Duduk Perkara Pujian Gatra & Charta Politika ke Juliari Batubara

Oleh: Haris Prabowo - 8 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Bagaimana duduk perkara penghargaan untuk Juliari Batubara dari Majalah Gatra dan survei positif dari Charta Politika?
tirto.id - Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan penyelewengan duit bantuan sosial (bansos) COVID-19, latar belakang Menteri Sosial Juliari Batubara semakin dalam disorot publik. Salah satu yang ramai dibicarakan: kader PDIP ini pernah mendapat penghargaan Gatra Awards 2020 oleh Majalah Gatra pada 1 Desember lalu.

Juliari dianggap sebagai ‘sosok inspiratif’ dalam kategori ‘Sosok Inovatif Peningkatan Kesejahteraan Melalui Program Jaring Pengaman Sosial’.

“Ajang ‘Gatra Awards 2020’ merupakan bentuk kepedulian media memastikan dan memotivasi semua elemen masyarakat, pemerintah, swasta, maupun individu [untuk] terus berkontribusi positif terhadap masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Juliari merespons penghargaan.

Minggu, 6 Desember, Gatra Media Group akhirnya mencabut penghargaan ini. Lewat akun Twitter resmi, mereka mengatakan pencabutan tersebut berdasarkan pertimbangan dan evaluasi tim panelis internal--yang sebelumnya merekomendasikan penghargaan tersebut. “Setelah ada kejadian ini [Juliari terjerat KPK], tim telah bermufakat untuk mencabut penghargaan itu,” kata mereka.

Direktur Utama PT Era Media Informasi—yang menaungi Gatra Media Group—Hendri Firzani mengatakan penghargaan dibatalkan sebagai bentuk “tanggung jawab kepada publik dan menjaga independensi jurnalistik di Gatra Media Group.” Dia juga mengatakan Majalah Gatra menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Hendri mengatakan pemilihan ‘sosok inspiratif’ dilakukan oleh tim panelis yang terdiri dari sejumlah awak redaksi mereka. Tim panelis itu menentukan 26 nama penerima penghargaan. Semua nama penerima dipilih dengan mempertimbangkan peran aktif mereka dalam penanganan dampak COVID-19. “Baik itu lembaga, individu, maupun swasta, dengan berbagai kategori,” kata Hendri saat dihubungi wartawan Tirto, Senin (7/12/2020) malam.


Juliari menang karena tim panelis menilai ia berhasil menekan dampak COVID-19 lewat program bansos yang inovatif.

Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI yang juga merupakan anggota DPR RI Komisi VIII bidang sosial, lalu mengaitkan penghargaan ini dengan survei yang pernah dilakukan oleh Charta Politika, seakan-akan dasar penghargaan adalah survei ini. Lewat akun Twitter, Senin (7/12/2020) pagi, ia mempertanyakan kapan Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya akan menarik survei yang menyebut “Juliari adalah menteri juara penanganan Corona.”

Lewat kicauan yang sama Hidayat mengunggah foto Yunarto dan dua tangkapan layar dari dua berita, ‘Survei Charta Politika, Juliari Jadi Menteri Juara Penanganan Korona’ dari Jawa Pos dan ‘Survei Charta Politika: Bansos Kemensos Tepat Sasaran’ oleh Gatra Online.

Hendri Firzani menepis asumsi penghargaan didasarkan oleh survei-survei tertentu, termasuk dari Charta Politika. Kata dia, tim panelis melakukan riset mandiri soal kinerja, tingkat serapan anggaran, dan dampak yang terjadi dari kerja-kerja para kandidat. “Survei tidak dijadikan bahan dasar untuk penilaian kita. Penilaian kita murni hasil riset teman-teman terhadap hasil kerja.”

Jawa Pos menerbitkan berita yang diunggah Hidayat pada 22 Juli, sementara Gatra Online sehari setelahnya. Kedua berita tersebut memang berdasarkan pada survei Charta Politika yang sama, yang berjudul Tren 3 Bulan Kondisi Politik, Ekonomi dan Hukum Pada Masa Pandemi COVID-19, dirilis pada 22 Juli.

Dalam berita di Jawa Pos, disebutkan bahwa Kementerian Sosial—di bawah kepemimpinan Juliari—menjadi lembaga juara karena dianggap paling sigap dan tanggap menghadapi pandemi lewat program Bantuan Sosial Tunai (BST). Disebutkan pula Juliari ikut turun menyalurkan ke lapangan.

Pada hasil survei resmi tak ada keterangan bahwa Kementerian Sosial menjadi ‘juara penanganan Corona’. Di survei itu memang terdapat satu kanal khusus berjudul ‘Bantuan Sosial’, yang berisi persepsi publik terhadap bansos dari Kemensos. Tapi itu tidak bisa mewakili persepsi bahwa Kemensos-lah juaranya.

Ada pula bagian yang menjabarkan persepsi publik terhadap “kementerian/lembaga tinggi negara paling aktif di masa pandemi COVID-19”. Namun itu pun Kemensos berada di posisi ketiga, di bawah Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).


Berita kedua dari Gatra Online cenderung lebih akurat. Sesuai dengan judul berita, isi survei dari Charta Politika menemukan bahwa 45,5 persen responden menyebut bahwa BST dari Kemensos sudah tepat sasaran. 32,6 persen menyebut belum dan sisanya menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

Kurang lebih 40 menit setelah Hidayat berkicau, Yunarto membalas. Ia mempertanyakan survei mana yang menyebut Juliari menteri juara penanganan COVID-19. Ia menduga Hidayat hanya membaca informasi berdasarkan judul berita dan meme dan memintanya membaca langsung isi survei.

“Ayo kita lihat, saya yang harus cabut atau ustaz yang bersedia minta maaf?” kata Yunarto.

Ia juga menegaskan lembaganya tak pernah merilis survei yang isinya menyebut Juliari sebagai menteri juara dalam penanganan Corona. “Yang jelas saya bisa pertanggungjawabkan semua rilis saya. Bisa dibedah secara metodologi dan lain-lain,” kata Yunarto saat dikonfirmasi wartawan Tirto, Senin.

Baca juga artikel terkait DUGAAN KORUPSI BANSOS atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino
DarkLight