Dul-Ahmad Dhani & Mereka yang Mengikuti Jejak Ayah Menjadi Musisi

Infografik Keluarga Musisi
Vokalis Dewa 19, Ari Lasso (kiri) memeluk Dul Jaelani, putra bungsu Ahmad Dhani yang menggantikan posisi ayahnya sebagai keybordist saat konser di Kuala Lumpur, Malaysia pada Sabtu (2/2/19). INSTAGRAM/@f.fahmi.m
Oleh: Eddward S Kennedy - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dul Jaelani bisa seperti Norah Jones dan Stephen Marley yang sukses di jalan musik layaknya ayah mereka.
tirto.id - Menyaksikan Abdul Qodir Jaelani alias Dul, anak ketiga Ahmad Dhani, berderai air mata tatkala menggantikan sang ayah dalam konser reuni Dewa 19 di Stadion Melawati, Malaysia, Sabtu (02/02/2019) lalu, rasanya seperti diajak untuk memahami kembali makna hubungan anak-ayah dalam konteksnya yang paling personal.

Anda bisa saja tidak menyukai Dul atau Dhani. Selepas terjun ke politik praktis, Dhani acapkali menunjukkan perangai kontroversial. Sebagian orang tak suka melihatnya. Sementara itu, Dul baru empat tahun lalu divonis bebas setelah menjadi tersangka kasus kecelakaan yang menewaskan tujuh orang dan hal itu dianggap sebagai privilese.

Terlepas dari dua soal tersebut, Dhani (pernah menjadi) musikus kelas atas di negeri ini, sedangkan Dul sedang berupaya keras meniti jalannya di bidang yang sama. Sejak konser “Mahakarya Ahmad Dhani & Dewa 19” yang dilangsungkan pada 2012 silam, Dul sudah turut diajak Dhani naik ke atas panggung untuk bermain bersamanya.

Momen tumpahnya air mata Dul terjadi ketika Dewa 19 memainkan lagu “Hadapi dengan Senyuman”. Sebelumnya, Ari Lasso meminta semua lampu dimatikan dan digantikan cahaya dari telepon genggam penonton. Setelah itu, ia mempersilakan Dul memulai lagu dan berkata: "Be strong, Ahmad Dhani." Ari pun turut memeluk anak yang berparas mirip Dhani tersebut.

Delapan Anak Bob Marley, Norah Jones, hingga Jeff Buckley

Terlepas dari bagaimana sentimentalnya tangisan Dul, tak banyak anak yang mengikuti jejak ayahnya menjadi musisi andal. Mari mulai dengan Bob Marley. Pria reggae ini memiliki sebelas anak dari delapan perempuan yang berbeda dan sebagian besar anaknya menjadi musisi.

Dari mantan istrinya yang pertama, Rita Marley, hadir empat anak: Cedella, David “Ziggy”, Stephen, dan Stephanie. Ada satu lagi anak mereka, yakni Sharon. Hanya saja, secara biologis ia bukan keturunan Bob. Sharon adalah anak Rita sebelum menikah dengan Marley.

Perempuan selanjutnya yang juga melahirkan anak Marley adalah Cindy Breakspeare. Darinya, Bob memiliki anak yang diberi nama Damian Marley. Lalu dengan Janet Dunn, yang dikencaninya pada periode 1970-an, Marley memiliki seorang anak lain, yaitu Rohan.

Dengan Pat Williams, hadir lagi seorang anak: Robbie. Berturut-turut lalu ada Karen, anaknya bersama Janet Bowen; Julian Marley, anaknya dari Lucy Pounder; Ky-Mani Marley, anak hasil hubungannya dengan Anita Belnavis; lalu terakhir ada Makeda Jahnesta Marley, anak Bob dengan Yvette Crichton.

Dari sebelas anak Marley, hanya Karen, Robert, dan Rohan yang tidak terjun ke dunia musik. Sharon, Cedella, David “Ziggy”, Stephen, Stephanie, Julian, Ky-Mani, dan Damian mengikuti jejak sang ayah. Di antara semuanya, Stephen terhitung yang paling sukses lantaran pernah meraih delapan penghargaan Grammy—lima penghargaan diraih bersama saudara-saudaranya yang lain. Tiga kali sebagai penyanyi solo, dua kali sebagai produser untuk dua album adiknya, Damian, 'Halfway Tree' dan 'Welcome to Jamrock', lalu tiga lainnya diraih bersama Ziggy di band Ziggy Marley & The Melody Makers.

Penyanyi lain yang juga memiliki anak yang sukses berkarier di bidang musik adalah Bob Dylan. Anaknya, Jakob Dylan, pernah membentuk band bernama The Wallflowers yang berjaya pada dekade 1990-an. Bahkan kini, cucu Bob, Pablo Dylan, juga turut terjun di musik. Pablo merupakan keponakan Jakob dan anak dari Jesse Dylan. Ia bisa dibilang cukup serius berkarier di bidang yang sama dengan kakeknya.

Sejak usia 15 tahun, Pablo Dylan telah merilis mixtape hip-hop berjudul "10 Minutes". Setelah itu, ia juga memproduseri beberapa lagu untuk rapper kenamaan seperti A$AP Rocky, Brent Faiyaz, serta OG Maco. Usai menjadi produser hip-hop, Pablo Dylan sempat vakum sejenak, sebelum kemudian mempelajari pendekatan penulisan lagu dengan sound rock khas 60-an yang menjadi ciri khas kakeknya. Hasilnya: sebuah single folk rock berjudul “Bells” yang ia rilis perdana pada 2018 lalu.

Sebagai anak tunggal dari George Harrison, salah satu pentolan The Beatles, Dhani Harrison seolah mewarisi semua gen berbakat dari ayahnya. Dia adalah frontman dari band alternative rock asal London, Thenewno2. Dhani juga pernah merilis cover luar biasa dari lagu ayahnya, "For You Blue", sebagai proyek solo pertama September 2013 lalu. Di cover tersebut, Dhani bernyanyi amat persis dengan karakter vokal sang ayah, demikian pula petikan gitar folk-nya, serta aransemen drumnya yang seolah menampilkan Beatles generasi kontemporer.

Anda mungkin belum pernah mendengar nama Ravi Shankar: komposer India yang terkenal karena kepiawaiannya memainkan sitar. Berbagai rintisannya telah berhasil membuka cakrawala pesona musik klasik tradisi India ke dunia Barat.

Ravi punya seorang anak yang kemungkinan besar pernah Anda dengar namanya: Norah Jones. Jika sebelumnya Anda sempat bertanya-tanya darimana suara lembut Norah saat menyanyikan "Come Away With Me" (judul lagu sekaligus album yang dirilis sejak 16 tahun lalu), kini Anda telah mengetahui jawabannya.



Bagaimana mungkin seseorang bisa bernyanyi semagis Jeff Buckley ketika ia membawakan "Hallelujah"? Lagu yang sejatinya merupakan ciptaan Leonard Cohen tahun 1984 itu baru meledak dan menjadi populer setelah dibawakan Jeff pada 1994. Di Youtube, video lagu tersebut telah ditonton sebanyak 134 juta kali sejak ditayangkan pada 2009. Hingga kini, Jeff adalah salah seorang musisi fenomenal yang, barangkali, cukup underrated di kalangan penikmat musik global.

Jeff merupakan putra dari seorang penyanyi folk kenamaan dari era 60’an, Tim Buckley. Hanya saja, ia tidak pernah mengenal secara intim sosok sang ayah lantaran Tim meninggal di usia yang tergolong muda, 28 tahun. Kendati mewarisi bakat bermusik dari ayahnya, Jeff enggan mendompleng nama besar Tim, bahkan terkesan berusaha berbeda dalam konteks selera musik.

Hal itu diperlihatkan Jeff ketika memulai karier dari sebuah bar di New York. Di bar tersebut, ia lantang memproklamirkan sosok musisi kontemporer asing, Nusrat Fateh Ali Khan, penyanyi unik aliran sufi qawwali berkebangsaan Pakistan. “He is my Elvis,” ujar Jeff di atas panggung kala itu. Dengan keunikannya tersebut, nama Jeff segera menjadi pembicaraan dan banyak bar yang kerap mengundangnya.

Popularitas Jeff mulai meledak sejak ia merilis album Grace pada 1994, di mana “Hallelujah” menjadi trek andalannya. Album yang menyedot perhatian para musisi legendaris: Jimmy Page menyebut Grace sebagai album favoritnya; David Bowie selalu membawa album itu saban ia berlibur ke pulau tropis; Bob Dylan secara terang-terangan menyatakan Jeff sebagai penulis lagu terbaik di generasinya.

Namun, kisah Jeff hanya berlangsung sebentar.

Syahdan, pada 29 Mei 1997, Jeff terbang ke Memphis, sebuah kota di sudut barat daya negara bagian Tennessee, AS, bersama rombongan band-nya untuk menyelesaikan materi album kedua, My Sweetheart the Drunk. Saat malam tiba, ia pergi ke tepian Wolf River Harbor, sebuah sungai di Mississippi yang menjadi salah satu lokasi favorit Jeff untuk melepas penat. Di sana, Jeff kemudian berenang seorang diri dan itulah momen terakhirnya di dunia.

Pada 4 Juni 1997, jasad Jeff baru ditemukan tergeletak di dekat kapal air oleh warga setempat. Ia seolah bisa memprediksi bagaimana proses kematiannya seperti termaktub di potongan lirik lagu “Dream Brother” yang ditulisnya: “Asleep in the sand with the ocean washing over...” Sebagaimana sang ayah, Jeff juga meninggal muda. Saat tertidur untuk selamanya di sungai itu, usianya baru 29 tahun.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Musik)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight