Sejarah Indonesia

Dua Versi Sejarah Wisnu Wardhana Sang Penguasa Jawa Timur

Oleh: Iswara N Raditya - 10 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Terdapat dua versi sejarah terkait asal-usul Wisnu Wardhana (Wisnuwardhana), yakni dari Kitab Pararaton dan dari Kitab Negarakertagama.
tirto.id - Wisnu Wardhana (sering ditulis pula Wisnuwardhana) adalah penguasa Tumapel atau Kerajaan Singasari. Kerajaan yang berpusat di Jawa Timur ini eksis pada abad ke-11 Masehi. Setidaknya, ada dua versi sejarah terkait asal-usul Raja Wisnu Wardhana, yakni menurut Kitab Pararaton dan Negarakertagama.

Kerajaan Singasari mengalami puncak keemasan pada era Raja Kertanegara dan memiliki wilayah kekuasaan yang amat luas. Widjiono Wasis dalam Ensiklopedi Nusantara (1989) mengungkapkan, Kertanegara kala itu ingin menyatukan sebagian wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari.

Dengan pusat pemerintahan di Jawa bagian timur, wilayah kekuasaan Singasari pada era Kertanegara disebut-sebut mencakup Bali, Sunda, sebagian Kalimantan, bahkan sebagian Sumatera hingga kawasan Selat Malaka.

Kertanegara adalah putra dari Wisnu Wardhana, penguasa Singasari atau Tumapel terdahulu. Sebelum era Wisnu Wardhana, Tumapel hanya sebuah pemerintahan daerah di bawah pengaruh Kerajaan Kediri. Menurut Pararaton, pemimpin Tumapel adalah Tunggul Ametung yang memiliki istri bernama Ken Dedes.

Pada 1922, sebut Pararaton, Tunggul Ametung mati dibunuh Ken Arok, kemudian memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung. Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini nantinya diberi nama Anusapati.

Dikutip dari buku berjudul Pararaton (1965) karya R. Pitono, setelah membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, Ken Arok tampil sebagai penguasa baru Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

Ken Arok juga menyatakan Tumapel adalah negeri merdeka yang lepas dari kekuasaan Kerajaan Kediri. Terjadilah peperangan sengit. Ken Arok alias Sri Rajasa Bhatara menang.

Di sisi lain, Negarakertagama tidak pernah menyebut nama Tunggul Ametung maupun Ken Arok. Penguasa Tumapel yang mengalahkan Kerajaan Kediri, menurut kitab ini, adalah Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra.


Pararaton vs Negarakertagama

Meskipun memiliki jejak sejarah dan alur waktu yang berbeda, namun Pararaton dan Negarakertagama punya satu kesamaan terkait garis darah Wisnu Wardhana. Dua kitab ini sama-sama menyatakan bahwa Wisnu Wardhana merupakan putra dari Anusapati.

Seperti dikisahkan Pararaton, Anusapati adalah putra Tunggul Ametung –yang mati dibunuh Ken Arok– dengan Ken Dedes. Setelah dewasa, Anusapati yang memang ingin membalaskan dendam ayahnya, mengotaki pembunuhan Ken Arok pada 1247.

Anusapati kemudian bertakhta di Tumapel. Namun, pada 1249, Anusapati mati di tangan Tohjaya. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Tohjaya adalah anak Ken Arok dari istri selirnya yang bernama Ken Umang.

Pararaton selanjutnya mengungkapkan, Anusapati memiliki putra bernama Ranggawuni atau yang nantinya dikenal sebagai Wisnu Wardhana. Sementara itu, Tohjaya dinobatkan sebagai raja setelah Anusapati tewas.

Wisnu Wardhana mendapat dukungan dari kalangan istana untuk memberontak terhadap Tohjaya pada 1250. Tohjaya terluka parah dalam pertempuran dan akhirnya mati. Wisnu Wardhana pun naik takhta sebagai pemimpin baru Tumapel.

Di sisi lain, Negarakertagama juga mengakui nama Anusapati. Namun, berbeda dengan Pararaton, Anusapati versi Negarakertagama adalah putra dari Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra, penguasa Tumapel.

Dalam versi Pararaton, posisi Ranggah Rajasa barangkali diwujudkan pada sosok Tunggul Ametung atau Ken Arok karena Negarakertagama tidak pernah menyebut dua nama yang pernah memimpin Tumapel ini.

Menariknya, Ken Arok versi Pararaton juga memakai embel-embel "Rajasa" dalam gelarnya sebagai raja. Ada kemiripan dengan nama penguasa Tumapel versi Negarakertagama, yakni Ranggah Rajasa.

Anusapati, menurut Negarakertagama, naik takhta pada 1227 menggantikan Ranggah Rajasa. Anusapati wafat pada 1248 dan digantikan oleh anaknya yang bernama Wisnu Wardhana.

Tahun 1254, Wisnu Wardhana mengangkat putranya, Kertanegara, sebagai putra mahkota. Kertanegara inilah yang kelak menurunkan raja-raja Jawa, termasuk Majapahit dan seterusnya.


Pada tahun yang sama, Wisnu Wardhana juga mengganti nama Kutaraja, ibukota Tumapel, menjadi Singasari, diperkirakan berlokasi di sekitar Malang. Nama Singasari pada akhirnya justru lebih dikenal ketimbang Tumapel.

Berikut perbedaan urutan silsilah antara versi Negarakertagama & Pararaton:

Versi Negarakertagama
Rangga Rajasa (1222-1227) | Penguasa Tumapel
Anusapati (1227-1248) | Putra Rangga Rajasa
Wisnu Wardhana (1248-1254) | Putra Anusapati
Kertanagara (1254-1292) | Putra Wisnu Wardhana

Versi Pararaton
Tunggul Ametung (1185-1222) | Penguasa Tumapel
Ken Arok (1222-1247) | Penguasa Tumapel, membunuh Tunggul Ametung
Anusapati (1247-1249) | Putra Tunggul Ametung & Ken Dedes, membunuh Ken Arok
Tohjaya (1249-1250) | Putra Ken Arok dari Ken Umang, membunuh Anusapati
Wisnu Wardhana (1250-1272) | Putra Anusapati, menggulingkan Tohjaya
Kertanagara (1272-1292) | Putra Wisnu Wardhana

Raja Kertanegara membawa Singasari ke puncak kejayaan, namun ia sekaligus raja pamungkasnya. Ambisi menguasai Nusantara belum sepenuhnya terwujud karena Kertanegara tewas dalam suatu upaya pemberontakan.

Baik Kitab Pararaton dan Negarakertagama sama-sama menyebut Kertanegara mangkat pada 1292 Masehi. Sepeninggal sang raja putra Wisnu Wardhana ini, Singasari menuju kemusnahan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya