Dot untuk Bayi: Manfaat, Kerugian & Tips Cara Penggunaan yang Tepat

Oleh: Fatimah Mardiyah - 18 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Penggunaan dot untuk bayi ada manfaat dan kerugiannya. Orang tua perlu menerapkan cara yang tepat dalam penggunaan dot.
tirto.id - Dot atau biasa disebut dengan empeng sering dianggap sebagai salah satu alat yang harus dimiliki orang tua untuk bayinya. Berdasarkan sebuah penelitian yang dikutip dari laman resmi The Bump, sekitar 60 hingga 85 persen bayi memang menggunakan dot.

Dari data itu, terlihat bahwa dot cukup populer digunakan oleh para orang tua guna membantu si kecil saat meminum susu atau untuk menenangkannya.

Meskipun demikian, hingga kini masih ada perdebatan soal apakah penggunaan dot untuk bayi ada manfaatnya, atau malah berdampak buruk bagi si kecil.

Dikutip dari laman Mayo Clinic dan University of Rochester Medical Center, ada beberapa manfaat dan kerugian dari penggunaan dot untuk bayi. Sejumlah manfaat dan kerugian dari penggunaan dot untuk bayi adalah sebagai berikut.

Manfaat pemakaian dot untuk bayi

1. Menghindari Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

SIDS ialah kematian mendadak yang dapat terjadi pada anak berusia kurang satu tahun, yang tak dapat dijelaskan atau diketahui penyebabnya secara pasti. Berdasarkan penelitian yang dikutip dari laman Scientific American, penggunaan dot saat tidur mengurangi kemungkinan bayi mengalami SIDS, hingga 90 persen. Meski begitu, bagaimana dot bisa mengurangi kemungkinan SIDS belum diteliti lebih lanjut.

2. Membantu menenangkan anak

Dot memang terbukti dapat menenangkan bayi. Saat bayi menangis, banyak orang tua memakai dot sebagai sarana untuk membikin buah hatinya kembali tenang. Hal tersebut bisa terjadi karena pada dasarnya bayi memang senang mengisap. Tidak hanya sekadar menenangkan, dot pun dapat membuat si kecil tidur lebih mudah.

3. Mengurangi rasa sakit

Dengan mengisap dot, rasa sakit yang dialami oleh bayi bisa berkurang. Hal tersebut dapat terjadi karena fokus bayi berada pada dotnya sehingga rasa sakit bagian badan lainnya tak terlalu terasa. Dengan kata lain, dot bisa memicu distraksi fokus si kecil pada rasa sakit.

4. Lebih mudah dihentikan

Ada saatnya bayi harus berhenti menggunakan dot, yaitu pada umur 1-2 tahun. Jika bayi terbiasa memakai dot, orang tua akan lebih mudah mencari cara membuat anaknya berhenti mengisapnya.

Berbeda jika bayi dibiasakan mengisap jempol sebagai pengganti dot. Kebiasaan itu kemungkinan akan lebih sulit untuk dihilangkan karena jempol selalu berada pada sisi bayi. Sedangkan dot bisa dibuang jika sudah tak digunakan.

Kerugian akibat pemakain dot untuk bayi

1. Ketergantungan

Jika bayi dibiasakan mengisap dot selama tidur, mereka akan cenderung lebih mudah menangis pada tengah malam saat dot tersebut jatuh dari mulutnya. Selain itu, apabila dot diberikan terlalu lama dan tanpa henti, akan sangat susah bagi orang tua untuk menghentikan penggunaannya di saat usia tertentu. Hal tersebut jelas tidak baik bagi anak.

2. Mengganggu kegiatan menyusui

Memberikan dot kepada bayi sebelum ia terbiasa dengan kegiatan menyusui dapat menjadi suatu masalah. Mengisap payudara berbeda dengan mengisap dot dan beberapa bayi sensitif terhadap perbedaan tersebut. Jika dari awal terbiasa menggunakan dot, bayi cenderung sulit menerima perbedaan saat mengisap payudara ibunya.

Berdasarkan sebuah penelitian, terdapat hubungan antara penggunaan dot dengan frekuensi menyusui yang lebih jarang atau berakhirnya menyusui setelah hanya beberapa bulan. Walaupun begitu, hal tersebut tidak dapat dipastikan akan terjadi pada setiap bayi.

3. Memengaruhi kesehatan gigi

Kesehatan gigi bayi tidak akan terganggu jika penggunaan dot hanya dilakukan hingga umur 1-2 tahun. Namun, jika terlalu lama, penggunaan dot dapat berefek buru bagi gigi anak, seperti akan tumbuh dengan formasi berantakan, gigi berlubang, atau posisi tumbuhnya yang tidak benar.

4. Infeksi telinga

Menurut sebuah penelitian, peluang infeksi telinga pada bayi yang sering menggunakan dot hampir dua kali lebih besar daripada mereka yang tidak. Namun, pada umumnya, tingkat infeksi telinga paling rendah terjadi pada anak sejak lahir hingga usia 6 bulan.

Cara Pengunaan Dot untuk Bayi yang Tepat

Berdasarkan penjelasan di atas, penggunaan dot memang memiliki beragam manfaat, tetapi juga ada dampak negatifnya tersendiri. Namun, pilihan tetap ada di tangan orang tua.

Jika Anda tetap ingin memberikan dot pada bayi, terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir dampak negatifnya.

Dikutip dari laman The National Center for Biotechnology Information (NCBI) dan WebMD, berikut adalah panduan bagi orang tua yang ingin memberikan dot pada anak:

  • Jangan biasakan penggunaan dot pada anak jika mereka belum terbiasa dengan menyusui. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hal tersebut dapat membuat anak lebih memilih dot dibandingkan dengan susu dari sang ibu.
  • Gunakan merek dot yang bebas dari bisphenol-A (BPA). Berdasarkan penelitian, terdapat kekhawatiran terkait pengaruh zat tersebut pada bayi atau anak.
  • Carilah ukuran dot yang sesuai dengan mulut anak Anda. Karena, tidak semua ukuran dan bentuk dot cocok maupun sesuai dengan mereka.
  • Pilihlah dot yang memiliki lubang ventilasi di lapisannya agar udara dapat masuk.
  • Jangan kaitkan dot dengan tali dan mengalungkannya pada anak. Terkadang, orang tua melakukannya agar dot tidak mudah jatuh ke lantai sehingga menghindari kotor. Namun, tali tersebut dapat terlilit pada leher anak Anda dan membahayakannya.
  • Berikan dot apa adanya tanpa dicelupkan ke perasa apa pun, seperti gula, madu, atau yang lainnya. Jika dilakukan, gigi anak dapat rusak.
  • Pastikan dot selalu steril. Jika jatuh ke lantai, sterilkan kembali dengan menaruhnya di dalam air panas selama 5 menit. Agar selalu steril, jangan gunakan satu dot yang sama pada anak yang berbeda. Pastikan bahwa setiap anak memiliki dotnya masing-masing. Pertukaran dot dapat memudahkan penyebaran kuman.
  • Jangan berikan dot sebagai solusi atas segala ketidaknyamanan pada anak Anda. Periksa terlebih dahulu apakah mereka lapar, sakit, bosan, atau lainnya. Jika penyebabnya sudah ditemukan, coba lakukan solusi yang sesuai. Berikanlah dot sebagai pilihan terakhir dari segala solusi yang memungkinkan. Hal tersebut perlu diperhatikan agar menghindari ketergantungan dot pada anak.
  • Selalu perhatikan kondisi dot. Jika sudah rapuh, gantilah dengan yang baru. Dot yang rapuh dapat membahayakan anak jika mereka menggigitnya dan potongannya tertelan.
  • Mulai hentikan penggunaan dot jika anak telah menginjak usia 1 hingga 2 tahun. Hal yang satu ini memang cukup sulit untuk dilakukan, mengingat anak sudah terbiasa menggunakan dot.


Tips Menghentikan Penggunaan Dot pada Bayi

Ada beberapa tips yang dapat diterapkan para oran tua agar bisa menghentikan penggunaan dot oleh bayi, dengan lebih mudah. Ada 4 langkah yang bisa dilakukan oleh para orang tua.

Pertama, gunakan cara yang lembut. Jangan memakai paksaan dalam menghentikan penggunaan dot pada anak. Mereka akan lebih mudah menerima jika diberi penjelasan dengan cara dan bahasa yang lembut. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah memahaminya dan melepaskannya.

Kedua, puji anak jika mereka berhasil lepas dari penggunaan dot. Hal tersebut tidaklah mudah bagi mereka. Oleh karena itu, berikanlah sikap yang menunjukkan bahwa Anda bangga dengan apa yang anak Anda lakukan.

Ketiga, lakukanlah secara perlahan. Menghentikan penggunaan dot pada anak dapat lebih efektif jika dilakukannya secara perlahan, tidak tiba-tiba atau mendadak. Sebab, anak perlu waktu untuk membiasakan dirinya tanpa dot. Oleh karena itu, hilangkan kebiasaan mengisap dot pada anak secara bertahap. Misalnya, bisa dimulai dengan mengurangi durasi penggunaan dot pada anak setiap harinya.

Keempat, Konsisten dengan keputusan. Walaupun akan terasa berat, Anda harus mampu bertahan pada keputusan Anda. Karena, ini semua demi kebaikan anak Anda. Jika anak Anda menangis atau marah, biarkanlah dan temani mereka, jangan biarkan mereka mendapatkan kembali dot tersebut.


Baca juga artikel terkait BAYI atau tulisan menarik lainnya Fatimah Mardiyah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Fatimah Mardiyah
Penulis: Fatimah Mardiyah
Editor: Addi M Idhom
DarkLight