19 Agustus 1991

Dua Tanah Air M.A.W. Brouwer: Rohaniwan Psikolog, Budayawan Jenaka

Kontributor: Chris Wibisana, tirto.id - 19 Agu 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Brouwer menghabiskan sebagian terbesar dari usia produktifnya di Indonesia. Setelah pensiun ia mengalami gangguan psikosomatik sampai meninggal di Belanda.
tirto.id - Mahbub Djunaidi pernah mewawancarai seribu responden. Pertanyaan pertama yang diajukan tanpa pendahuluan, “Pahamkah Saudara tulisan Brouwer?” Hasilnya, 998 orang menjawab “tidak”, sisanya menjawab “ya”. Dua orang sisa itu adalah Brouwer, penulisnya, dan Mahbub sendiri.

Apa alasan orang-orang tidak memahami tulisan Brouwer? Macam-macam jawabannya, tetapi Mahbub menilai tulisan Brouwer seperti 10 teka-teki silang digabung satu.

Informasi yang spesifik dan entah diperoleh dari planet mana, permainan idiom yang melimpah dan relatif asing bagi pembaca, serta gaya menulis yang terkadang nyelekit membuat tulisan Brouwer sulit dipahami. Meski demikian, isinya tepat sasaran.

Untuk ukuran zamannya, bisa jadi Mahbub benar. Tulisan-tulisan Brouwer, yang selama 20 tahun rutin mengisi halaman Opini harian KOMPAS, bukan jenis tulisan yang bisa dipahami dalam sekali kunyah.

Tidak saja karena aspek teknis seperti penggunaan kosakata yang spesifik dan alur tulisan yang bisa melebar dan menyentuh berbagai hal, tapi juga kedalaman dan refleksi yang ia tawarkan sebagai oase jernih bagi pembacanya. Ia berhasil memadukan kontemplasi, pengetahuan, dan racikan humor yang membuat tulisannya ditunggu.

Brouwer identik dengan tulisan yang mengulas bermacam topik, bergaya khas dan spontan, meski kadang sukar dipahami. Melalui kolomnya yang rutin menyapa pembaca, ia dikenang sebagai rohaniwan psikolog, kolumnis prolifik, dan budayawan jenaka yang tak tergantikan sampai sekarang.


Jalan Penebusan Sang Misionaris

Martinus Antonius Wesselinus (M.A.W.) Brouwer bisa jadi tidak pernah membayangkan akan menghabiskan sebagian terbesar dari usia produktifnya dengan berkarya sebagai psikolog cum intelektual publik di negeri yang berjarak hampir 11 ribu mil dari tanah airnya.

Lahir di Delft, Belanda, pada 14 Mei 1923, sebagai putra tertua pasangan J. Antonius Brouwer dan Catharina Antonia, ia terlahir dari keluarga pedagang yang cukup makmur. Nama keluarganya memang brouwer, personifikasi brouwerijbrewery) yang berarti pabrik bir, nama yang generik di Delft.

Meski demikian, leluhur Brouwer tidak ada sangkut pautnya dengan pembuatan bir. Mereka adalah pengusaha toko daging yang dikelola turun-temurun sejak tahun 1850.

Kelahiran Tinus (nama kecil Brouwer), yang berjarak 20 bulan dari kakak perempuannya membawa harapan besar bagi kedua orang tuanya. Sang ayah ingin agar Tinus kecil kelak menjadi suksesor bisnis keluarga.

Sebaliknya, sang ibu mendambakan Tinus menjadi pastor. Sebagai keluarga Katolik yang religius, cita-cita ibunya masuk akal. Meski demikian, harapan besar ini harus dikompensasi dengan kenyataan bahwa Tinus kecil adalah anak yang sakit-sakitan, mulai dari sakit kulit sampai asma.

“Maka timbullah suatu symbiose yang kuat antara ibu dan aku. Aku sangat diarahkan oleh ibuku semasa hidupku dan ketika menyadari hal itu, aku ingin melepaskan diri dengan memberontak diam-diam, tetapi ini tidak berhasil,” ujar Brouwer dalam biografi Antara Dua Tanah Air: Perjalanan Seorang Pastor yang disusun Myra Sidharta (1994, hal. 11).

Kondisi fisiknya yang gampang sakit membuat Tinus banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dengan bermain pastor-pastoran. Ia mengumpulkan kakak dan teman-temannya sebagai “jemaat” yang akan mendengarkan “khotbah” dan melihatnya memimpin “liturgi”. Tinus aktif di kalangan Gereja dengan menjadi anggota paduan suara dan putra altar yang bertugas membantu jalannya perayaan Ekaristi.

Keaktifan dan gejala sejak kecil yang menampakkan keinginan keras menjadi rohaniwan inilah yang menjadikan orang tuanya mengirim Tinus bersekolah di Gymnasium Immaculatae Conceptionis di Limburg pada 1935, setelah ia lulus sekolah dasar.

Sekolah asrama ini dikelola para imam Ordo Fransiskan dan bermisi memotivasi para remaja agar bergabung dalam ordo tersebut. Terbukti, dengan prestasi cemerlang, Tinus menjawab panggilan imamat pada 1942. Ia dikirim ke sekolah tinggi Studium Seraficum di Hoog-Crutz untuk menyambung pelajaran filsafat dan agama. Ia mendapat nama baru di komunitasnya: Renald.

Masa-masa menempuh studi di tengah kecamuk perang bukanlah hal yang mudah. Biara termasuk tempat yang terlindungi dan aman dari serangan, meski logistik bahan bakar dan ransum makanan kerap kali tersendat.

Berkali-kali, Renald terusik dan ingin keluar dari biara lalu masuk ketentaraan atau gerakan bawah tanah demi pembebasan negerinya yang diduduki Jerman. Berkali-kali pula keinginan itu terbentur jawaban sang ayah yang tegas melarangnya.

Sebagai gantinya, ia bertekad menebus kenyamanan dan perlindungan yang ia dapat semasa perang dengan menjadi misionaris di negara miskin dan berkembang. Renald menerima tahbisan imamat pada 17 Maret 1949. Sebulan kemudian, pada Paskah 1949, ia mudik ke Delft dan mempersembahkan misa di sana.

“Pada saat Brouwer memimpin misa di Gereja, kegembiraan ibu Brouwer sangat besar. Ia telah mimpikan, bagaimana putranya akan sering memimpin misa di Gereja dan dengan bangga dia akan menghadiri. Terbayang pula olehnya kebanggaannya kalau setelah misa, para jemaat akan membicarakan khotbahnya,” tulis Sidharta (1994, hal. 31).

Untuk keinginan ini, Renald terpaksa mengecewakan ibunya. Ia memilih masuk misi sesuai tekadnya. Mula-mula dia memilih Tiongkok sebagai tujuan. Namun, karena kemenangan rezim komunis, pimpinan Ordo Fransiskan mengalihkan tujuan ke Indonesia demi alasan keamanan para imam yang rentan dipersekusi.

Ke negeri yang baru merdeka itu, Renald ditemani tiga koleganya sesama Fransiskan: Pater Koopman, Pater Hofstede, dan Pater Bloem.

Karena memilih tugas misi, Renald harus memiliki keterampilan ahli, sehingga di negara tujuan, ia tidak hanya mengampu tugas pastoral, tetapi juga bisa mengajar atau melayani di rumah sakit.

Ia memilih mengikuti kuliah pedagogi di Universitas Nijmegen dan berhasil menyelesaikannya sampai beroleh titel sarjana muda. Kualifikasi ini cukup menjadi bekalnya menjadi pengajar sekolah menengah atau sekolah guru di tanah misi kelak.


Dua Tanah Air Seorang Fransiskan

Tiba di Indonesia pada September 1950, tanah misi pertamanya adalah Tatar Pasundan, tepatnya Sukabumi. Di sini ia mendapat panggilan hormat sebagai Pater Brouwer dan diberi tugas untuk mengajar di SLA Mardiyuwana untuk Aljabar dan bahasa Jerman.

Awalnya ia kesulitan mengajar dalam bahasa Indonesia. “Murid-muridnya dibuat mengantuk, karena pastor ini membaca bahan pelajaran mirip anak kelas satu SD,” tulis TEMPO dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

Selain mengajar, ia membawa serta hasrat observasi yang besar. Tidak jarang Brouwer berjalan keluar masuk kampung sekitar dengan mengenakan jubah coklat Fransiskan, memakai sandal terbuka, dan menikmati bentang alam Priangan yang indah serta keramahan warga desa yang membuatnya merasa disambut.

Memang terdapat kekhawatiran beberapa rekannya tentang sentimen anti-Belanda dan gerilya DI/TII. Bahaya itu sewaktu-waktu bisa menyandera Brouwer karena ia seorang paderi Katolik. Bagaimanapun, cinta pada tanah misi membuat ia tak terlalu menghiraukan semua itu.

Enam tahun berkarya sebagai misionaris, Brouwer minta izin kepada Prefek Sukabumi, N.J.C. Geise, agar diperkenankan menyambung pelajaran di Universitas Indonesia. Ia memilih studi psikologi yang dibuka pada 1955 oleh Prof. Slamet Iman Santoso. Ia cepat membaur dan segera menjadi pusat perhatian.

Pada 1958, Brouwer dibimbing membuka praktik psikolog oleh Sr. Lie Poek Liem, salah satu dosennya. Penguasaan Brouwer yang cepat dalam disiplin ilmu yang ia tekuni menjadikannya lulus lebih cepat pada 1961. Tak berapa lama, ia mengambil cuti ke Delft untuk pertama kalinya setelah 12 tahun menjadi imam.

Sekembalinya ke Indonesia pada 1963, Brouwer diajak berkolaborasi dengan Dr. Mar’at Wiradimadja untuk memulai tugas sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang baru diresmikan dua tahun sebelumnya.

Ia langsung diangkat sebagai Asisten Ahli dengan golongan F/II. Tugasnya mengajar beberapa mata kuliah, mulai dari Psikoterapi, Psikologi Klinis, Konseling, Filsafat, dan Psikologi Eksperimen serta praktiknya. Brouwer sangat antusias menjalankannya.

“Yang mengesankan adalah cara ia memberi kuliah yang selalu penuh semangat. Untuk memberi contoh, ia sering memperagakan tingkah laku seseorang, sehingga kuliahnya menjadi ramai, tetapi jelas. Mahasiswanya masih mengingat ia mondar-mandir di depan kelas dengan memain-mainkan tali pinggangnya seperti seorang koboi yang mau melemparkan laso,” catat Sidharta (1994, hal. 54).

Dalam memberi ujian, Brouwer dikenang enggan mempersulit mahasiswa. Soal-soal ujiannya mudah dijawab. Saat membimbing skripsi, ia tidak segan memuji skripsi yang baik, seperti juga tidak ragu mengkritik skripsi yang buruk.

Ia membuka klinik konseling dan meneruskan berpraktik sebagai psikolog di beberapa rumah sakit, mulai dari RS. Borromeus, RS. Hasan Sadikin, RS. Militer Cimahi, dan RSJ Jalan Riau.


Konsultan Mingguan, Kolumnis Jenaka

Perkenalan Brouwer dengan dunia tulis-menulis terjadi pada 1968. Saat itu, ia prihatin sesudah mengunjungi penjara yang ditempati tahanan politik G30S. Ia ingin membantu dengan menulis yang honornya diberikan kepada para keluarga tahanan politik yang terlantar.

Atas seizin P.K. Ojong, pemimpin umum KOMPAS, keluarlah tulisan pertama Brouwer yang berjudul “Soal Penghancuran PKI” pada Oktober 1968.

Tulisan Brouwer mencakup beraneka topik, umumnya masalah-masalah sosial yang ia kritik dengan humor terselubung, folklore Belanda, dan idiom yang tidak terlalu populer, tetapi dimengerti segelintir pembaca.

Perluasan topik ini ia lakukan, terutama setelah dipanggil oleh aparat karena tulisannya tentang politik dianggap terlalu bersimpati kepada tahanan politik tertuduh PKI. Karena insiden itu, ia ingin berhenti menulis, tetapi Ojong menahannya.

Memahami kekhawatiran koleganya yang riskan saat membahas politik, Ojong mengusulkan agar Brouwer mengasuh rubrik Surat Pembaca dan belakangan Konsultasi yang terbit tiap Minggu. Mulailah ia jadi konsultan mingguan di KOMPAS sejak 1979.

Bermacam-macam surat dan pertanyaan diterima Brouwer setiap minggu dari pembaca. Surat atau pertanyaan yang menarik akan ia ulas dalam kolomnya yang blak-blakan, spontan, diperkaya pernak-pernik cerita, serta sarat kelakar.

Misalnya, dalam kolom “Cemas” yang dimuat edisi 1 Februari 1981, Brouwer berkisah tentang pengalaman buruk ketika menyantap makanan di sebuah restoran di Bandara Halim Perdanakusuma.

“Saya pernah terpaksa makan di situ dengan empat orang membayar 20.000 rupiah untuk hal yang disebut kakap, tapi terdiri dari sol sepatu dimasak dengan minyak kelapa dan lebih jelek dari makanan kampungan.”

Kali lain, seorang pemuda mengeluh. Ia terpaksa mencuri demi mentraktir seorang teman dan kini ia dalam masalah. Brouwer menjawab, “Dengan seribu kali minta maaf, menurut penilaian saya engkau lebih bodoh dari bodoh!”

Brouwer juga pernah mengolok-olok para sarjana, “Mereka dahulu belajar dari diktat, kemudian menjadi diktator, yang hanya belajar dari diktat. Sekarang mereka tidak membaca diktat, tapi membaca soal-soal dari ujian kemarin.”

Ia mahir dalam permainan kata-kata dan membuat tamsil-tamsil. Tidak jarang ia mengilustrasikan komentarnya dengan kisah dongeng tokoh-tokoh jenaka seperti Raja Olybol, Don Kisot Ducinea, Ivan Ivanovitch, Hap Seng, dan lain-lain.

Lain itu, Brouwer juga menambahkan kisah-kisah perjalanan yang menarik ke berbagai negara, untuk diramu dengan humor yang khas. Misalnya, dalam kolom “Nippon Hitam Putih” yang dimuat KOMPAS edisi 7 Januari 1983, ia menulis saat berkunjung ke pabrik berteknologi robotik.

“Lewat suatu mesin, saya tanya pada guide, [mesin] apa itu, dia menjawab, ‘Itulah direktur kita. Kalau sakit, tinggal dibawa ke bengkel’.”


Infografik Mozaik MAW Brouwer
Infografik Mozaik MAW Brouwer. tirto.id/Tino


Gaya menulis ini memang tidak disenangi semua orang. Beberapa kali, Brouwer diberi peringatan oleh redaktur KOMPAS karena tulisannya dikritik pembaca atau tidak berkenan di hati pimpinan. Dengan kepribadian Jakob Oetama yang lentur, Brouwer seringkali tidak cocok, terutama dalam soal gaya mengkritik.

Tak heran, dalam artikel opini “M.A.W. Brouwer” yang dimuat KOMPAS edisi 17 November 1986, Mahbub Djunaidi menyindir, “Pastor atau alim ulama tak sepantasnya ceplas-ceplos. Mesti bijak dan samar-samar, seperti asap sebatang rokok. Mesti manis-manis. Tak boleh bikin kaget banyak orang. Brouwer? Tidak ada kebiasaan lain dari bikin waswas.”

Sejak 14 Mei 1988, persis di ulang tahunnya ke-65, Brouwer memasuki purnatugas dengan golongan IV/C. Pensiun ternyata mengguncang dirinya. Ia yang memiliki segudang aktivitas, mulai dari mengajar, menulis, ikut forum diskusi, dan memberi konseling, tiba-tiba tercerabut dan kembali ke titik nol dan menjadi pastor biasa.

“Saya merasa adanya kekosongan pada awal masa pensiun ini,” ucapnya saat diwawancarai KOMPAS setelah menghadiri pelepasan di aula Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran pada 3 Mei 1988.

Ia semula berharap dapat diangkat menjadi profesor sebelum pensiun—impian yang terantuk oleh kenyataan bahwa ia tidak berhasil memperoleh KTP walau sudah berkali-kali mengajukannya.


Tanpa agenda pensiun yang jelas, Brouwer menghabiskannya dengan menjelajah Eropa. Ia berangkat ke Roma untuk mendalami perkembangan teologi mutakhir, bertolak ke Belanda, dan terus ke Eropa Timur, mulai dari Polandia, Cekoslowakia, sampai Hungaria.

Kembali ke Belanda, ia merayakan pesta 40 tahun imamat bersama Pater Koopman di Delft, sebelum pada awal Mei 1989 berangkat ke Indonesia. Ia terserang diare di pesawat dan tidak berani makan atau minum, kecuali sedikit teh hangat.

Kepulangannya ke Indonesia membuat ia semakin frustrasi dan mulai mengalami gangguan psikosomatik.

“Tiba-tiba, dia merasa bahwa ia tidak pulang ke tempat di mana dia merasa betah dan senang lagi. Malahan dia merasa berada di tempat yang asing dan penuh ancaman,” ungkap Sidharta (1994, hal. 121).

Brouwer berusaha tetap produktif dengan membaca buku, membantu menulis buku, atau menulis surat pada teman dan saudaranya. Namun karena depresi, kegelisahan, dan kondisi kesehatan yang berganti-ganti antara diare dan sembelit, awal 1990 ia pun pulang ke Belanda dan dirawat. Depresinya tidak pernah berhasil pulih.

Di pengujung hidup, Brouwer sering gelisah, murung, penggerutu, dan putus asa karena memikirkan penyakitnya. Beberapa kali dirawat di rumah sakit, keadaannya tidak membaik.

Petang hari, 19 Agustus 1991, hari ini, 31 tahun lalu, ia terjatuh di kamarnya. Ketika perawat datang, ia tergeletak di lantai dan mengembuskan napas terakhir dalam usia 68 tahun.

Ia dimakamkan pada 24 Agustus di pekarangan biara yang sama tempat ia ditahbiskan. Ia sebetulnya selalu berkeinginan dapat berbaring di bumi Pasundan, tanah yang ia yakini diciptakan Tuhan ketika sedang tersenyum.

Baca juga artikel terkait KOLUMNIS atau tulisan menarik lainnya Chris Wibisana
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Chris Wibisana
Penulis: Chris Wibisana
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight