Dua Dai Beda Era: Abdul Somad Bikin Panas, Zainuddin MZ Lebih Adem

Infografik Abdul Somad dan Zainuddin MZ
Abdul Somad (kedua dari kanan) menyampaikan klarifikasi terkait video ceramahnya di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/8/2019). tirto.id/Riyan Setiawan
Oleh: Irfan Teguh - 23 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Menyampaikan keyakinan agama bukan sesuatu yang salah. Namun, kemajuan teknologi informasi menuntut banyak orang untuk menimbang ulang kesadaran ruang mereka.
tirto.id - Dua pekan terakhir dai kondang Abdul Somad kembali menjadi bahan perbincangan di pelbagai kanal media sosial. Kali ini kabar yang beredar cukup miring: ia dianggap menghina salib sebagai simbol keyakinan umat Kristen.

Sebuah video yang beredar luas merekam secara verbatim apa yang dikatakannya. Perkara bermula dari pertanyaan seorang mustamik yang ditulis dalam secarik kertas.

“Apa sebabnya, ustaz, kalau saya menengok salib, menggigil hati saya?” tanyanya.

“Setan,” jawab Abdul Somad. “Jin kafir sedang masuk. Karena di salib itu ada jin kafir. Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung. Makanya kita tidak boleh menyimpan patung. Jin kafir itulah yang mengajak.”

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa jika ada keluarga Muslim dirawat di rumah sakit yang terdapat salib, maka salib tersebut harus ditutup. Dan apabila si pasien sakratulmaut, sementara keluarga tak mendampinginya serta salib tak ditutup, dikhawatirkan si pasien diajak menjadi kafir dalam detik-detik terpisahnya roh dengan raga.

“Berapa keluarga orang Islam yang mati dalam keadaan suul khatimah?” ucapnya.

Video yang beredar itu berasal dari ceramah Somad tiga tahun silam. Namun, hal tersebut tak menjadikan ucapannya yang menyinggung umat Kristen itu kedaluwarsa.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) melaporkan dai kelahiran Asahan itu ke Bareskrim Polri. Sementara Komunitas Horas Bangso Batak melaporkan Abdul Somad ke Polda Metro Jaya. Selain itu, Brigade Meo Nusa Tenggara Timur juga melaporkannya ke Polda NTT.

Berita pelaporan Abdul Somad atas perkataannya ini kemudian menjadi narasi yang terus-menerus hadir dalam sejumlah media. Karakternya yang blak-blakan dianggap berpotensi mengundang persepsi sebagai biang ketersinggungan umat Kristen.

Soal video yang diributkan itu, Abdul Somad sudah memberi klarifikasi ketika ia berkunjung ke kantor Majelis Ulama Indonesia Pusat, Jakarta, Rabu (21/8/2019). Di hadapan para wartawan, ia menjelaskan ceramah tersebut disampaikan di tengah komunitas masyarakat Muslim di dalam masjid dan tempat tertutup dalam kajian khusus pada Sabtu usai salat Subuh. "Bukan di Damai Indonesia TV One, bukan tablig akbar di tengah lapang sepak bola, bukan di waktu ramai sampai 100 ribu orang jadi pengajian," tuturnya.

Somad menjelaskan pula bahwa ceramahnya menyangkut akidah seorang Muslim. Ia lalu mengutip satu ayat Alquran. "Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah, kalau di dalam rumah itu ada patung. Kenapa ? [Karena] malaikat enggak mau masuk ke rumah yang ada patung. Karena di antara tempat-tempat tinggal jin adalah patung," kata Somad mengulang jawaban saat ceramah.

"Oleh sebab itu," lanjut Somad, "penjelasan itu saya jelaskan untuk menjaga akidah umat Islam. Saya tidak sedang [dalam] kapasitas perbandingan agama atau berdebat atau berdialog, tapi menjelaskan akidah umat Islam."


Sementara itu, dalam sebuah video yang lain, Abdul Somad secara tegas menjawab pertanyaan salah satu hadirin ceramah tentang boleh tidaknya bersedekah kepada non-Muslim untuk pembangunan rumah ibadah.

“Macam tak ada tempat sedekah lain,” ucapnya pelan.

Ia lalu menyambung, “Kalau sudah masalah ibadah, wa la ana 'abidu ma ’abadtum, wa la antum 'abiduna ma a’bud, lakum dinukum wa liyadin (Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah [pula] menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu untukku agamaku),” imbuhnya mengutip tiga ayat terakhir surat al-Kafirun.

Setelah itu ia menjelaskan bahwa di luar ibadah, Muslim boleh dan dianjurkan tetap menjaga hubungan sosial dengan non-Muslim. Ia mencontohkan kisah Nabi Muhammad yang menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk ditukar dengan 30 sha’ atau sekitar 90 kilogram gandum.

Padahal saat itu Utsman bin ‘Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bib Rabi’ adalah para sahabat yang kaya raya. Artinya, Nabi bisa memenuhi kebutuhannya tanpa berhubungan dengan non-Muslim.

“Ulama sirah berkata, ‘Nabi kamu ingin mengajarkan kamu berhubung baik dengan non-Muslim’,” ucap Somad.

Video itu tentu menampilkan wajah Abdul Somad yang lain, yang lebih toleran dan seolah-olah bertolak belakang dengan pernyataannya tentang salib dalam video yang tengah viral. Meski sebetulnya dapat dibedakan mana pernyataannya yang terkait akidah, dan mana yang terkait kehidupan sosial.

Di luar perbedaan konteks itu, Abdul Somad tetap tak bisa melepaskan dirinya sebagai tokoh agama yang tengah menjadi sorotan dan segala ucapannya berpotensi menimbulkan persoalan.


Zainuddin MZ yang Lebih "Adem"

Sebagai perbandingan—dan hal ini kerap disebut-sebut oleh sebagian pendengarnya—Abdul Somad dianggap mirip dengan dai kondang almarhum Zainuddin MZ. Mereka berdua menyampaikan ceramah yang sering diselingi humor sehingga membuatnya menarik.

Namun, jika ditelusuri jejak digitalnya, ceramah Zainuddin MZ relatif lebih "adem". Dai sejuta umat yang besar namanya di kala Orde Baru sedang kuat-kuatnya itu barangkali memang terbiasa dengan sensor rezim, sehingga membuatnya lebih selektif dalam memilih materi ceramah.

Dari beberapa video yang diunggah di YouTube oleh sejumlah akun dengan mengetikkan kata kunci “Zaenuddin MZ kafir”, maka yang muncul adalah video-video dengan materi ceramah yang lebih adem daripada kata judulnya.

Video dengan judul “Khusus Orang Muslim Dukung Orang Kafir” misalnya. Materi ceramah dalam video tersebut adalah kisah tentang keadilan yang ditegakkan Khalifah Umar bin Khattab kepada seorang Yahudi yang tanahnya diserobot oleh Gubernur Mesir Amr bin Ash.

Di akhir kisah, orang Yahudi itu mendapatkan kembali tanahnya yang dirampas sang gubernur. Amr bin Ash menggigil ketakutan karena mendapat pesan sebuah tulang unta yang dibubuhi garis lurus oleh mata pedang Umar bin Khattab.

Pesan Umar kira-kira: “Wahai Amr bin Ash, jangan mentang-mentang kamu sedang berkuasa sehingga berlaku seenaknya. Berlaku lurus dan adillah kamu seperti lurusnya garis di atas tulang ini. Kalau kamu tidak lurus dan adil, aku akan luruskan kau dengan pedangku.”

Mendapatkan perlakuan seperti itu, si yahudi akhirnya masuk Islam dan tanahnya ia ikhlaskan untuk mendirikan masjid.

Cerita di atas tentu bisa disebut sebagai klaim Islam tentang keadilan bagi non-Muslim. Namun setidaknya kisah ini tak menjelekkan simbol-simbol keyakinan di luar Islam yang berpotensi menyulut ketegangan.

Lalu ada pula video yang diberi judul cukup provokatif: “Mari Buktikan Para Kafir Pasti Stroke, Jawaban Cerdas Alquran bukan Bikinan Muhammad”.

Materi ceramah yang disampaikan Zainuddin MZ dalam video tersebut adalah tentang keistimewaan Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Salah satu poin yang membuat Alquran istimewa adalah karena kitab tersebut isinya tidak saling bertentangan. Saat menyampaikan poin inilah ia menyinggung kitab suci agama lain.

“Kita yakini Alquran sebagai kitab suci karena isinya tidak saling bertentangan. Bagaimana mungkin sebuah kitab suci ajarannya saling kontroversi. Isinya saling simpang, saling silang. Di satu ayat dia ajarkan Tuhan esa, di lain ayat dia ajarkan Tuhan tiga. Bagaimana kitab suci bisa saling silang seperti ini?" ucapnya.

Ia memang tak menyebut agama apa yang mempunyai kitab suci semacam itu, namun kata-kata “Tuhan tiga” mungkin dapat mengarahkan kita ke mana sebetulnya maksud Zainuddin MZ.



Apakah Kesadaran Ruang Mesti Berubah?

Perbandingan sejumlah video Abdul Somad dan Zainuddin MZ yang bertebaran di kanal-kanal media sosial bisa jadi memunculkan sebuah simpulan bahwa Zainuddin MZ lebih mampu mengendalikan tutur kata sehingga tak rawan menuai kontroversi.

Namun, sebetulnya ada faktor lain yang membuat Abdul Somad dinilai lebih “berlidah belati” dibandingkan seniornya itu: kemajuan teknologi informasi yang wujudnya amat nyata lewat sebaran media sosial.

Jika kita telisik, apa yang disampaikan Abdul Somad adalah wilayah keyakinan Muslim yang disampaikan di lingkungan Muslim, namun tersebar ke luar.

“Kalau membandingkan dengan ajaran Islam dan disampaikan dalam komunitas Islam, itu bukan penghinaan terhadap agama lain […] Sama saja begini, ada yang masuk ke kamar mandi, lalu direkam dan mempublikasikan. Orang yang mandi tidak bersalah,” ujar Mudzakir, ahli hukum pidana dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) kepada Tirto, Selasa (20/8/2019).

Kaidah ini sejatinya memang terjadi di banyak tempat komunitas Muslim. Di masjid dekat rumah saya, misalnya, ketika saya masih kecil, bukan hal yang melanggar aturan dan bukan pula tindakan provokatif jika para ustaz mengatakan bahwa mendoakan orang non-Muslim pasti akan ditolak oleh Allah.

Kekafiran, sebagaimana diartikan secara harfiah, dinilai telah menutupi rida Allah. Namun tentu saja hal tersebut disampaikan dalam konteks penguatan tauhid dan akidah, bukan untuk memojokkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Yang mesti menjadi catatan adalah saat itu para ustaz menyampaikannya di masjid, di sebuah kampung yang tak satu pun terdapat non-Muslim. Ceramah macam itu juga disampaikan dalam konteks penguatan akidah serta tak ada yang merekam dan menyebarkannya.

Bahkan, ada doktrin dalam ajaran Islam bahwa agama ini tidak diposisikan sebagai “agama yang paling benar”, tapi “satu-satunya agama yang benar”. Artinya, tema-tema akidah dan tauhid dalam Islam memang selalu meniadakan kebenaran agama-agama lain.

Tak ada yang salah dengan keyakinan seperti itu. Tapi, dalam konteks ceramah Abdul Somad, sebagai tokoh dengan cakupan pendengar yang luas dan selalu diamplifikasi lewat media sosial, kiranya kita dapat mengajukan pertanyaan: Apakah Abdul Somad mesti mengubah kesadaran ruang sosialnya? Apakah ia dan para dai lain, atau siapapun yang menyampaikan keyakinan, mesti menakar segala ucapan dengan kesadaran bahwa perkataan mereka akan tersebar luas dan menimbulkan kontroversi?

Baca juga artikel terkait ABDUL SOMAD atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight