Dr. Satrio, Bekas Gerilyawan yang Jadi Menkes Terakhir Sukarno

Mayjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Satrio. FOTO/tokohbanyuwangi.blogspot.com/rspadgs.net
Oleh: Petrik Matanasi - 12 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
“Dokter muda ini sering menyumbangkan tenaganya secara cuma-cuma, memeriksa dan mengobati anak-anak yatim yang sakit di rumah yatim Gang Sentiong.”
tirto.id - Jalan Prof. Dr. Satrio adalah salah satu ruas jalan penting di Jakarta yang melintasi kawasan bisnis Karet Sudirman hingga terowongan Casablanca. Satrio adalah mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia di akhir masa pemerintahan Orde Lama. Seperti dokter Terawan yang kini jadi Menteri Kesehatan, Satrio juga pernah berdinas sebagai dokter militer dan pernah memimpin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.

Pada era Revolusi Kemerdekaan, ia bergerilya di daerah Banten. Matia Madjiah menggambarkan perjuangan dokter Satrio dalam Kisah Seorang Dokter Gerilya dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten (1986) yang diterbitkan oleh Sinar Harapan. Lalu diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka dengan judul Dokter Gerilya (1997).

“Dokter Satrio bersama-sama dengan para mahasiswa Perguruan Tinggi Kedokteran, membentuk regu-regu PMI (Palang Merah Indonesia) gerak cepat yang bermarkas di Hotel Du Pavilion,” tulis Madjiah.

Satrio kemudian menjadi ketua PMI. Selain itu, ia juga bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menyandang pangkat mayor.

Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia? Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1988:292), pada 1945 Satrio menjadi dokter tentara pada Divisi I Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Banten. Pertengahan tahun berikutnya, ia yang usianya sudah 30 tahun diangkat menjadi Kepala Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) di Rangkasbitung.

Dalam masa darurat itu, Satrio menyempatkan diri mengunjungi orangtuanya di Banyuwangi. Ia juga mendatangi orangtua kekasihnya di Solo untuk melamar dan menikahi Isbandiah. Setelah urusan itu beres, ia kembali ke Banten.


Masa Pendudukan Jepang

Satrio adalah lulusan Geneeskundig Hoogeschool (sekolah tinggi kedokteran) Jakarta. Menurut Erilita dan kawan-kawan dalam Sang Upuleru: Peringatan 100 Tahun Prof. DR. GA Siwabessy (2014:9), Satrio lulus bersama Gerrit Augustinus Siwabessy, Azis Saleh, dan Subandrio pada 15 Desember 1942 ketika balatentara Jepang telah menduduki Indonesia.

Di bawah pendudukan Jepang, ia menjadi dosen anatomi. Selain itu, Satrio juga bekerja di rumah sakit yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di bagian kesehatan anak.

“Dokter muda ini sering menyumbangkan tenaganya secara cuma-cuma, memeriksa dan mengobati anak-anak yatim yang sakit di rumah yatim Gang Sentiong,” tulis Madjiah.

Ketika militer Jepang memerintahkan untuk menggunduli kepala kaum muda terpelajar, Satrio dipanggil Kempetai. Peristiwa bermula saat sebagian mahasiswa menolak perintah tersebut meski Abdulrachman Saleh dan sebagian dosen lainnya memberi contoh.

“Kempeitai berpakaian preman menjemput saya di rumah. Tentu saja semua adik saya gemetar dan cemas sebab [dalam sekapan] Kempetai berarti penderitaan. Saya dibawa dengan mobil sedan ke markasnya di Merdeka Barat,” tulis Satrio dalam Perjuangan dan pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio, 1916-1986 (1986:67).

Satrio diperiksa di ruangan dekat museum. Ia ditanyai dalam bahasa Indonesia dan keterangannya dicatat dalam bahasa Jepang ihwal gerakan penolakan para mahasiswa.

Direktur RSPAD dan Menteri Kesehatan

Setelah pengakuan kedaulatan, Satrio yang telah berpangkat letnan kolonel dipercaya mengambilalih rumah sakit militer di Kwini dari Kolonel Dokter van Bommel. Pada 26 Juli 1950 pagi, ia telah bersiap. Serah terima diadakan di bawah pohon beringin dalam komplek rumah sakit.

Ketika berada di bawah kepemimpinan van Bommel, rumah sakit tersebut mempunyai 60 dokter yang 10 di antaranya adalah dokter spesialis, dan nyaris semuanya berstatus militer. Hanya seorang dokter yang berstatus sipil, yakni Borgers, dokter ahli bedah.

Selain itu, terdapat 300 perawat yang semuanya perempuan Belanda. Belakangan, instalasi kesehatan militer warisan Belanda ini dikenal sebagai Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.





Sejak tahun 1950 hingga 1952, Satrio menjadi direktur rumah sakit tersebut. Sementara dalam dinas militer, ia pernah menjadi Wakil Kepala Kesehatan Angkatan Darat dari 1950 sampai 1956. Selepas itu, Satrio menjadi Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Darat ketika KSAD dijabat oleh Kolonel Abdul Haris Nasution.

Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang didukung oleh Angkatan Darat, Satrio diangkat menjadi Menteri Muda Kesehatan dalam Kabinet Kerja I pimpinan Djuanda.

Menteri Kesehatan sebelum dirinya adalah Azis Saleh yang juga perwira Angkatan Darat. Sampai tahun 1966, Satrio terus menerus menjabat Menteri Kesehatan dan pangkat militernya mencapai Mayor Jenderal.

Ketika tampuk kekuasaan nasional beralih ke tangan Soeharto, Satrio digantikan Siwabessy, kawannya semasa kuliah. Satrio pun kembali ke militer dan dijadikan Kepala kesehatan ABRI dari 1968 hingga 1970. Ia juga sempat ditempatkan di Badan Koordinasi Intelijen (Bakin) sebagai Kepala Koordinasi Politik Ekonomi dan Sosial (Poleksos).

Satrio yang lahir di Banyuwangi pada 21 Mei 1916, tutup usia ketika menyampaikan ceramah di Seskoad Bandung pada 5 Mei 1986. Ia lahir di Jawa Timur, wafat di Jawa Barat, dan dimakamkan di Jawa Tengah.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight