membuat nama McQueen terus melambung walaupun ia tidak punya latar belakang pendidikan mode.

Pria ini berasal dari keluarga pas pasan. Ia berhenti sekolah pada usia 16 dan memutuskan bekerja di Anderson&Sheppard, perusahaan pembuat jas langganan Pangeran Charles di Seville Row. Setelah itu, ia bekerja di Angels and Bermans, produsen kostum untuk teater dan film. Dari sana mata McQueen terlatih untuk melihat berbagai baju adibusana.

Ketika resmi mendirikan label busana, ia konsisten memadukan ketertarikan terhadap desain busana dramatis dan keterampilan menjahit yang ia dapat ketika bekerja di Seville Row.

Tapi menciptakan busana rumit dan dramatis tampaknya tidak cukup memuaskan hati McQueen. Ia memastikan agar publik tetap mengingatnya lewat peragaan busana yang tidak biasa.

Salah satunya terjadi saat koleksi bernama Joan diluncurkan setelah Dante. Koleksi yang terinspirasi dari Joan of Arc itu menampilkan model dengan lensa kontak merah, lipstik pucat, dan kepala botak yang dihiasi sedikit kepangan rambut. Pada akhir peragaan busana, ia mengejutkan pengunjung dengan lingkaran api yang mengelilingi model bergaun merah. Hal-hal seperti ini terus dipertahankan McQueen dalam karya-karyanya.

“Ia selalu menciptakan tema yang aneh seperti hitchkok heroines, mental asylums, dark and twisty carnivals. Ia pernah menampilkan Kate Moss jadi sosok hologram dalam peragaan busana, menghadirkan robot untuk melukis busana model, dan menciptakan kotak kaca dengan sekat-sekat serupa labirin,” tulis Knox dalam bukunya.

Menurut Knox, semua tema itu adalah proyeksi dari mimpi buruk yang dialami McQueen selama ia berkarya. Kepada Harper’s Bazaar, McQueen pernah berkata, “Setiap peragaan busana itu adalah cerminan kondisi emosionalku.”

Karya yang terkesan gelap itu nyatanya membuat McQueen mendapat beberapa penghargaan bergengsi. Di antaranya British Designer of The Year dan International Designer of the Year dari Council of Fashion Designers of America. Bahkan ia juga mendapat gelar terhormat dari Kerajaan Inggris: Commander of the Order of the British Empire.

Presiden grup retail LVMH Bernard Arnault menawarinya pekerjaan sebagai direktur kreatif label Givenchy. McQueen menerima tawaran itu pada 1996 dengan harapan untuk mengasah keterampilan desain. Harapannya gagal. Ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan karakter lini busana yang cenderung elegan.

Masa-masa itu hanya membuat McQueen tertekan kemudian jadi pecandu kokain, penikmat alkohol serta seks bebas. Ia hanya bisa bertahan di perusahaan tersebut selama lima tahun.


Infografik ALEXANDER MCQUEEN
Infografik ALEXANDER MCQUEEN

Ketenaran Tak Membuat Nyaman

McQueen sadar, kebebasan berkarya hanya bisa didapat bila ia menangani label busana sendiri. Beruntung, perusahaan Kering Group bersedia jadi donatur bisnisnya. Sejak itu McQueen mulai menembus Paris Fashion Week dan jadi peragaan busana yang dinantikan di ajang tersebut.

Ketenaran itu ternyata tak membuatnya nyaman. Pada 2004, Standard melaporkan bahwa McQueen ingin berhenti dari dunia mode. Tapi keinginan tersebut tak serta merta ia laksanakan. McQueen tetap mengeluarkan koleksi-koleksi dramatisnya hingga ia menemukan momen-momen terberat yang kian meredupkan gairahnya. Pertama, saat ia tahu Bowl bunuh diri. Kedua, ketika ia harus menerima kenyataan sang ibu meninggal karena kanker.

Dalam wawancara yang dimuat di Guardian, ia pernah mengungkapkan ketakutan terbesarnya yakni meninggal sebelum sang ibu. Ternyata ia pun tak mampu menghadapi ketakutan untuk hidup tanpa ibunya. McQueen ditemukan tewas gantung diri di tempat tinggalnya pada 2010.

Kini label busana karyanya tetap eksis dan berada di tangan direktur kreatif Sarah Burton. Para selebritas dan orang tersohor seperti Kate Middleton tetap gemar mengenakan karyanya. Barangkali keinginan McQueen untuk mendominasi dunia fesyen telah tercapai.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan