Duduk Perkara Video Murid Dorong Guru di SMKN 3 Yogyakarta

Oleh: Irwan Syambudi - 21 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pihak sekolah menilai tidak ada tindak kekerasan oleh murid terhadap guru. Sehingga, mereka belum berencana memberi sanksi.
tirto.id - Pertikaian guru dengan murid terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Yogyakarta. Seorang murid laki-laki mendorong gurunya lantaran ponsel miliknya disita.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (20/2/2019) itu cepat diketahui publik setelah videonya yang berdurasi 30 detik beredar di media sosial. Dalam video tersebut sang guru Sujiyanto (55) terlihat didorong oleh murid OS (17).

Saat ditemui di SMKN 3 Yogya pada Kamis (21/2/2019), Sujiyanto menjelaskan duduk perkara kejadian tersebut. Ia membantah bahwa peristiwa itu adalah sebuah perkelahian.

Lebih lanjut Sujiyanto menceritakan perselisihannya dengan OS bermula saat ia mengadakan ulangan harian. Dalam ulangan itu aturannya tidak diperbolehkan membuka catatan dan mengoperasikan ponsel.

"Kan aturan hp (ponsel) harus dikumpul, terus ada dua siswa [salah satunya OS] yang tidak mau mengumpulkan. Terus [ponsel] tak minta dia [OS] berontak," kata Sujiyanto.

Menurut Sujiyanto, OS saat itu berontak mencoba mengambil ponsel yang sudah ia pegang. Sambil berdiri OS mencoba meraih ponselnya, Sujiyanto kemudian menangkis dan sedikit terdorong.

"Dorong itu karena minta hp (ponsel) untuk dikembalikan," katanya.

Agar ponselnya segera dikembalikan, OS kemudian mengambil tas milik Sujiyanto yang berada di meja guru di depan kelas. Sujiyanto kemudian meminta OS duduk untuk mengikuti ulangan.

"Setelah saya minta duduk, sudah hp [ponsel] tak kembalikan, tas saya dikembalikan. Itu laptop saya di tas itu, saya khawatir kalau tidak saya kembalikan dibanting. Saya kan tekor banyak karena ada laptop," ujarnya.

Ponsel milik OS memang telah dikembalikan, namun ponsel milik seorang murid lainnya oleh Sujiyanto masih ia tahan hingga ulangan selesai.
Perlakuan Tidak Pantas

Perlakukan OS siswa Kelas X Jurusan Teknik Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dinilai Sujiyanto sebagai sikap yang tidak sepatutnya dilakukan.

"Ya [tindakan OS] tidak pantas, itu jelas tidak pantas. Saya mencoba menyabarkan diri, kok emosi," ungkapnya.

Sujiyanto mengatakan bahwa OS memang salah satu siswa yang memiliki rekam jejak dan catatan khusus di Bagian Konseling (BK) sekolah. Selain pernah membolos, OS kata Sujiyanto juga merupakan siswa yang tak naik kelas, sehingga harus mengulang kelas X pada tahun ini.

Setelah kejadian itu, OS pun tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Sejumlah guru kemudian mendatangi rumah OS yang berada di Kecamatan Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Selain meminta keterangan tentang krologi kejadian, OS kemudian diminta datang ke sekolah.

Kepada wartawan OS menerangkan kronologi kejadian dan alasan ia mendorong gurunya.

"Awalnya pelajaran biasa terus hp (ponsel) saya disita karena mau ulangan. Saya meminta, saya memaksa. Biasa guyon-guyon sama Pak Suji, Pak Suji biasa guyon. Habis itu sudah selesai kemudian biasa. Dorong-dorongan tadi itu meminta hp-nya. Saya disuruh duduk, saya ambil tas [Sujiyanto] biar hp sama tasnya barter," katanya.

OS beralasan menggunakan ponsel saat berada di kelas untuk membalas pesan WhatsApp dari temannya. Ia khawatir jika ponselnya bunyi karena ada pesan masuk malah mengganggu ulangan.

Namun karena ponselnya diambil oleh sang guru, maka ia kemudian meminta secara paksa. Tetapi hal itu kata OS tidak serta merta berani ia lakukan terhadap semua guru. Ia hanya berani melakukan itu kepada Sujiyanto.


"Enggak biasa melakukan itu ke guru lain, saya liat-lihat gurunya, kan ada yang enakan seperti teman sendiri. [Pak Sujiyanto] baik, kalau lagi tegas ya tegas," kata dia.

Kendati demikian OS mengakui jika perlakukannya kepada Sujiyanto itu tidak pantas dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya.

"Enggak [pantas dilakukan]. Itu kurang sopan sama guru," ujarnya.

Selian mengakui perbuatannya itu tidak pantas, OS juga meminta maaf dan menyesali perlakukannya terhadap Sujiyanto. OS mengatakan akan menanggung resiko atas perbuatannya.

"Saya menyesal atas perbuatan ini, saya tidak akan mengulangi lagi. Saya minta maaf," ungkapnya.

Ancaman Sanksi

Kepala SMKN 3 Yogya Bujang Sabri mengatakan dalam peristiwa yang videonya telah menyebar itu tidak terjadi ancaman dan kekerasan, sehingga ia akan menimbang terkait dengan tindak lanjut atau sanksi yang akan diberikan sekolah kepada murid tersebut.

"Menurut versi guru tidak ada kekerasan dan ancaman sehingga kami tidak mungkin jika memang tidak ada kekerasan dan ancaman kami akan memberikan sanksi. Mungkin secara kejadian di kelas seperti itu ya perlu kami nasehati saja," ujarnya.

Kapolsek Jetis, Kompol Hariyanto mengatakan setelah kejadian itu menjadi perhatian publik ia langsung mendatangi sekolah. Ia meminta klarifikasi sekolah atas video pertikaian antara guru dan murid yang telah tersebar di dunia maya.

Namun lantaran tidak ada laporan resmi ke polisi, maka kata Hariyanto kasus ini tidak akan berlanjut ke ranah hukum.

"Kalau tidak ada laporan, maka nanti akan dilakukan pembinaan sekitar dua Minggu. Satu sampai dua jam dalam sehari dengan izin sekolah," kata Kapolsek.
Lunturnya Sikap Menghormati Guru

Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Profesor Wuryadi mengatakan fenomena murid yang berani melawan gurunya masih akan terus terjadi di kemudian hari.

"Iya betul [fenomena murid melawan guru masih akan terjadi]. Dan guru juga harus siap dengan murid yang menyimpang seperti itu. Tidak bisa hanya dengan guru sebagai pribadi yang terpisah, tetapi guru harus bersama dengan sekolah di dalam rangkaian harmoni dengan orang tua dan masyarakat," ujarnya.

Fenomena murid yang melawan gurunya ini menurut Wuryadi disebabkan berubahnya sikap kebudayaan dari murid.

"Anak-anak muda itu sekarang itu sekarang tidak patuh atau searah dengan orang tua, sekolah dan masyarakatnya," kata dia saat dihubungi melalui telepon, Kamis (21/2/2019).

Antara orang tua, sekolah, dan masyarakat menurutnya saat ini tidak ada keserasian. Selama ini kata dia seolah-olah pendidikan hanya terjadi di sekolah, padahal pendidikan menurutnya terjadi atas apa yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan sekolah.

"Orang tua menganggap sekolah satu-satunya tempat pendidikan, jadi orang tua bisa abai dan tidak tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Padahal menurut Ki Hajar [Dewantara] keluarga adalah pendidikan pertama dan utama," katanya.

Sementara masyarakat sendiri sekarang ini kata Wuryadi malah cenderung memporak-porandakan pendidikan dengan setiap komentar dan perannya di media sosial. Padahal kata dia murid tidak bisa lepas dari pengaruh masyarakat dan juga teknologi khususnya ponsel.

"Kalau orang tua tidak waspada murid akan lebih banyak dipengaruhi sumber-sumber dari luar yang berasal dari ponsel itu daripada keluarganya atau sekolahnya. Itulah yang terjadi sekarang," kata Wuryadi.

Untuk itu Penasehat Dewan Pendidikan Yogyakarta ini menyebut soslusi dari persoalan ini adalah membangun harmoni antara orang tua, masyarakat, dan sekolah.

Baca juga artikel terkait KASUS PENGANIAYAAN atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Jay Akbar