Dugaan Suap Sir Alex Ferguson: Masih Sebatas Bualan Giusepe Pino

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 18 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Nama Sir Alex Ferguson dan Antonio Conte dicatut dalam rekaman terkait kasus suap di Pengadilan Southwark Crown, tapi hingga kini belum ada bukti yang menguatkan keterlibatan keduanya.
tirto.id - Media-media olahraga Inggris dihebohkan oleh pengakuan seorang agen sepakbola bernama Giusepe ‘Pino’ Pagliara, Kamis (17/10/2019) sore waktu setempat. Dihadirkan sebagai terdakwa kasus dugaan suap sepakbola di Pengadilan Southwark Crown, London, Pino menyeret sejumlah nama tenar.

Jaksa Penuntut Umum, Brian O’Neil, dalam sidang tersebut menghadirkan barang bukti berupa rekaman pembicaraan Pino dengan jurnalis investigasi Telegraph, Claire Newell tertanggal 2016 silam.

Dalam rekaman itu, Pino sempat menyinggung dia pernah memberikan jam tangan Rolex senilai 3.000 paun kepada eks pelatih Sir Alex Ferguson untuk memuluskan pengaturan skor pertandingan Manchester United vs Juventus di Liga Champions.

“Pagliara [dalam rekaman] juga mengklaim sebelumnya dia pernah membayar Alex Ferguson untuk pertandingan lain,” sambung O’Neil, seperti dilansir Telegraph.

Fergie bukan satu-satunya. Dalam rekaman tersebut Pagliara juga mengklaim eks pelatih Juventus, Antonio Conte pernah menghubunginya beberapa kali untuk bertanya, “Adakah kopi untuk kami?” Dalam istilah suap bola, berdasarkan penelusuran O’Neil, istilah tersebut biasa digunakan untuk menanyakan adakah pertandingan yang bisa diatur.

Dalam dugaan sementara, Pino ditengarai berkomplot melakukan sejumlah suap bersama Dax Price dan Tommy Wright, dua sosok yang juga sempat dihadirkan dalam persidangan. Dax Price merupakan agen seperti halnya Pino, sementara Wright adalah mantan asisten pelatih klub Inggris, Barnsley.

Bersama Price, konon Pino mendaku pernah bekerja melakukan suap terhadap mantan pelatih Inggris Steve McMlaren, eks pemain Arsenal Nwanko Kanu, dan mantan pelatih Spurs Harry Redknaap. Sementata dengan Wright, suap yang diduga dilakukan Pino lebih mengarah ke hal-hal personal. Seperti membocorkan kesepakatan iklan ke petaruh judi besar, sampai mengatur transfer pemain di Barnsley.

“Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis investigasi di London, Leeds, dan Manchester, Pagliara [Pino] berkali-kali mengatakan kepada lawan bicaranya bahwa 99 persen industri sepakbola dilatarbelakangi praktik kotor seperti ini,” tambah O’Neil.

Jika perkataan itu benar, tentu tindak-tanduk Pino dan kawan-kawan bisa berujung hukuman berat. Jangankan praktik suap, FIFA dan sejumlah federasi sepakbola—termasuk FA di Inggris—sejak 2015 lalu saja telah menerbitkan larangan agen atau pihak ketiga tertentu (di luar agen resmi pemain) melakukan campur tangan dalam industri sepakbola.


Belum Ada Bukti yang Kuat


Kendati terlanjur ditelan mentah-mentah oleh beberapa media, dugaan keterlibatan nama-nama seperti Sir Alex Ferguson dan Antonio Conte sebenarnya belum memiliki landasan bukti yang kuat. O’Neil sendiri, dalam surat dakwaannya berkali-kali menegaskan hal ini.

“Kami jaksa, menekankan bahwa kami tidak bermaksud memfitnah nama-nama yang disebut dalam rekaman. Kami hanya menghadirkan bukti, tidak ada tuduhan atau penilaian sama sekali bahwa mereka terlibat,” ujar dia dalam persidangan.

Penekanan ini dilakukan O’Neil, sebab dia sendiri belum bisa menemukan bukti selain rekaman pembicaraan Pino dengan Claire Newell.

Dalam dakwaan, jaksa juga tidak menutup kemungkinan seandainya Pino cuma mencatut nama-nama tenar macam Conte dan Fergie untuk membikin narasumbernya—dalam hal ini adalah Newell—terkesan.

Telegraph, media tempat Newell bekerja, dalam paragraf pertama artikel terbarunya juga menyebut penuturan Pino masih sebatas ‘bualan’. Begitu pula The Guardian dan The Times, yang dalam pemberitaannya masih menyangsikan kebenaran perkataan Pino.

Untuk menguji perkataan itu sendiri, pengadilan Southwark Crown rencananya bakal melanjutkan persidangan yang saat ini baru berada di tahap penghadiran barang bukti. Nantinya Pino serta dua terdakwa lain, Dax Price dan Tommy Wright juga bakal dikronfrontir dengan sejumlah saksi lain.


Bukan Berarti Tidak Ada Suap

Meski keterlibatan Fergie dan Conte masih jauh dari barang bukti, bukan berarti seluruh pengakuan Pino kebohongan belaka. Di luar bualannya soal Fergie dan Conte itu, Pino diduga kuat terlibat dalam skandal suap sepakbola di Inggris.

Dia sendiri merupakan salah satu narasumber penting dalam serial laporan "Football for Sale" yang diterbitkan Telegraph pada 2016.

Seri laporan ini, yang salah satunya juga digarap Claire Newell, membongkar tentang praktik suap dalam sejumlah pertandingan sepakbola di Inggris.

Salah satu laporan yang paling punya dampak terhadap sepakbola Inggris, dirilis pada 26 September 2016, dengan menampakkan bukti rekaman pembicaraan eks pelatih Inggris Sam Allardyce dengan seorang pebisnis dari Asia untuk mengatur pendekatan ke orang-orang FIFA dan FA melalui agen pihak ketiga.

Sehari setelah laporan itu terbit, Allardyce yang sebelumnya juga pernah terlibat penggelapan pajak, terdepak dari kursi kepala pelatih Timnas Inggris dan digantikan oleh Gareth Southgate.

Bertepatan dengan pengunduran diri Allardyce, serial "Football for Sale" tidak berhenti, mereka lanjut mengungkap praktik suap terhadap Tommy Wright, yang saat itu masih menjabat asisten pelatih Barnsley. Wright diduga kuat menerima dana sogokan untuk mendorong perekrutan pemain dari firma gelap.

Seperti halnya Allardyce, sehari setelah laporan soal dirinya terbit, Wright dipecat dari jabatannya sebagai asisten pelatih Barnsley dengan status tidak terhormat.

Dalam dua hari kemudian, masih dalam serial yang sama, Telegraph menerbitkan laporan yang mengungkap pelanggaran eks pelatih Queens Park Rangers, Jimmy Floyd Hasselbaink dan eks asisten manajer Southampton, Eric Black.

Hasselbaink diduga menggunakan jasa agen pihak ketiga untuk menjadi brand ambassador sebuah perusahaan serta memeras perusahaan-perusahaan yang ingin ‘menanam’ pemain di timnya. Sementara Eric diduga menjadi penasihat sejumlah pihak ketiga yang ingin memasang pemain di klub divisi bawah secara ilegal.

Ada pula laporan yang mengungkap bahwa eks pemilik Leeds United, Massimo Cellino mengakali aturan FA dan FIFA soal agen pihak ketiga dengan menjual 20 persen sahamnya ke pihak lain.

Serial-serial laporan berani Telegraph, sempat menggemparkan dunia. Tidak sedikit yang ikut bereaksi atas terbongkarnya praktik-praktik kotor tersebut, salah satunya eks pelatih Wales, Chris Coleman.

“Tak peduli berapapun keuntungan yang didapat, praktik seperti itu membuktikan Anda adalah seorang pencuri. Dan siapapun yang melakukannya harus disingkirkan secara permanen dari sepakbola,” ujar Coleman.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight